Menantang Yap Berperkara Kejujuran Penegak Hukum

Menantang Yap Berperkara Kejujuran Penegak Hukum

632
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Mari kita mengenang kembali kesuksesan negara ini berdiri pada 17 Agustus 1945 dengan secarik kertas penuh makna ditandatangani oleh dua nama berpengaruh yang mewakili Indonesia, Soekarno dan Hatta. Rakyat menyambut gembira sebuah proklamasi yang mengubah negeri ini menjadi lebih baik dan lebih berani tentunya ‘menantang’ zaman. Para pemuda bangsa bahu membahu mempersiapkan grand design cita-cita bersama guna menyusun fondasi agar Indonesia terus berdiri kokoh.

Ideologi bangsa disusun baik adanya disesuaikan dengan nilai-nilai yang telah ada dalam kehidupan bangsa. Maka dari itu Pancasila menjadi poros utama dasar negara Indosesia. penindasan atas hak adalah musuh bersama yang membuat persatuan dan keadilan menjadi poin penting untuk diperjuangkan.

Rasa ‘memiliki’ akan selalu timbul dari setiap orang karena kerja keras bersama membangun negeri. Hal itu akan selalu tumbuh dan berkembang bersama harapan menjaga keutuhan serta kedaulatan NKRI. Proses yang dilakukan oleh founding father kita bukan suatu hal yang mudah, mereka dengan penuh emosional menyusun tatanan negara Indonesia dalam waktu yang singkat.

Berbicara tentang sejarah tersebut membuat kita semakin semangat bahwa dewasa ini adalah waktu terbaik untuk memetik hasil dan mengembangkan potensi yang telah ada. Pemikiran progresif adalah kunci untuk menjadi “mesin penggerak zaman” bangsa Indonesia.

Beberapa lini kehidupan harus disiasati terkendali pada satu tujuan bersama mencapai persatuan dan keadilan. Kontrol sosial juga perlu dilakukan setiap saat agar permasalahan sosial bisa ditanggulangi tanpa celah sedikitpun.

Hal ini berkaitan pada penegak hukum yang akan menjadi panglima utama dalam menindak, memberantas dan menanggulangi segala jenis permasalahan hukum. Banyak isu miring yang mengatakan mereka mudah disuap, korupsi, kolusi dan nepotisme dalam suatu institusi penegak hukum itu sendri. Kondisi yang sangat memprihatinkan membuat citra buruk di mata masyarakat.

Perlu adanya strategi yang harus disusun untuk mencapai tujuan bersama karena perlu ada campur tangan bersama–sama, yakni pemerintah dan rakyat. Sungguh sangat naif jika kita menginginkan keadilan tanpa mau diadili oleh lingkungan. Tetapi juga terlalu munafik jika kita hanya ingin ketenangan dan keamanan walau keadilan masih jadi barang yang mahal.

Mari kita lihat kisah Yap Thiam Hien yang dikenal sebagai pengacara jujur, ia mengabdikan seluruh hidupnya berjuang demi menegakkan keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang kemudian namanya diabadikan sebagai sebuah nama penghargaan kepada orang-orang atas jasanya yang besar bagi penegakkan HAM di Indonesia. Dibesarkan di lingkungan yang feodalistik membuat ia sejak kecil bersifat memberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Nama pendiri Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) ini muncul ke permukaan setelah ia terlibat dalam perdebatan di Konstituante pada 1959 yaitu menentang UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan konsep kepresidenan yang kuat. Tidak hanya itu, Yap yang dikenal sebagai pribadi antikomunis juga berani membela tersangka G30S seperti Abdul Latief, Asep Suryawan, Oei Tjoe Tat, dan Sudisman.

Yap bersama H.J.C Princen, Aisyah Aminy, Dr Halim, Wiratmo Sukito, dan Dr. Tambunan yang tergabung dalam Lembaga Pembela Hak-Hak Asasi Manusia (LPHAM) yang mereka dirikan 29 April 1966 dan sekaligus mewakili Amnesty Internasional di Indonesia, meminta supaya tahanan politik PKI dibebaskan.

Yap juga seorang tokoh yang antikorupsi, ia bahkan sempat ditahan selama seminggu pada tahun 1968 sebagai akibat kegigihannya menentang korupsi di lembaga pemerintah. Pada peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, Yap juga tampil teguh memposisikan diri membela para aktivis mahasiswa hingga ia ditahan tanpa proses pengadilan.

Berdasarkan kisah Yap Thiam Hien di atas dapat kita simpulkan adanya keberanian dan bukti nyata akan perubahan penegakkan hukum. Memang tidak mudah karena penguasa di zamannya “masih nyaman” dengan keadaan yang carut marut tersebut. Penegakkan hukum pada saat Orde Baru masih didasari oleh kekuasaan bukan atas tujuan hukum itu sendiri yaitu kepastian hukum dan keadilan.

Akhir kata, kisah diatas mengajarkan kita untuk mempersiapkan mental menegakkan hukum yang hakiki. Maka revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi memperingati 71 tahun Indonesia memiliki maknawi perubahan yang konsisten, perubahan untuk berani mandiri, dan perubahan untuk sebuah keadilan yang hakiki.

 “Jika saudara hendak menang berperkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda karena pasti kita akan kalah. Tetapi, jika saudara merasa cukup dan puas menemukan kebenaran saudara, saya mau menjadi pembela saudara.”Yap Thiam Hien