Indonesia Dikepung Dosen (Semoga Nggak) Proyekan

Indonesia Dikepung Dosen (Semoga Nggak) Proyekan

902
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Tepat pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu kita sudah merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke 71 tahun. Itu artinya Indonesia sudah 71 merdeka dari penjajahan yang memaksa kita untuk menjadi budak asing. Juga kita merdeka untuk mengembangkan dan menggunakan SDM dan SDA kita secara mandiri untuk kemajuan bangsa.

Tetapi jika kita bercermin terhadap perkembangan Indonesia sekarang ini, Indonesia masih sangat tertinggal jauh dari negara lain. Kemajuan Indonesia dalam bidang teknologi contohnya masih sangat kurang. Indonesia pada masa sekarang ini masih belum mandiri dengan teknologi, akhirnya kita malah membeli teknologi dari negara lain. Mengapa kita masih belum bisa mandiri dengan teknologi?

Jika kita lihat kondisi Indonesia saat ini, Indonesia sangat diuntungkan dari segi SDM dan SDA. Dari segi SDM kita mendapatkan bonus demografi. Menurut BKKBN, Indonesia memiliki bonus demografi sampai 2025. Ini artinya Indonesia tidak akan kekurangan SDM angkatan produktif sampai pada tahun 2025.

Jika kita lihat SDA yang terdapat di Indonesia, kita adalah negara yang kaya SDA. Mungkin SDA kita akan habis, tetapi dalam jangka waktu yang lama.

Jika kita melihat dari faktor tersebut harusnya kita dapat memaksimal segala yang negara ini punya untuk membangun bangsa, termasuk dengan teknologi. Tetapi masih belum terjawab, mengapa kita masih belum mandiri dengan teknologi?

Saat ini Indonesia tidak fokus dengan riset untuk pengembangan teknologi. Meskipun sudah banyak prestasi internasional yang Indonesia dapatkan dalam bidang pendidikan, tetapi hal itu masih belum cukup untuk membangun teknologi. Teknologi tidak dibangun melalui prestasi individu yang bagus, tetapi melalui penelitian panjang.

Jika kita lihat, menjadi seorang peneliti adalah pilihan terakhir bagi lulusan perguruan tinggi. Alasannya karena gaji dari peneliti di Indonesia kecil dan anggaran untuk penelitian juga sangat kecil. Dosen saya pernah mengungkapkan bahwa biaya riset yang diberikan pemerintah sangat kecil, sehingga mereka lebih tertarik untuk mengambil proyek yang kadang kurang ada hubungannya dengan riset. Jadilah dosen Indonesia yang jago proyekan, bukan peneliti.

Selain alih profesi dosen jadi ahli proyekan, bukan peneliti, banyak peneliti di Indonesia yang lari keluar negeri karena biaya riset yang besar dan gaji yang ditawarkan lebih besar. Akhirnya kita jarang menciptakan teknologi asli ciptaan Indonesia dan lebih sering bangga dengan teknologi ciptaan yang hanya rakitan, ketimbang teknologi yang memang memiliki paten atas nama Indonesia, bukan atas nama negara lain.

Mau sampai kapan begini? Jika kita lihat, SDM kita ternyata bisa menguntungkan ke depan dan SDA juga masih terjadi untuk diekplorasi, mengapa kita tidak mengoptimalkannya dari sekarang?

Kita masih bisa membangun Indonesia, masih bisa membuat teknologi yang benar-benar asli dengan hak paten milik bangsa Indonesia. Kita masih sanggup untuk membuat sistem penelitian yang lebih baik lagi.

Jika kita lihat bangsa kita sebelum dijajah, kita adalah bangsa penjelajah. Artinya kita memiliki peneliti dan pembuat perahu yang andal untuk menciptakan perahu yang kuat, sehingga kita dapat menjelajah.

Untuk era modern ini, kita punya Dr. Nelson Tansu yang menjadi peneliti di Amerika yang telah memiliki puluhan paten untuk perusahaan di Amerika. Juga pada tahun 2015 yang lalu, kita memiliki Dr. Yogi Ahmad Erlangga yang memecahkan rumus Helmholtz untuk kepentingan industri perminyakan. Selain itu kita juga punya Bapak B.J. Habibie yang mampu menciptakan pesawat.

Kita tidak kekurangan orang pintar di Indoensia ini. Seperti yang saya katakan kita memiliki SDM yang baik dan bonus demografi sampai 2025. Jika kita dapat mengoptimalkannya maka kita akan menjadi negara yang mandiri dalam teknologi, sehingga tidak bergantung pada negara lain.

Selain memilki SDM yang cukup baik, kita memiliki SDA yang dapat dieksplorasi lebih lagi. Mulailah kita mengeksplorasi SDA dengan teknologi yang mandiri. Menciptakan teknologi yang mandiri, artinya harus bisa juga menjawab tantangan masyarakat ekonomi menengah kebawah seperti petani.

Kita bisa menciptakan alat teknologi yang mudah digunakan oleh petani dengan harga yang terjangkau. Tidak perlu menggunakan teknologi komputerisasi yang susah digunakan oleh petani.

Menciptakan teknologi juga tidak asal-asalan. Untuk mandiri teknologi, kita juga harus memperhatikan petani, nelayan, dan pekebun agar tingkat kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Ketika kesejahteraan masyarakat meningkat, biaya untuk penelitianpun dapat meningkat.

Dosen perguruan tinggi harus dilibatkan lebih banyak untuk penelitian, bukan untuk proyek. Saya yakin untuk mandiri dalam teknologi, Pemerintah Indonesia tidak bisa bergerak sendiri. Indonesia butuh perusahaan untuk mengembangkan teknologi, karena dana Indonesia yang terbatas tadi.

Jika kita lihat perguruan tinggi di Arab Saudi, King Abdullah University of Sains and Technology usianya masih sangat muda tetapi sudah menghasilkan peneliti dengan riset yang baik. Ini karena perguruan tinggi dipertemukan dengan perusahaan sehingga dana untuk penelitian tidak selalu mengandalkan dari pemerintah.

Bukan bermaksud untuk komersialisasi pendidikan, tetapi pemerintah tidak dapat mengembangkan teknologi dengan sendiri.

Juga hal yang tidak kalah penting, ciptakan regulasi yang tidak merugikan negara. Ketika kita bekerja sama dengan perusahaan luar, jangan sampai teknologi tersebut diklaim oleh negara asal perusahaan.

SHARE
Previous articlePentingnya Kebersamaan
Next articleMenantang Yap Berperkara Kejujuran Penegak Hukum
Tougoss Sasky Baiano Samosir
Tougoss Sasky Baiano Samosir lahir di Jakarta, 16 Februari 1992. Saat ini sedang menyelesaikan studi di Institut Teknologi Bandung, jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika. Hobby membaca buku, menggambar, main game.