Dua Sahabat, Dua Tokoh, Satu Generasi

Dua Sahabat, Dua Tokoh, Satu Generasi

1201
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Kyai Wahab Hasbullah akhirnya bertemu dengan Romo Mangunwijaya. Perbedaan usia nyaris setengah abad ternyata tetap bisa memadukan ide-ide mereka tentang kebebasan dan keberagaman.

Kyai yang jadi salah satu pendiri Nahdatul Ulama itu memang dikenal sangat mendambakan kebebasan dan kemandirian berpikir. Di usia yang masih muda beliau telah mendirikan Tashwirul Afkar, satu kelompok diskusi progresif di kalangan pemuda Islam. Sementara Sang Romo sudah dikenal akan keberaniannya menggeluti dan mempraktikkan teologi pembebasan di tengah tindasan rezim Orde Baru. Keduanya jelas jadi inspirasi, tidak hanya bagi kalangan NU dan Katolik, tapi menembus batas-batas primordial.

Tapi tentu saja pertemuan itu tidak terjadi secara fisik. Entah kalau di alam kekekalan sana kedua guru bangsa itu saling bercengkrama. Yang jelas Jumat Malam (16/12) mereka bertemu dalam wujud pertukaran buku. Adalah Wahyu Afif Al-Ghafiqi, orang yang biasa disapa Mako yang menghadiahi Basar Daniel Jevri Tampubolon buku tentang Kyai Wahab. Sementara Basar, yang awalnya menghadiahkan Mako Kitab Suci Al Quran, justru terdorong untuk menambah dengan buku legendaris Romo Mangun, Gereja Diaspora yang entah kenapa malam itu dibawanya.

***

Saya sebenarnya tergoda untuk lebih banyak menceritakan soal siapa kedua pemimpin muda ini. Lembaga dan komunitas apa yang mereka wakili, apa kiprah dan prestasi mereka selama ini, serta banyak cerita informatif lain tentang dua orang yang berbeda latar etnis dan agama ini. Tapi itu semua rasanya jadi tak berarti dibanding memandang momen malam itu sebagai pertemuan dua sahabat lama.

Mereka memang bersahabat. Sejak tengah era 2000-an kedua orang itu sudah saling kenal. Tampaknya mereka menemukan keseruan berbagi pandangan, gaya, serta lebih lagi visi kehidupan. Mereka bahu-membahu dalam kegiatan yang memberdayakan pemuda dari berbagai komunitas keagamaan. Sekian tahun mereka kemudian terpisah, saat harus menggeluti komunitasnya masing-masing. Namun, belakangan ini akhirnya bertemu lagi.

Tepatlah kalau Meng Zi dulu berkomentar bahwa sahabat sebenarnya adalah saudara kandung yang tidak jadi dilahirkan dalam satu keluarga. Dua orang ini bersenda gurau dengan bebasnya, mengenang momen masa lalu sekaligus berbagi harap tentang masa depan.

Dia ini banyak kisah cinta. Sulit ditebak. Tiba-tiba aja ngasih undangan nikah,” ujar Basar mengenalkan Mako pada rekan-rekan muda yang diajaknya. “Jadi ketemu sama Teh Evi (istri Mako) baru di acara yang bagi bunga pas Natalan itu kan?[1]

Ah… itu kan kata beliau. Sebelumnya dia juga sudah lirik-lirik saya kok. Cuma nggak ngomong langsung…” Evi ikut nimbrung dalam obrolan.

Yah, yang penting saya doakan kamu cepat nikah, Sar, jangan kelamaan…,” Mako membalas santai namun menghasilkan skak-mat, yang membuat seisi ruangan tertawa.

mk3

Di ruangan ini pembicaraan mengenai kondisi terkini bangsa, pemberdayaan kaum muda, pendidikan, toleransi dan keberagaman serta banyak persoalan mendalam lain bersalin-ganti dengan cerita soal percintaan, kebiasaan usil, nostalgia kehidupan kampus, cerita-cerita konyol dan banyak hal sepele lain. Kami merasakan bagaimana kening berkerut dijalin satu dengan tawa yang mengocok perut. Empat jam berlalu tanpa terasa…

***

Persahabatan memang berawal dari dua orang ini, tapi imbasnya ternyata lebih besar. Tidak hanya Basar yang mengajak rekan-rekannya yang lebih muda, rekan-rekan muda Mako pun kemudian menyusul datang. Anak-anak muda itu pun turut tercebur dalam pembicaraan yang akrab dan penuh inspirasi…

Saya memotret momen ini seraya membayang kalau Romo Mangun dan Kyai Wahab juga melihatnya. Lantas saya juga membayangkan bagaimana di usia lanjut nanti Mako dan Basar akan mengenang pertemuan malam ini. Di mata saya berkelindan sosok-sosok: dua tokoh besar tadi, dua pemimpin muda ini, serta satu generasi baru yang akan segera mengemban amanat besar.

Itulah Indonesia saya. Indonesia yang selalu mempertemukan perbedaan dalam persahabatan.

[1] Malam Natal 2006 saat umat Islam di Kota Bandung berinisiatif untuk menunjukkan kasih dengan membagikan bunga ke gereja-gereja di Bandung. Momen ini jadi cikal-bakal dibentuknya forum pemimpin agama di Kota kembang ini.

SHARE
Previous articlePernyataan Sikap Forum Demokrasi Bandung
Next articleWe are NOT Human
Risdo Simangunsong
Saat ini bekerja sebagai penerjemah dan pengajar privat. Beberapa kali menjadi pemateri, trainer dan konsultan dalam diskusi, pelatihan dan evaluasi terkait pengembangan pendidikan dan pergerakan generasi muda.