Cerdas Mengubah Tren

Cerdas Mengubah Tren

335
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Tren dunia fashion dapat dikatakan mengalami peningkatan yang tajam dari beberapa dekade terakhir. Hal ini didukung oleh berbagai sisi, baik dari sisi designer yang semakin kreatif menciptakan selera pasar, tingkat perekonomian yang membaik, hingga strategi pemasaran yang kian jitu.

Saat ini dunia fashion sangat digandrungi dengan banyaknya produk-produk yang menggunakan bahan dasar dari kulit berbagai jenis hewan (animal skin). Bahkan beberapa brand terkenal menggunakan kulit hewan langka dari berbagai negara. Biasanya, produk tersebut dibandrol dengan harga yang sangat tinggi dan hanya ditujukan bagi mereka yang termasuk dalam kelas atas.

Dibandrol dengan harga tinggi ternyata tak mengurangi minat konsumen untuk memiliki berbagai produk tersebut. Bahkan dari tahun ke tahun permintaan konsumen terhadap produk-produk yang menggunakan bahan dasar kulit hewan semakin bertambah. Hal ini tentunya membawa dampak untung dan rugi.

Di satu sisi, perekonomian jelas terbantu dengan perkembangan dunia fashion yang kian cepat. Sebagaimana yang tercatat bahwa dunia fashion yang termasuk dalam industri kreatif memberikan sumbangan sebesar 30% baik dari segi pemasukan maupun pembangunan lapangan kerja. Hal ini tentu tidak dapat disia-siakan begitu saja. Namun, di sisi lain perkembangan dunia fashion membawa ketakutan tersendiri terutama bagi produk-produk berbahan dasar kulit hewan langka.

Terciptanya selera pasar atas produk berbahan dasar kulit hewan langka tentunya akan sebanding dengan meningkatnya kebutuhan akan kulit hewan langka tersebut. Dengan demikian, hewan langka semakin diburu demi mendapatkan kulit yang biasanya  dibandrol dengan harga selangit.

Saat ini ada begitu banyak pemburu liar yang menggunakan kesempatan ini demi mengejar keuntungan pribadi. Bahkan pasar untuk hewan langka yang telah diburu kian marak beredar. Belum lama terungkap media online turut dijadikan wadah untuk memperjuabelikan hewan langka hasil buruan tersebut. Bahkan hutan di Indonesia dijadikan arena untuk berburu hewan langka dan diperdagangkan hingga manca negara.

Begitu banyak hewan langka yang hampir punah akibat pemburu liar yang terus menerus mengganggu keberlangsungan hidup hewan tersebut. Hal ini tentunya berdampak buruk bagi keseimbangan ekosistem. Contohnya saja, 18 Oktober 2016 lalu Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (BPPH) Wilayah II Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berhasil menyita dua kulit harimau Sumatera di Provinsi Jambi.

Miris sekali ketika harimau Sumatera yang jumlahnya terus berkurang masih diburu untuk dijadikan bahan dasar berbagai produk dan dibandrol ratusan juta hingga milyaran. Perekonomian memang cukup terbantu dengan adanya industri kreatif terkhusus dalam dunia fashion, namun ketika hewan langka masih diburu untuk pengembangannya masihkah kita berdiam dan tak berpikir untuk solusinya?

Sebenarnya isu penggunaan animal skin untuk bahan dasar berbagai macam produk bukanlah isu yang baru. Komunitas pecinta hewan sangat sering mengangkat hal ini ke media untuk diperhatikan lebih lanjut. Banyak yang mendengar bukan berarti banyak yang peduli. Bahkan banyak yang menganggap ini hanyalah permasalahan kecil yang solusinya bisa dipikirkan dari nanti ke nanti. Hingga pada akhirnya, hewan langka hilang tak berbekas, ekosistem tidak seimbang dan kerusakan merambat ke banyak aspek lain.

Sudah seharusnya isu yang sering kita anggap tidak seksi ini dipikirkan solusinya. Beberapa cara sudah ditawarkan oleh designer untuk menekan penggunaan animal skin sebagai bahan dasar berbagai produk di dunia fashion salah satunya dengan cara animal print. Cara ini sama sekali tidak menggunakan kulit hewan sebagai bahan dasar melainkan hanya mengadopsi corak dari kulit hewan tersebut.

Untuk penggunaan bahannya cukup menggunakan bahan-bahan sintetis dengan kualitas super atau diganti dengan kain. Hasilnya tidak mengecewakan bahkan pecinta fashion bisa tetap tampil keren tanpa membunuh hewan.

Penggunaan bahan-bahan alternatif seperti ini sangat disarankan untuk bisa menekan bahkan menghilangkan penggunaan animal skin sebagai tren fashion secara perlahan. Jika solusi ini bisa menekan angka tersebut maka perekonomian akan tetap stabil dan hewan langka tidak akan punah yang berimbas pada keberlangsungan ekosistem terjaga.

Jika diantara pembaca adalah pecinta fashion sejati, maka jadilah pecinta fashion yang cerdas. Berpikir jangka panjang untuk banyak aspek bukan menjadi perusak demi kerennya gaya hidup.

SHARE
Previous articleBudaya dan Hak Hidup Binatang
Next articleMarandus, Sang Pemahat Bukit Barisan
Yanthi Yosefa Tobing
Gadis kelahiran Sidikalang, 17 Januari 1994. Saat ini sedang menempuh perkuliahan di Universitas Padjadjaran Bandung, Fakultas Hukum 2012, Program Kekhususan Hukum Pidana.