Budaya dan Hak Hidup Binatang

Budaya dan Hak Hidup Binatang

391
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Makanan adalah fenomena kebudayaan. Bagaimana tidak, saat makanan adalah satu esensi yang tak bisa lekang dari kehidupan manusia. Dari cirinya saja, manusia sebagai mahluk hidup harus makan untuk bisa tetap bertahan hidup dan optimal dalam menjalankan kehidupannya.

Manusia pada awalnya merupakan mahluk yang nomaden yang berpindah tempat dan hanya mengambil makanan dari alam saja. Hal ini tentunya sejalan dengan kondisi manusia saat itu yang masih sedikit dan sumber daya masih sangat melimpah.

Peradaban manusia kemudian berkembang dari nomaden menjadi menetap dan bercocok tanam. Pertumbuhan  manusia semakin meningkat dan kondisi alam semakin sedikit untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Peradaban kian berkembang dan seiring berjalannya waktu, teknologi yang dihasilkan pun semakin maju. Banyak kondisi zaman dulu yang menjadi masalah, tapi kini dengan mudah diatasi. Namun, di sisi lain perkembangan zaman tak selalu membuat kebudayaan manusia berubah sepenuhnya, meskipun dengan adanya asimilasi, afiltrasi, diferensiasi dan cara perubahan budaya lainnya, ada saja perubahan yang selalu melekat dalam kehidupan manusia yang berwujud dalam kearifan lokal.

Kearifan lokal menurut UU No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup BAB I Pasal 1 butir 30 adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Kearifan lokal adalah pembentuk sebuah identitas kebudayaan.

Kebudayaan sendiri berasal dari kata budaya, berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi. Kata ini sering diucapkan dalam bahasa Indonesia budi, yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Jadi, apa yang menjadi kearifan lokal masyarakat kini merupakan pemadatan dari inti kebudayaan masyarakat masa lalu yang esensinya masih sangat penting hingga hari ini.

Dalam kebudayaan tersebut, makanan membentuk kearifan lokal yang jika ditelisik masih berserakan dan melekat erat dalam masyarakat. Karena konsumsi masyarakat berkaitan dengan dimana makan, pola memakan, jenis makanan, pemilihan makanan merupakan fenomena kebudayaan.

Dalam pengkategorian ini, ada tiga jenis inti dari hubungan makanan dan kebudayaan, diantaranya bagaimana memilih makanan, bagaimana mengolah makanan, dan bagaimana memakan makanannya.

***
Dimasa awal kehidupan manusia lebih sering mengonsumsi binatang dibanding dengan buah-buahan karena binatang lebih banyak memberikan energi. Bahkan setelah manusia tak lagi nomaden, berburu binatang tak pernah absen dari kegiatan kebudayaan kala itu.

Oleh karena itu, kajian kebudayaan dan makanan akan difokuskan pada hubungannya dengan binatang. Bagaimana memilih binatang sebagai makanan, bagaimana pengolahannya, dan bagaimana memakan makanannya.

Ketiga proses tersebut bisa dikupas dari tiga aspek, diantaranya ekonomi, religi, dan lingkungan yang menjadi pendorong atau motivasi. Isu-isu yang mengapung dalam masyarakat umumnya berakar dari ketiga aspek tersebut, meskipun kejadiannya terlihat seperti random.

Untuk mengupas aspek-aspek tersebut, alangkah lebih baiknya jika ada kasus yang nyata yang selalu menjadi isu hangat di masyarakat. Misalnya, dilema memakan daging anjing. Dari segi sejarah ada beberapa daerah yang memakan daging ‘guguk’ sebagai kearifan lokal dan menganggap hal tersebut tak menjadi masalah. Namun, dengan perkembangan peradaban, pergeseran nilai terjadi dan ada hal-hal yang dulunya lumrah menjadi hal yang tabu.

Kondisi memakan daging guguk dari segi ekonomi di Indonesia memang bukan menjadi isu yang menjadi alasan kuat untuk menjadikan binatang tertentu dapat dikonsumsi dengan sesuka hati. Selain itu, binatang yang dapat dikonsumsi di Indonesia yang tak akan memunculkan isu masih sangat banyak dan rasanya masih dapat menutupi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Sisi lain yang seakan menjadi buah simalakama adalah dari segi religi. Di Indonesia saja ada tujuh agama yang diakui negara dan dengan ratusan aliran kepercayaan lainnya. Dari semua kepercayaan tersebut, ada yang sepaham perihal mengosumsi binatang, dan sebagian besarnya bertentangan.

Terkait isu di atas, bagaimana anjing dalam agama Islam dan Budha merupakan binatang yang tak bisa dikonsumsi, sedangkan bagi agama lainnya mengonsumsi anjing bukanlah isu besar. Hal inilah yang kemudian menjadi isu yang sensitif dan sering menyebabkan perselisihan.

Bahkan sejak kebudayaan lama manusia mengklasifikasikan binatang menjadi binatang yang dikonsumsi dan binatang yang suci. Seperti sapi yang dianggap suci untuk kebudayaan India. Peradaban berkembang dan munculnya agama tak lupa memberikan klasifikasi yang sama untuk binatang. Agama semakin beragam dan perbedaan semakin terasa.

Dari sisi lingkungan, aspek yang secara langsung menyentuh kehidupan binatang. Di satu sisi mungkin banyak masyarakat yang berpikir bahwa binatang seperti anjing yang populasinya masih berjelimat tak akan menimbulkan masalah besar dalam keseimbangan lingkungan. Di sisi lain banyak yang beranggapan layaknya manusia, binatang memiliki hak hidup dan tak seharusnya dikonsumsi secara semena-mena, apalagi anjing yang biasanya dijadikan hewan peliharaan.

Namun, sebenarnya tak ada jawaban yang benar untuk masalah ini. Bagaimana anggapan masyarakat yang pro-kontra akan selalu ada karena perbedaan pola pikir. Satu-satunya cara agar binatang, misalnya anjing bisa tetap lestari adalah dengan mengontrol perilaku konsumsi masyarakat agar tidak melewati batas.

Ketiga aspek tersebut sedikit-banyak merupakan perwujudan bagaimana kondisi Indonesia akan binatang. Bagaimana isu ini akan tetap menjadi isu yang hangat, bagaimana pola kehidupan masa lalu yang tetap melekat hingga kini kemudian harus menyesuaikan dengan dilema hak hidup yang dimiliki binatang-binatang tersebut.

SHARE
Previous articleKita, Pahlawan Bumi!
Next articleCerdas Mengubah Tren
Lukya Panggabean
Lukya Panggabean lahir di Aeknatolu, 28 Januari 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan jurusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran.