Mimpi Edan Mbah Sadiman

Mimpi Edan Mbah Sadiman

941
0
Sumber foto: www.mongabay.co.id
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Indonesia dianugerahi hutan-hutan tropis yang begitu luas. Sebagian dari masyarakat menggantungkan hidupnya kepada hutan-hutan yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini. Hutan ini juga menjadi rumah bagi kekayaan hayati yang kita miliki. Namun, kondisi hutan Indonesia saat ini sudah tidak sama lagi.

Kementerian Kehutanan Indonesia mencatat setidaknya terjadi 2% penyusutan hutan setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena banyak alasan, diantaranya penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan demi kepentingan segelintir orang.

Hutan yang gundul tidak akan bisa tumbuh dengan sendirinya, tidak akan pernah kembali hijau tanpa campur tangan manusia untuk melestarikannya. Saat ini banyak komunitas yang concern memikirkan kerusakan hutan ini namun masih belum sebanding dengan kerusakan yang terjadi tiap tahunnya.

Dari sekian banyak mereka yang concern untuk mengurus hutan ada seseorang yang begitu menginspirasi. Beliau dikenal dengan panggilan Mbah Sadiman.

Mbah Sadiman adalah seorang warga yang tinggal di Dusun Dali, Desa Geneng Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Sebagian diantara pembaca mungkin sudah mengetahui apa yang beliau kerjakan untuk melestarikan lingkungan.

Di dekat desa tempat beliau tinggal, ada satu bukit yang gundul karena kebakaran. Kebakaran tersebut menyebabkan banyak masyarakat disekitar mengalami kesusahan. Jika musim kemarau tiba, kekeringan pun tidak dapat dihindari, dan ketika musim penghujan banjir yang datang melanda.

Kejadian ini mengetuk nurani Mbah Sadiman, beliau ingin melakukan sesuatu untuk bisa membantu masyarakat dan mengembalikan Bukit Gendol. Pada tahun 1996 beliau mulai menanami bukit tersebut dengan berbagai macam pohon. Kegiatan ini dilakukannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan siapapun. Bahkan modal untuk penghijauan pun diambil dari uang pribadinya sendiri.

Beliau rela menyemai bibit pohon jati dan cengkeh dipekarangan rumahnya untuk ditukar dengan bibit pohon beringin untuk ditanamnya di Bukit Gendol.

Kegiatan yang dilakukan ini seringkali tidak mendapat respon yang baik dari warga sekitar, bahkan banyak yang menertawakan mimpi yang katanya edan itu. Kerap kali pohon yang sudah ditanam juga dirusak warga karena dianggap mengganggu. Lagi-lagi beliau tidak putus asa, beliau juga tidak kuasa untuk melawan karena baginya warga memiliki alasan untuk berbuat demikian. Beliau hanya tetap sabar dan ikhlas sembari menanam pohon di tempat lain.

Selain menanam lebih dari 11.000 pohon di hutan seluas 100 hektar, beliau juga membuka akses untuk memudahkan warga masuk ke dalam bukit dengan cara membuat lebih dari 1000 anak tangga. Hal ini dilakoninya agar keindahan Bukit Gendol bisa dinikmati banyak orang. Beliau melakukan ini bukan untuk mendapat penghargaan, bukan pula untuk mengambil keuntungan. Semua dikerjakan dengan ikhlas dan tanpa pamrih.

Apa yang dikerjakan oleh Mbah Sadiman sejak 20 tahun silam kini berbuah manis, Bukit Gendol menjadi rindang dan sumber air melimpah sehingga sangat cukup untuk dipergunakan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada perasaan takut kekeringan lagi ketika kemarau, atau banjir kala musim penghujan datang.

Kini semua perjuangan Mbah Sadiman terbayar lunas, mimpi yang disebut gila itu sudah terwujud. Bahkan beliau kini dikenal banyak orang sebagai pahlawan lingkungan. Mbah Sadiman yang dulu, bukanlah aktivis yang tergabung dalam satu komunitas pecinta lingkungan. Bukan juga seseorang yang hidup berkecukupan. Beliau hanya seorang petani yang hidup berteman kesederhanaan. Mimpinya yang besar telah membawanya untuk dikenal dan dikenang banyak orang.

Mbah Sadiman adalah satu diantara banyak pecinta lingkungan di negeri ini yang memberikan waktu, tenaga, pikiran dan materinya untuk melestarikan lingkungan. Apa yang telah mereka lakukan setidaknya mampu menyadarkan kita untuk lebih menghargai dan melestarikan lingkungan dengan tindakan nyata disekitar kita. Agar kelak kita  mewariskan negeri yang nyaman untuk anak cucu kita.