Kita, Pahlawan Bumi!

Kita, Pahlawan Bumi!

682
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Berapa lama kita menghabiskan waktu mengenyam pendidikan sejak lahir? Saya pribadi menghabiskan 1 tahun di TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, dan 4 tahun di bangku kuliah. Total ada 17 tahun yang saya habiskan sampai saya meraih gelar sarjana.

Kalau bicara sekarang, anak-anak pada masa kini bahkan sudah mengenyam pendidikan sejak usia sangat muda. Itu artinya mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama dari saya untuk meraih gelar sarjana mereka. Dari kesemua waktu tersebut, pendidikan mempunyai peran penting bagi kehidupan manusia, sangat penting malah.

Dari keseluruhan waktu yang kita habiskan di lembaga pendidikan formal, salah satu tujuan utamanya adalah agar kita dapat menjadi pahlawan-pahlawan bagi bumi. Berkarakter baik sekaligus berintelektual. Berharap, bumi yang sudah carut-marut ini dapat menjadi lebih baik. Lantas apakah jumlah digit waktu menempuh pendidikan tersebut sudah dapat mewujudkan mimpi para leluhur kita? Saya pribadi belum sanggup menjawab pertanyaan itu.

Nyatanya, dengan semakin majunya perkembangan teknologi, masalah yang dihadiahkan pada bumi pun semakin beragam. Jika bumi kita yang sudah tua renta ini dapat bersuara, mungkin raungannya sudah sampai ke Pluto. Air matanya sudah penuh membanjiri galaksi kita. Sebagian penyumbang air mata itu adalah binatang yang tempat hidupnya kita usik dan binatang yang kita exploitasi hanya untuk sejumlah nominal pemenuh kebutuhan hidup kita.

Kasus-kasus perdagangan satwa dilindungi sudah berlangsung lama di negeri kita. Seperti yang dilansir metro-online.com, dari Januari hingga September 2016 ada 72 kasus kejahatan terhadap satwa langka di Indonesia.

Jumlahnya bahkan memiliki peluang besar untuk terus meroket melampui angka kejahatan di tahun sebelumnya (2015). Jumlah kasus yang sesungguhnya terjadi di lapangan pasti jauh lebih besar lagi. Di mana peran lembaga pendidikan untuk menciptakan pahlawan-pahlawan bumi?

Di sekolah tempat saya mengajar, pendidikan karakter adalah hal yang penting dan menjadi agenda khusus untuk melengkapi pendidikan intelektual. Pembelajaran tematik harus dapat berpadu dengan nilai-nilai karakter. Materi yang berhubungan dengan kelestarian hewan pun menjadi salah satu materi pembelajaran di sekolah yang hingga dibahas dalam 2 tema.

Tak kenal, maka tak sayang. Bagaimana mungkin kita menuntut mereka untuk dapat melestarikan binatang jika mereka tidak pernah menyentuh dan berinteraksi langsung dengan binatang.

Mungkin mereka memang pernah berinteraksi dengan hewan, di gadget mereka. Bagaimana mereka bisa memiliki kesadaran menjaga bumi, jika mereka tidak mencintai apa yang ada di dalamnya? Tugas kitalah memperkenalkan mereka pada lingkungan sekitar sehingga menumbuhkan rasa cinta mereka pada satwa yang ada.

Bagi saya dan mungkin mereka yang tumbuh dan besar di zaman saya, ayam adalah hewan yang sangat biasa. Orang tua saya bahkan memelihara ayam di pekarangan rumah kami. Penduduk kala itu juga biasa mengkonsumsi ayam.

Tidak ada yang spesial dengan ayam jika dibandingkan dengan harimau, gajah, atau badak bercula satu. Dan sampai saya mendapatkan bahwa hampir ke-94 peserta didik yang saya ajar di kelas 3 SD tercengang dan berteriak kegirangan ketika saya membawa 9 ekor anak ayam dan 1 ekor induk ayam ke dalam kelas sebagai alat peraga pembelajaran. Jujur, saya sangat terkejut. Ya, mereka sukses membuat saya terkejut.

Mereka berebut minta dizinkan menyentuh dan melihat ayam-ayam tersebut. Ada peserta didik yang bahkan menyentuhnya beberapa kali. Tidak sedikit juga yang ketakutan karena ini kali pertama mereka melihat ayam hidup secara langsung dari jarak dekat.

pendidikan2

Pembelajaran tematik itu pun berlanjut dengan jadwal memberi makan dan minum ayam-ayam tersebut untuk beberapa lama. Tujuannya adalah melatih mereka memiliki keterampilan untuk merawat dan menumbuhkan kecintaan mereka terhadap satwa. Dan kembali, ke-94 peserta didik saya mengaku bahwa itu adalah pengalaman pertama mereka. Saya tidak tahu entah kapan lagi mereka bisa memiliki kesempatan untuk dapat mengenal lebih dalam satwa sederhana yang satu ini.

Dari contoh pengalaman saya tersebut, sedikit banyak kita dapat menarik kesimpulan, bahwa pendidikan karakter bagi generasi penerus kita haruslah lebih menitikberatkan pada pembiasaan bukan hanya sekedar teori semata.

Teori hanya mampu membekas dalam ingatan mereka, tapi pengalaman mampu mematri hati mereka. Mungkin jika porsi pendidikan karakter seperti ini dapat dikerjakan dengan apik di lapangan, kita tidak perlu khawatir tentang kelestarian satwa di bumi.

Pada dasarnya, sama seperti sekolah saya, semua lembaga pendidikan pasti sudah menyediakan porsi yang cukup bagi pendidikan karakter dapat tumbuh dengan subur terintegrasi dengan pembelajarandi kelas. Salah satu tujuan pendidikan karakter ini adalah agar semua peserta didiknya dapat berwelas asih pada makhluk hidup yang lain – sesama, hewan, dan tumbuhan.

Namun, jika hanya mengharapkan peran dari lembaga pendidikan untuk menyemai dan merawat ‘benih’ tersebut, hasilnya pasti tidak akan maksimal. Lembaga pendidikan perlu kerja sama dan peran keluarga untuk memberikan kondisi yang ideal bagi generasi penerus kita dapat berteman dengan alam. Tugas kitalah untuk memperlengkapi mereka menjadi pahlawan-pahlawan bumi yang kita dan leluhur kita impikan, untuk bumi yang lebih baik.

SHARE
Previous articleMenolak Menjadi Pelaku Eksploitasi Satwa
Next articleBudaya dan Hak Hidup Binatang
Priska Apriani
Lulusan Sistem Informasi salah satu institusi swasta Bandung ini getol memburu berita-berita hangat mengenai pemerintahan dan isu-isu yang beredar di tanah air. Menyukai jurnalistik semenjak SD dan pernah menjadi wartawan lepas di salah satu surat kabar lokal di Bangka Belitung ketika duduk di bangku SMA. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengabdi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bandung