Marandus, Sang Pemahat Bukit Barisan

Marandus, Sang Pemahat Bukit Barisan

1043
0
Sumber Foto: tamaneden100
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Bukit barisan berdiri tegak beriringan menggaris Pulau Sumatera, tapi siapa sangka di baliknya, ia menyimpan sejuta pesona, salah satunya Taman Eden 100. Berada dipelukan bukit barisan, taman ini menjadi sebuah harta karun yang tak ternilai harganya.

Taman Eden 100 menjelma di sebuah desa bernama Lumban Rang yang terletak di Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera utara. Taman yang terletak 1100-1750 meter di atas permukaan laut ini, dikelola oleh seorang pria batak bernama Marandus Sirait. Pria kurus dan beruban ini seakan menjadi Leonardo Davinci. Jika Leonardo menciptakan mahakarya Monalisa, maka Marandus menciptakan salah satu taman bak surga di Indonesia.

Marandus Sirait yang biasa disapa Marandus, berhasil menyulap 45 hektar lahan tak terurus menjadi sebuah tempat wisata yang per tahunnya dikunjungi puluhan ribu  wisatawan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Taman ini berjarak kira-kira 192 kilo meter dari kota Medan dan sering disamakan dengan Amazon.

Taman Eden adalah hutan lebat dengan ratusan jenis pepohonan. Ada pula air terjun yang bertingkat, gua kelelawar, hingga rumah tarzan. Pohon Ara dari Israel dan Butter Nut dari Amazon juga tumbuh subur di taman ini.  Suara air terjun dan burung akan menemani pengunjung selama perjalanan lintas alam.

Selain itu, Taman Eden juga memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk menanam pohon dengan memberikan tanda nama yang disematkan pada pohon. Semuanya semakin lengkap dengan suasana dingin yang bahkan siang hari suhunya hanya 20 derajat celsius dan jalur lintasan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Tak heran, kini Taman Eden 100 telah menjadi alternatif wisata selain Danau Toba. Selain untuk wisata keluarga, pecinta alam, dan peneliti juga ramai mengunjungi taman ini. Namun, keberhasilan Marandus menyulap lahan ini bukan seperti cara Limbad atau Deddy Cobuzier. Marandus memahat taman ini sedikit-demi sedikit, dengan tenaga sendiri selama hampir 16 tahun.

Pada awalnya, Marandus yang merupakan anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini adalah seorang guru musik di Medan selama lebih dari 10 tahun, meskipun ia tak lulus SMA. Namun, dengan adanya program Martabe (Marsipature Hutana Be) dan disebutnya Tapanuli (sebelum Toba Samosir) sebagai kota kemiskinan, membuat Marandus sebagai putra daerah bertekad untuk pulang dan ingin berbuat sesuatu disana.

Selama bermain musik, Marandus yang telah melancong ke berbagai kota mengamati bahwa masyarakat kota senang pulang ke daerah hanya untuk menikmati alam. Melihat potensi di tanah milik keluarganya, tahun 1998 ia memutuskan untuk mengelolanya dan bertekad membuat sebuah taman yang ia beri nama “Taman Eden 100”. Taman yang di dalam visinya manusia, hewan, dan tumbuhan dapat hidup berdampingan dan rukun serta di taman itu ada ratusan tumbuhan yang menyiangi.

Ibunya tak merestui, ayahnya pun diplomatis, “terserah,” katanya. Reaksi inilah yang menyambutnya ketika ia memutuskan untuk mengelola hutan tak terurus itu. Selama berbulan-bulan ia keluar masuk hutan, mencari tahu batas kepemilikan tanah dan kondisi lahan. Masyarakat bergunjing dan orangtuanya semakin pusing. Biaya yang dikeluarkan pun tak main-main.

Saat ke hutan ia harus membawa orang-orang yang paham betul akan kondisi disana yang kemudian digaji dan diberi makan. Dengan kondisi tak punya pekerjaan, akhirnya Marandus memutuskan untuk menjual semua alat musiknya. Pada 2001 ia sepenuhnya berfokus untuk membangun Taman Eden.

Orang tua, khususnya ibunya menganggap apa yang dilakukannya adalah hal yang tak bermanfaat. Kecemasan orang tuanya akan masa depan Marandus ternyata dikalahkan oleh mabuk cinta Marandus kepada Taman Eden. Ia bahkan pindah ke sebuah kandang kerbau, membangun rumah seadanya untuk dijadikan tempat tinggal daripada selalu bersitegang dengan sang ibu.

Selama hampir tujuh tahun berjuang sendiri, hampir semua yang diterimanya adalah reaksi negatif dari masyarakat. Pelaporan penggunaan lahan hingga perlakuan tak enak dari pemuda setempat tak habis mendera.

Saat Taman Eden dibuka, ia juga pernah diperbincangkan karena dikira menganut aliran sesat, padahal hanya kegiatan retreat yang dilakukan wisatawan dari luar daerah. Maklum, di desa bentuk kegiatan retreat belum dikenal kala itu.  Setelah pendeta menjelaskan di mimbar gereja, masyarakat baru mengerti.

***
Hidup bagaikan roda pedati. Apa yang dianggap tak bermanfaat oleh masyarakat ternyata berbuah manis untuk Marandus. Pada tahun 2005 ia menjadi salah satu nominasi peraih kalpataru. “Saya sangat bersyukur atas peristiwa itu. Saat itu saya dalam kondisi sangat depresi karena banyaknya kendala.” Ungkapnya. Marandus langsung terbang ke Istana Bogor untuk menerima Kalpataru saat diumumkan menjadi pemenang tahun itu.

Ia terpilih menjadi perintis karena melestarikan lingkungan hidup dengan membangun sesuatu yang baru. Betapa leganya ketika sampai di kampung dengan memboyong piala, masyarakat menyambut dengan reaksi yang positif. Bahkan anak SD disuruh berkumpul untuk menyambut pahlawan baru desa itu.

marandus-sosok
Sumber Foto: Medan Bisnis

Marandus dengan mahkota barunya berhasil menarik perhatian pemerintah daerah, khususnya bidang pariwisata. Sebagai bentuk dukungan mereka memberikan bantuan pembangunan kamar mandi, mengaspal jalan, dan rumah bibit. Namun, menurut Marandus pemberian mereka masih terkesan formalitas karena kualitas bangunannya yang mudah rusak. ”Tapi itu juga kami syukuri. Manfaatkan sajalah.” Ungkapnya.

Taman Eden 100 dengan godokan Marandus, berhasil menorehkan banyak penghargaan. Diantaranya, pada 2010, ia diundang ke istana untuk mengikuti upacara HUT RI dan diberikan penghargaan Wana Lestari sebagai kader konservasi alam terbaik oleh menteri lingkungan hidup. Berselang dua bulan kemudian, ia juga diberikan Danau Toba Award oleh gubernur Sumatera Utara saat itu.

Hal itu membuatnya semakin bersemangat dan menggagas berbagai kegiatan termasuk konservasi Anggrek, khususnya Anggrek Toba yang hampir punah. Taman Eden 100 adalah satu-satunya tempat konservasi anggrek di Sumatera Utara.

Selain itu, di Taman Eden sendiri diadakan banyak kegiatan yang bersentuhan langsung kepada masyarakat. Ada penyuluhan ke sekolah-sekolah, lomba melukis, pramuka, mapala, kelompok tani, pertunjukan budaya, natal bernuansa lingkungan hidup, pameran, lomba lintas alam, hingga pembibittan ke masyarakat.

Dua tahun berlalu, dengan berbagai penghargaan Marandus bukannya duduk tenang, malah ia semakin membuka mata akan kondisi sekitar, termasuk kawasan hutan Danau Toba. Penebangan liar terjadi hampir di setiap sudut, membabat habis semua pohon yang dulu tegak menjulang.

Berkaca dari situasi itu, Marandus berpikir kalau pemerintah hanya memandang masalah lingkungan hidup sebelah mata. Penghargaan hanya sebatas penghargaan saja, tak ada dukungan real.  Kekhawatiran Marandus juga meningkat karena kawasan Taman Eden berbatasan langsung dengan hutan pemerintah yang ‘takutnya’ ikut digunduli oknum tak bertanggung jawab.

Memiliki  kekhawatiran yang sama, akhirnya pada September 2013, Marandus dan dua orang temannya yang berasal dari Dairi memutuskan untuk mengembalikan penghargaan yang diberikan gubernur kepada mereka dan berniat mengembalikan kalpataru jika pemerintah masih memandang enteng masalah penebangan liar di daerah Danau Toba.

Awalnya, mereka mengunjungi gubernur, kemudian ke istana presiden untuk memberikan penghargaan lainnya. “Pemerintah seharusnya konsisten,” ungkapnya.

Mendengar kejadian itu, mereka dipanggil menghadap Megawati Soekarno Putri dan dimintai keterangan mengapa mereka sampai mengembalikan penghargaan tersebut kepada pemerintah. Setelah diceritakan, Megawati bahkan menitikkan air mata.

Untuk membahas lebih lanjut, mereka diundang rapat bersama dengan Komisi VII DPR RI di gedung DPR untuk mendengar keluhan Marandus dan kedua temannya tentang kondisi lingkungan Danau Toba. “Kami memang mempermalukan pemerintah. Kami memberikan teraphy shock kepada mereka.”

Sejak 2001 Marandus hanya berfokus pada pengembangan dan pemeliharaan Taman Eden 100. Ia tak memiliki pekerjaan lain, bahkan setelah ia menikah tahun 2006. Dimata adiknya, Muchlas, Marandus adalah seorang pekerja yang bercita-cita. Menemani Marandus mengelola Taman Eden 100 juga memberikan pengalaman positif baginya.

Marandus yang berdedikasi penuh untuk Taman Eden 100 sampai kini masih mabuk cinta kepada taman surga itu. Ia dengan tekad dan ketulusan memahat bukit barisan menjadi taman yang tak hanya menjadi tempat pariwisata, tetapi juga sumber air dan paru-paru udara di daerah itu.

Data Narasumber:
Nama: Marandus Sirait (Pendiri Taman Ede100)
Alamat: Lumban Rang, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir, Sumatera Utara
No. Hp: 08126348192