Kepunahan Hewan: Kelalaian Manusia versus Seleksi Alam

Kepunahan Hewan: Kelalaian Manusia versus Seleksi Alam

494
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated.”  ― Mahatma Gandhi

Sampai saat ini, Bumi adalah satu-satunya planet yang menjadi tempat ideal bagi tempat hidup mahluk hidup. Ada manusia, hewan, dan tumbuhan yang hidup saling berdampingan. Khusus edisi ini, FOKAL akan membahas hubungan ketiganya, tapi dengan lebih mempertimbangkan bagaimana kelangsungan hidup hewan atau binatang.

Fokus utama perihal bagaimana sebenarnya kondisi ideal bagi kehidupan hewan, apa masalah hingga kondisi tersebut masih belum bisa terwujud, dan bagaimana cara agar kondisi ideal itu bisa terwujud.

Jika mengkaji hubungan manusia dan hewan, dalam ilmu Biologi, ada istilah seleksi alam, dimana mahluk hidup yang dapat beradaptasi, maka akan tetap bertahan hidup sedangkan yang tidak akan mati atau musnah. Dengan mempertimbangkan seleksi alam, maka kepunahan atau kemusnahan hewan bukanlah sesuatu yang besar, melainkan hal yang natural. Mengesampingkan kenyataan bahwa banyak kondisi yang merugikan bagi hewan yang disebabkan oleh manusia.

Namun, tak sesederhana itu. Jika ditelisik, jelas sekali apa yang terjadi di Bumi ini tak lain mengikuti bagaimana arus perubahan manusia. Perubahan-perubahan yang cepatnya bukan main. Perubahan yang terjadi akibat pertumbuhan manusia yang melejit bak deret ukur, berlipat ganda terus menerus. Juga bagaimana perkembangan teknologi dan pemuasan kebutuhan yang tiada habisnya.

Tak ayal, perubahan-perubahan itu bagaimanapun merugikan hewan. Mungkin jika ada pembahasan mengenai kondisi kehidupan hewan, yang pertama kali terbayangkan adalah hewan liar yang hampir punah atau hewan yang diperdagangkan secara ilegal. Namun, bukan hanya itu. Kehidupan hewan yang seakan berada dalam lindungan dan perawatan pun termasuk di dalamnya.

Pada Mei 2016 lalu, Gajah Yani dari kebun binatang Bandung mati. Banyak pihak yang menyayangkan, padahal Gajah Sumatera tersebut sudah sakit keras selama seminggu, tapi dibiarkan saja oleh petugas. Jika pernah ke kebun binatang tersebut, maka akan sangat jelas bagaimana perawatan yang hewan-hewan tersebut dapatkan. Namun, berita tersebut kemudian hilang bagai angin lalu.

Di sisi lain, ada pula hewan buas seperti harimau yang diadopsi menjadi binatang peliharaan yang seharusnya hidup buas di alam liar. Tentu yang tak asing lagi, bagaimana hewan-hewan liar yang berguna bagian tubuhnya kemudian di buru dan dieksploitasi tak berperasaan.

Banyak contoh lain yang bukan isu baru lagi. Semua itu menggambarkan bagaimana dominannya posisi manusia terhadap keberlangsungan hidup hewan. Sering kali, apa yang dilakukan manusia menjadi bumerang bagi kehidupan hewan yang bahkan menyebabkan kepunahan.

Jika punya waktu luang untuk berlayar di internet, banyak sekali komunitas bahkan perorangan yang sangat concern akan pelestarian hewan. Jika berkunjung ke mall atau hanya berjalan kaki tak jarang ditemui orang-orang yang memberikan selebaran atau sekadar meminta waktu untuk menjelaskan bagaimana urgensi pelestarian hewan. Disamping benar tidaknya tujuan dan alasan mereka. Namun, ini menunjukkan bahwa ada manusia yang peduli.

Disamping itu, pemerintah juga membuat peraturan yang jelas dalam undang-Undang perihal bagaimana seharusnya hewan diperlakukan. Merujuk pada perkataan Mahatma Gandhi, tepat rasanya bagaimana sebuah negara dinilai dari perlakuannya terhadap hewan. Penjelasan sederhana, bagaimana sebuah negara dapat menghargai kekayaan alam mereka dengan memperlakukannya sebaik mungkin.

Di Indonesia memang ada lembaga-lembaga yang bergerak dalam pelestarian hewan. Mereka secara aktif dan mandiri berusaha mengampanyekan kepedulian masyarakat akan kondisi hewan di Indonesia yang hidupnya jauh dari kata layak. Tak hanya mendirikan lembaga, banyak diantaranya yang bahkan langsung terjun dan hidup di alam liar untuk berkontribusi langsung.

Lucunya, dalam beberapa sisi, pelestarian ini sangat dekat dengan kebudayaan yang melekat. Sebut saja kebiasaan memakan anjing. Bagi sebagian kebudayaan, memakan daging anjing adalah hal yang lumrah. Namun, dari segi pemerhati hal ini adalah sebuah kesalahan. Namun, porsi yang paling besar ada pada rasa ketidakpedulian.

Berbagai kondisi memang masih tumpang tindih. Namun, yang paling utama adalah bagaimana kepedulian dan kesadaran masih belum berakar. Bisa dibayangkan hutan yang dulunya menjadi tempat tinggal hewan-hewan kini sudah banyak yang berubah. Ada yang menjadi lahan pertanian bahkan menjadi tempat perbelanjaan atau industri. Lalu, bagaimana dengan hewan? Apakah mereka sedang terkena seleksi alam atau justru sedang dibunuh perlahan oleh manusia?

Ada kutipan menarik yang menggelitik, bagaimana kondisi logika manusia yang terkadang menggunakan standar ganda ketika membicarakan hewan.

I ask people why they have deer heads on their walls. They always say because it’s such a beautiful animal. There you go. I think my mother is attractive, but I have photographs of her.”  ― Ellen DeGeneres