Mencari Esensi Merdeka, Lagi?

Mencari Esensi Merdeka, Lagi?

532
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Paragraf di atas merupakan sepenggal dari UUD 1945 yang mengambil bagian besar dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Barisan kalimat tersebut menjadi perwujudan cita-cita Indonesia yang menjadi janji bagi rakyat yang kala itu melarat untuk membangun bangsa yang ideal, Indonesia Raya.

Namun, kala menulis tentang kemerdekaan Indonesia, entah mengapa, rasanya seperti pengulangan yang tak ada habis-habisnya. Perihal esensi kemerdekaan Indonesia menjadi isu yang tak mengering, isunya selalu dinamis mengikuti kehidupan masyarakat. Tak terhitung lagi tulisan tentang hari yang diberi warna merah di kalendar ini.

Jika menyempatkan diri untuk berkeliling saat 17 Agustus, mungkin akan terlihat jelas pemandangan yang itu-itu saja. Upacara yang seakan-akan hanya formalitas digelar, mulai dari tingkat kecamatan hingga di istana negara. Setelah berlama-lama mengikuti arus acara, maka perayaan langsung dimulai. Lalu, keesokan harinya semua berjalan seperti biasa. Seakan-akan kemarin bukanlah hari yang penting.

Namun, tak seharusnya begitu. Semestinya, hari kemerdekaan adalah saat bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menolak lupa. Rakyat Indonesia harus benar-benar merenungkan bagaimana perjuangan jiwa dan raga rakyat Indonesia dulu, bukan hanya gegap gempita perayaannya saja.

Tujuh dekade silam, sudah terkabar Indonesia akan memproklamirkan kemerdekaannya. Berdesakan, rakyat Indonesia berkumpul menyaksikan proklamasi dan pengibaran bendera. Luapan rasa haru melambung di dada mereka, membayangkan  harga yang harus dibayar hanya untuk rasa merdeka.

Sudah seharusnya, dalam peringatan hari kemerdekaan yang paling penting bukan bagaimana persiapan lomba makan kerupuk, tetapi harus menjadi tamparan keras bagi rakyat Indonesia yang belum bisa menepati utang janji kemerdekaan yang tak kunjung terwujud.

Lalu, bagaimana seharusnya? Sama seperti menurunkan berat badan. Sebenarnya semua orang telah tahu apa yang harus dilakukan. Mengurangi porsi makanan, berolahraga, atau bahkan menggunakan cara-cara instan. Kemerdekaan Indonesia memang tak bisa disamakan dengan urusan berat badan, urusan bangsa tak sesepele itu, tetapi analoginya tetap sama.

Jika ditanya satu per satu, sudah tentu semua tahu apa yang salah di negeri ini. Semua pasti akan mengeluhkan ini-itu, dan jika ditanya, “Jadi, seharusnya bagaimana? Semua pasti punya pemikiran masing-masing yang dianggap bisa menjadi pemecahan masalah. Namun, hal yang menjadi isu utama adalah siapa sebenarnya yang mau berkontribusi, siapa yang mau benar-benar beraksi?

Apapun yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia sudah tersedia. Namun, ironis sekali, Indonesia yang dielu-elukan sebagai negara yang punya potensi alam luar biasa, nyatanya kini malah dinikmati oleh negara lain. Indonesia yang dulunya mengirimkan guru ke Malaysia, kini malah terkenal mengirimkan TKI yang selalu saja bermasalah.

Hal tersebut terjadi akibat kurangnya kepedulian akan keluhuran bangsa Indonesia. Sungguh aneh, kemana hilangnya semangat nasionalisme rakyat Indonesia kini. Padahal, rakyat Indonesia lahir dari rahim-rahim pejuang berani mati, dari keturunan orang-orang yang rela mati demi bangsanya. Saat Presiden Soekarno mengumandangkan, “Merdeka atau mati!”  Seluruh massa meneriakkan dengan seluruh tenaga bahwa Indonesia adalah harga mati.

Jika Indonesia dijajah selama lebih dari tiga abad, maka bayangkan berapa generasi yang seumur hidupnya tak pernah merasakan kebebasan? Jejak peninggalan dari luapan kemarahan akan ketidakadilan bagi rakyat dan bangsa masih tersisa hingga kini. Kisah tersebut selalu diulang-ulang, sejak sekolah dasar sudah diajarkan, tetapi entah berapa yang mengingat.

Memang, bukannya tak ada yang peduli, tetapi dari antara 250 juta penduduk Indonesia mungkin hanya segelintir saja yang benar-benar mencintai Indonesia. Dengan demikian, apakah Indonesia kini masih benar-benar Indonesia? Apakah masih mengemban janji yang sama? Atau rakyatnya hanya merasa kebetulan saja terlahir di Indonesia?

Tidak tahu kapan cita-cita Indonesia Raya akan benar-benar terwujud. Cita-cita yang terdengar utopis tersebut hanya bisa tercipta jika semua turut ambil bagian. Tak perlu pesimis, juga tak usah mati, tetapi mulai dengan mencintai bangsa Indonesia dan berkontribusi dalam hal sekecil apapun untuk menggenapi janji Indonesia Raya.

SHARE
Previous articleKei, Surga Yang Tidak Lagi Tersembunyi
Next articleJerit Hati Masyarakat Papua
Lukya Panggabean
Lukya Panggabean lahir di Aeknatolu, 28 Januari 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan jurusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran.