Ketika Pak Tong Diusik

Ketika Pak Tong Diusik

1398
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Tadi malam saya mimpi tentang Pak Stephen Tong. Sekilas dan sekelibat saja. Dia berdiri di mimbar yang agak gelap dengan jasnya yang hitam. Dia bicara sedikit, kemudian batuknya yang khas menghentikannya sejenak. Lalu dia bicara lagi… Saya sulit mengingat apa saja yang disampaikannya.

Saya sendiri bingung kenapa bisa bermimpi begitu. Mungkin karena sebelum tidur, saya sempat kesal dengan sejumlah pemberitaan terkait pembatalan KKR Natal beliau di Bandung pada Selasa (6/12).

Tapi mimpi singkat justru membawa saya mengenang masa saat masih jadi mahasiswa. Saya mengingat-ingat lagi momen sekitaran Desember 2002. Kala itu saya baru beberapa bulan masuk kampus. Untuk kali pertama saya ikut KKR yang dipimpin oleh Pak Tong. Tempatnya juga di Sasana Budaya Ganesha, gedung pertemuan komersial yang terbilang besar di Bandung. Tempat yang sejak 2001 selalu dipakai beliau kalau mengadakan KKR di Bandung dan selama ini aman-aman saja.

Saya memang kurang sreg dengan gaya pelayanan maupun doktrin Reformed Injili. Saya pun tidak bergabung dalam gereja atau lembaga pelayanan yang Pak Tong bentuk. Tapi, yang saya lihat waktu itu Pak Tong adalah sosok pendeta yang tulus dan penuh semangat dalam melayani. Lebih dari itu, cintanya pada Tuhan dan cintanya pada bangsa ini terlihat jelas dalam setiap doa dan khotbahnya.

Saya memaklumi kenapa banyak sekali rekan saya, terutama dari kalangan evangelikal, begitu mengagumi beliau. Saya sendiri terinspirasi untuk serius berdoa dan berkarya bagi bangsa, salah satunya ya dari Pak Tong.

Yang terjadi pada malam tadi sedikit banyak melukai hati saya.

Seorang pendeta usia tujuh puluh enam tahun, yang telah menyemi asam garam hidup, yang dikagumi banyak orang, harus diteriak-teriaki. Tidak cukup hanya bertemu dengan perwakilan panitia, para peneriak itu memaksa ketemu beliau. Menjelang akhir, kelompok orang yang menamakan diri Pembela Ahlus Sunnah (PAS) itu bahkan masuk ke dalam gedung. Pak Tong dipaksa turun saat memimpin peserta KKR yang sudah keburu hadir dalam doa dan kidung Malam Kudus.

Acara KKR untuk umum yang dijadwalkan mulai 18.30 itu berantakan sama sekali, sebab sejak 15.32 sudah diminta untuk berhenti. Banyak peserta yang sudah dalam perjalanan dengan bus dan kendaraan lain diminta untuk tidak datang. Lebih dari itu, siswa-siswi sekolah yang sudah selesai ikut KKR Siswa pukul 13.00-15.30 pasti melihat langsung kerumunan orang yang protes bertameng spanduk penolakan. Presenden yang amat buruk untuk masa depan toleransi Indonesia.

Lantas apa reaksi aparat negara? Walikota Bandung yang mencanangkan Bandung kota ramah HAM itu sempat berkata di akun media sosialnya agar KKR tetap saja jalan, karena ia sudah mengkoordinasikan. Tapi ya ternyata tetap tidak jadi. Lalu beliau, yang rajin menyajikan prestasi lewat dunia maya itu, lantas memohon maaf, karena sejauh yang dia tahu sesi pertama (KKR Siswa) tetap berjalan tapi sesi malamnya (KKR Umum) memang diprotes. Baiklah Pak…

Sebagai orang yang banyak dipengaruhi gerakan Pietis, saya yakin banyak orang Kristen Indonesia akan berkomentar pasifis: Ya, sudah maafkan dan doakan saja. Ada lagi yang mungkin cuek karena toh Pak Tong memang punya sejumlah perbedaan dengan gaya dan doktrin pelayanan mereka. Mungkin saja orang-orang ini sedikit senyum dan memberi kritik terhadap beliau dan lembaga-lembaga pelayanannya. Atau memberi saran bijak harusnya begini dan begitu.

Sebagian orang Kristen lain mungkin malah meluapkan kekesalan, karena sudah muak mendengar permasalahan intoleransi yang tak kunjung diberi solusi oleh pemerintah. Mungkin mereka berpikir lebih baik menyudahi saja komitmen untuk berbangsa yang bhineka ini.

Terus terang, meski sering bergelut di isu kemanusiaan dan toleransi, saya sempat sangat terdorong untuk mengambil reaksi terakhir. Tentu, bukan karena kali ini Pak Tong yang diusik. Secara statistik Indonesia selepas reformasi sudah terbilang darurat toleransi. Jawa Barat, sudah delapan tahun berturut-turut ternobatkan sebagai provinsi dengan kasus intoleransi terbanyak. Isu sektarian kini makin panas… Hampir menyentuh titik didih.
**

Tapi, pagi ini saya sempat lewat dan singgah sejenak di Taman Makam pahlawan Cikutra, Bandung. Di sisi Barat kompleks ini saya melihat ada salib-salib kecil. Saya diam selama beberapa hela nafas…

Benar, komitmen itu terlalu mahal untuk disudahi. Tapi rasanya, kita tidak bisa hanya diam menerima. Kita perlu berusaha tegas agar pemerintah semakin bisa menggenapi perannya sebagai pengayom untuk semua. Agar masyarakat kita sama-sama tumbuh dewasa dalam peradaban yang bhineka. Doa buat bangsa yang saya panjatkan di KKR Pak Tong 2002 itu kini justru mengusik saya lagi.

SHARE
Previous articleJerit Hati Masyarakat Papua
Next articlePernyataan Sikap Forum Demokrasi Bandung
Risdo Simangunsong
Saat ini bekerja sebagai penerjemah dan pengajar privat. Beberapa kali menjadi pemateri, trainer dan konsultan dalam diskusi, pelatihan dan evaluasi terkait pengembangan pendidikan dan pergerakan generasi muda.