Tax Amnesty Bingkis Manis 71 Tahun Nusantara

Tax Amnesty Bingkis Manis 71 Tahun Nusantara

713
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Tepat dua bulan yang lalu, Indonesia merayakan kembali hari jadinya. 71 tahun bukan perjalanan yang singkat untuk sebuah negara. Jatuh bangun sudah dirasakan oleh negeri ini. Dimulai dari masa pasca kemerdekaan dimana keadaan ekonomi pada masa itu sangat buruk karena adanya inflasi besar-besaran.

Setelah itu, perekonomian diserahkan sepenuhnya pada pasar akan tetapi hal ini malah makin memperburuk kondisi perekonomian Indonesia karena pengusaha pribumi masih belum mampu bersaing dengan pengusaha non-pribumi.

Pada saat itulah terjadi Sanering yakni, pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Jatuh bangun pada awal masa kemerdekaan tidak membuat pemerintahan melemah, justru semakin membuat pemerintah bersatu padu untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

Rencana-rencana jangka panjang mulai disusun dan dilaksanakan. Terbukti pada tahun 1984, Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton dan mengakibatkan terjadinya swasembada beras di Indonesia, bahkan Indonesia mendapat penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) atas keberhasilan ini.

Tanpa diduga, ekonomi Indonesia kembali terguncang dengan krisis ekonomi yang melanda Asia dimulai pada tahun 1997 dan memuncak di tahun 1998. Dimana inflasi rupiah dan peningkatan harga bahan makanan terjadi secara luar biasa dan tidak terkendali.

Kemudian terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lebih dari 200% dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Perlahan tapi pasti, Indonesia mulai membangun kembali perekonomian yang sempat kacau balau akibat krisis 1998.

Akan tetapi, lagi-lagi krisis melanda. Krisis global terjadi pada tahun 2008 yang menimpa Amerika Serikat yang menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai konsumen terbesar atas produk-produk dari berbagai negara di seluruh dunia.

Indonesia sendiri merupakan negara yang masih sangat bergantung dengan aliran dana dari investor asing, dengan adanya krisis global ini secara otomatis para investor asing menarik dananya dari Indonesia. Hal ini yang menyebabkan kembali jatuhnya nilai mata uang kita.

‘Beruntungnya’ rasio ekspor Indonesia masih belum sebesar Malaysia dan Singapura, sehingga dampak yang dirasakan oleh Indonesia tidak sebesar yang dirasakan negara tetangga. Kembali lagi Indonesia harus berbenah diri dan mencoba menata kembali perekonomiannya.

Pada pertengahan tahun 2016, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan terobosan yang dikeluarkan oleh pemerintah yakni “Tax Amnesty/Pengampunan Pajak (kemudian disingkat menjadi TA)”. Latar belakang dari TA sendiri adalah moderasi pertumbuhan ekonomi global, perekonomian Amerika Serikat yang belum stabil, perlambatan pertumbuhan Tiongkok, ketidakpastian kebijakan moneter, harga komoditas menurun dan risiko geopolitik: Timur Tengah dan Brexit.

Dengan latar belakang di atas dapat menyebabkan perlambatan ekonomi Indonesia, defisit anggaran membesar, defisit neraca perdagangan, penurunan laju pertumbuhan sektor industri/manufaktur dan infrastructure gap yang masih tinggi dan dapat mengakibatkan meningkatnya pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Maka dari itu pemerintah harus menemukan sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk menghindari terjadinya hal-hal tersebut. Salah satunya dengan cara Repatriasi harta. Repatriasi harta menurut Undang-undang TA adalah proses pengembalian akumulasi penghasilan berupa aset atau harta dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah meyakini bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang menempatkan uangnya di luar dari Indonesia, karenanya, jika uang tersebut dapat ditarik masuk ke Indonesia maka akan dapat meningkatkan investasi dan diharapkan dapat membawa peningkatan ekonomi Indonesia.

Siapa sih yang tidak mau perekonomian negaranya baik? Tidak mungkin ada yang mau perekonomian di negaranya stuck bahkan mengalami kemunduran. Akan tetapi untuk membuat perekonomian Indonesia bisa stabil dan mencapai masa keemasan dibutuhkan gotong royong antara pemerintah dan masyarakat.

Masyarakat yang mempunyai harta-harta di luar negeri diharapkan turut berpartisipasi dalam TA ini agar uang-uang yang selama ini ada di negeri lain dapat ditarik ke Indonesia dan dapat digunakan untuk investasi di dalam negeri dan niscaya akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik.

Referensi:

  1. Amnesti pajak – Kementerian Keuangan Direktorat Jenderal pajak
  2. lembagapajak.com/2016/08/definisi-pengertian-harta-repatriasi-adalah.html