SARA Menonton Olympiade Badminton

SARA Menonton Olympiade Badminton

870
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“Cepat atau lambat, setiap bangsa yang ditindas pasti memperoleh kemerdekaannya kembali; itulah hukum sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Hanya soal proses dan cara bagaimana mereka memperoleh kembali kemerdekaan itu yang tergantung pada mereka yang pada saat itu memegang kekuasaan.” – Moh. Hatta dalam Indonesia Merdeka, 1924

Indonesia dinyatakan merdeka 17 Agustus 1945 dengan dikumandangkannya proklamasi oleh  Soekarno dan Hatta. Dengan taktik yang cerdik serta keberanian yang tangguh para pahlawan Indonesia memperjuangkan nilai kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu sedang di jajah oleh Jepang.

Para pejuang Indonesia membawa nama Indonesia sebagai dasar kemerdekaan dan juga perjuangan mereka. Nilai nasionalisme dan cinta Indonesia tidak memandang suku, ras, agama, dan juga budaya para pejuang di medan tempur. Mereka adalah satu dengan tujuan kemerdekaan Indonesia.

Para pejuang Kemerdekaan Indonesia ini tidak pernah mempermasalahkan agama yang dianut untuk memerdekakan Indonesia. Pedang dan alat tempur yang lain membuktikan bahwa cinta Indonesia adalah senjata paling tangguh membawa Indonesia merdeka sampai pada umur 71 tahun ini daripada harus memperdebatkan masalah rasisme, terlebih agama.

Shuttlecook tak kenal etnis. Raket tak pandang ras. Sponsor tak memandang agama. Suporter tak berteriak budaya. Itulah mengapa Indonesia berhutang kepada kemenangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir atas pertandingan bulu tangkis ganda campuran bertepatan di hari ulang tahun Indonesia ke 71 tahun itu.

Pertama, karena telah menyumbangkan emas kepada Indonesia. Kedua, sebab memperingatkan dan mengajarkan Indonesia betapa keberagaman bisa melahirkan kekuatan dan sesungguhnya dapat diapresiasi menjadi sebuah kebanggaan.

Betapa tidak, ketika isu di Indonesia mengenai toleransi beragam sedang ricuh dan juga permasalahan SARA yang tidak bisa memimpin Jakarta sedang memborbardir dari beberapa pihak, namun lewat ‘bulutangkis’ telah membuktikan bahwa keberagaman itu bisa mendatangkan kemenangan yang membanggakan Indonesia.

Owi dan Butet, berikut panggilan sederhana yang mengharumkan nama Indonesia tepat pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa menit sebelum kalender berubah menjadi 18 Agustus, lagu Indonesia Raya berkumandang di Rio Jeneiro. Berkat mereka, peringatan proklamasi kemerdekaan kali ini menjadi sangat sempurna karena ditutup dengan Indonesia Raya yang mengatasi dan melampaui seremonial. Itu karena semangat bulutangkis!

Ini adalah pertama kalinya tim badminton Indonesia mempersembahkan emas olimpiade melalui nomor ganda campuran. Owi dan Butet adalah perpaduan yang amat pas untuk memberikan makna yang dalam bagi Indonesia yang masih bersifat otentik terhadap perbedaan. Laki-laki dan perempuan, bumiputra dan keturunan, hingga Islam dan Kristen. Tiga isu ini sangat sensitif dalam politik Indonesia (sexism, rasisme, dan identitas agama).

Namun, isu-isu itu dipecahkan lewat shuttlecock dan raket. Owi dan Butet menuntaskan isu-isu perbedaan yang menghantam Indonesia tidak paham pada makna keberagaman atas kemerdekaan Indonesia tersebut.

Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, Indonesia seharusnya sudah tidak dilanda masalah isu keberagaman. Bukti sejarah yang berbicara, bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan oleh karena satu ras atau satu agama melainkan karena semangat jiwa nasionalisme bangsa Indonesia.

Maka, kemerdekaan Indonesia belumlah seutuhnya membawa rakyat Indonesia pada penerimaan diri dan hakikat bangsa Indonesia itu sendiri yang adalah beraneka ragam. Kemerdekaan adalah perjuangan yang terus menerus harus diusahakan dan diperjuangkan, sampai pada akhir hayat.

Indonesia harus terus melawan para penjajah, sekalipun sebenarnya kemerdekaan telah dikumandangkan 71 tahun yang lalu. Perbedaannya, dulu Indonesia melawan negara lain sebagai penjajah, namun sekarang Indonesia harus memperjuangkan kemerdekaannya dengan melawan idealisme sesat juga bangsa sendiri yang tidak bisa menerima keberagaman Nusantara.

Dengan mengabarkan isu-isu yang positif dalam menyikapi isu politik berbau agama, rakyat Indonesia diharapkan cerdas dalam merespon. Selain itu, menghargai keberagaman menjadi sangat penting dengan tidak terikut-ikut pada isu politik berbau agama tersebut. Ada banyak masyarakat Indonesia yang sebenarnya tidak paham, namun karena sudah ‘panas’ akhirnya merasa ikut untuk memerangi yang bukan urusannya.

Perjuangan Indonesia adalah perjuangan semua umat. Perjuangan Indonesia adalah perjuangan semua lapisan masyarakat, tanpa memandang asal, suku, agama, ras, dan semua perbedaan lainnya. Maka benarlah yang dikatakan oleh Moh. Hatta, kita pasti bisa memperoleh kemerdekaan kita dengan sudut pandang yang lebih baik.