Kei, Surga Yang Tidak Lagi Tersembunyi

Kei, Surga Yang Tidak Lagi Tersembunyi

1075
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Siapa yang berpikir bahwa perubahan harus segera dimulai? Suatu perubahan terjadi manakala kita diperhadapkan dengan konteks fenomena lingkungan yang menuntut untuk mengalami sentuhan kemajuan. Kita sering mendengar ungkapan perubahan adalah hal yang abadi.

Saya dan Anda maupun jutaan penduduk bangsa ini terus merencanakan, menggagaskan, menelurkan perubahan bagi kemajuan negara tercinta.Tanpa mengabaikan proses – proses panjang yang telah dihadapi bangsa ini dari kepemimpinan ke kepemimpinan, dari visi yang belum terjawab ke visi baru yang sedang diperjuangkan.

Kita harus tetap berpikir positif dan optimis dalam membangun karakter bangsa sesuai sistem nilai yang dianut sehingga ada hal berharga yang bisa diberikan oleh bangsa ini bagi peradaban dunia.

Indonesia tidak hanya terletak di Ibukota Jakarta ataupun kota besar lainnya yang sudah tidak asing lagi diulas media. Sebagai bagian integral dari Indonesia, ada Kepulauan Kei di bagian timur Indonesia – Maluku Tenggara yang memiliki potensi pariwisata dan ragam budaya yang turut berkontribusi bagi kemajuan negara ini.

Pada beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan Anugerah Pesona Indonesia 2016 yang puncaknya pada tanggal 16 September  2016 diumumkan para pemenang di setiap kategori dan Kepulauan Kei berhasil memenangkan juara I untuk kategori Surga Tersembunyi.

Masyarakat Kepulauan Kei telah bekerja keras untuk mempromosikan Kepulauan Kei sebagai destinasi wisata Indonesia yang memiliki keunggulan khusus. Pergerakan masyarakat Kei ini dapat disebut sebagai inovasi perubahan dalam paradigma membangun bangsa, yang menekankan bahwa ini bukan lagi tugas Pemerintah Daerah semata namun bagaimana tanggung jawab dan peran masyarakat.

Menurut klasifikasi adat, Kepulauan Kei dibagi menjadi 2 (dua) wilayah geografis yakni Nuhu Roa (Kei Kecil) dan Nuhu Yuut (Kei Besar). Dengan menggunakan Bahasa Kei sebagai bahasa adat, masyarakat lebih mudah membangun hubungan kekeluargaan dalam setiap aspek kehidupan. Sama halnya seperti sebagian masyarakat di Indonesia, Kehidupan adat Kei adalah fenomena yang kompleks, berkelanjutan dan diartikulasi dalam menanggapi setiap perubahan sosial dan politik yang terjadi di Kepulauan Kei.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, masyarakat adat harus tetap menjaga budayanya tetap lestari. Tidak terjebak arus modernisasi namun memadukannya menjadi sebuah keunggulan. Pada tanggal 08 – 22 Oktober nanti untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah masyarakat Kei, Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara akan menyelenggarakan Festival Pesona Meti Kei.

Promosi pun sedang gencar–gencarnya dilakukan oleh semua pihak guna memperkenalkan Kei sebagai surga yang tidak lagi tersembunyi untuk publik.

Dalam mencapai tujuan promosi tersebut, muda–mudi Kei yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah turut ambil bagian baik itu yang di Pulau Jawa, Sulawesi maupun di berbagai kota perguruan tinggi lainnya.

Hal ini sangat menggembirakan, karena bukan hanya promosi pariwisata yang menjadi mainstream namun membangun kesan bahwa masyarakat Kei tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang yakni dengan sifat keras, anarkis dan tindakan berbau premanisme lainnya.

Kei sebagai surga tersembunyi, bukan hanya karena dianugerahi wisata alam dan bahari yang luar biasa namun ada juga kuliner, budaya dan tentunya sejarah masyarakat Kei yang menjadi keutuhan surga tersebut.

Saya akan mengulas tentang Meti Kei yang akan dilaksanakan nanti. Meti merupakan sebuah zona dimana air laut menjadi pasang surut. Zona pasang surut atau meti terletak antara pantai dan terumbu karang yang mengelilingi pulau. Ikan, kerang, gurita maupun rumput laut dapat diambil langsung oleh masyarakat Kei pada zona ini yang puncaknya terjadi pada bulan Oktober setiap tahun.

Peristiwa meti kei sebagai simbol penangkapan hasil laut dengan cara tradisional ,tidak menggunakan bahan peledak/alat berbahaya demi menjaga kelestarian laut dan pantai.

Dalam hal toleransi beragama, kita tentu dapat menjadikan Kei sebagai pusat studi dalam membangun kehidupan toleransi dan harmonisme antar umat beragama. Buang jauh–jauh pikiran anda tentang hal–hal berbau SARA maupun tindakan anarkisme yang mengatasnamakan agama.

Jika ditinjau dari pengelompokkan tempat tinggal, memang benar bahwa perumahan penduduk atau kompleks tempat tinggal masyarakat sudah terkondisikan, misalnya di bagian daerah Langgur sebagai pusat ibukota Maluku Tenggara lebih banyak didiami kaum Katolik, di daerah sekitar pemda dan ohoijang untuk Kristen dan Perumnas untuk kaum Muslim.

Namun hal tersebut bukan sebagai dinding pemisah. Terlihat jelas ketika sedang ada pekerjaan membangun tempat ibadah, maka tidak segan–segan untuk semua masyarakat terlibat.

Hal ini bukan karena paksaan ataupun bayaran, dengan adanya budaya Maren atau lebih populer dikenal sebagai istilah gotong royong dan falsafah ain ni ain sebagai bentuk persaudaraan orang Kei untuk mensukseskan pembangunan tempat ibadah tersebut. Toleransi masyarakat Kei telah diwariskan oleh leluhur secara turun temurun.

Konteks keindonesiaan dewasa ini menunjukan bahwa tingkat intoleransi semakin berkembang pesat secara kuantitatif, ketimpangan politik, perebutan sumber–sumber ekonomi maupun tindakan korupsi yang merajalela. Semua dilema ini akan menjadi permasalahan abadi yang entah kapan dapat diselesaikan.

Dalam hubungan jangka panjang yang efektif, tentunya daerah–daerah Kabupaten/Kota harus mengembangkan budaya/tradisi luhur yang mengandung nilai–nilai positif guna membangun Indonesia. Desa yang masih memegang teguh budaya para leluhur yakni Desa Tanimbar Kei yang penduduknya beragama Hindu.

Selama ratusan tahun masyarakat Tanimbar Kei meyakini adat dalam mengatur setiap aspek kehidupan, baik dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Misalnya jika ada yang mendapat tangkapan, maka hasil tangkapan tersebut menjadi milik adat dan kemudian barulah disajikan untuk dinikmati bersama-sama.

Masyarakat Kei boleh berbangga bahwa tanah kelahirannya tidak lagi menjadi surga yang tersembunyi. Panorama wisata alam kei yakni Pantai Ngurbloat sebagai pantai dengan pasir putih terhalus di dunia, Pantai Ngurtavur yang membentang di tengah lautan, Pantai Ohoidertawun yang memiliki pesona pasang surut seperti lapangan sepakbola, Pantai Ngursanadan Ohoililir, Pemandian Alam Air Evu, Goa Hawang dan berbagai destinasi wisata lainnya harus dapat dikembangkan guna kemajuan masyarakat Kei.

Ide–ide untuk promosi yang telah dilakukan sangatlah baik, namun harus juga disertai dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat lokal sebagai kesempatan berharga bagi Kei maupun Indonesia.

Jangan palingkan perhatian anda ke Maldives, dan sebagai gantinya datanglah ke Kepulauan Kei. Ketika kita menutup mata terhadap realita dan pesona keindahan luar negeri, berpaling ke dalam untuk melihat kecantikan diri sendiri kita sudah mewujudnyatakan kehidupan surga itu.

Nilai–nilai masyarakat Kei yang khas yakni persaudaraan sejati, anti kekerasan, kerukunan dan perdamaian dapat menjadi inspirasi bagi dunia untuk lebih menghargai pentingnya hakekat kemanusiaan.

Untuk mengetahui Informasi mengenai Festival Pesona Meti Kei Tahun 2016 Silahkan kunjungi situs : www.keitourism.com

SHARE
Previous articleSARA Menonton Olympiade Badminton
Next articleMencari Esensi Merdeka, Lagi?
Adhika Belnard
Adhika Belnard menjadi sekretaris cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku. Perempuan dengan nama panggilan Dhika ini juga aktif dalam berbagai kegiatan gender dan toleransi beragama.