Hey, Jangan Durhaka Bernegara!

Hey, Jangan Durhaka Bernegara!

636
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Betapa bangganya saat mendengar kabar dua mahasiswa Indonesia berhasil meraih medali emas dalam International Young Inventor Award 2016. Imam Syafii dan M. Fajarhadi unggul karena penemuan alat pengundang cumi-cumi untuk bertelur sehingga bisa dibudidayakan. Prestasi ini tak pelak menambah daftar panjang prestasi dunia pendidikan Indonesia.

Tahun 2011 silam anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) pernah meraih penghargaan dalam 12th Asian Physics Olimpiad (APhO) yang diselenggarakan di Tel Aviv, Israel. Tim Olimpiade Kimia Indonesia (TOKI) juga berhasil menyabet medali emas dalam ajang 43th International Chemistry Olimpiad di Ankara, Turki pada Juli 2011 lalu (adalah-solihin.blogspot.co.id).

Siapa juga yang menyangka penemu dan pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM yang keren itu ternyata seorang Indonesia tulen. Kecerdasannyalah yang menjadikan Prof. Dr. Khoirul Anwar menjadi sosok yang sangat dihormati di negeri orang. Ia bekerja di Nara Institute of Science and Technology, salah satu universitas negeri di Jepang yang terkenal dengan risetnya yang bersaing dengan top university.

Pasti Anda juga mengenal Prof. Dr. Ken Kawan Soetanto si peraih 31 paten yang tinggal di Jepang. Kemudian mantan presiden Prof. Dr. Ing BJ Habibie yang memegang 46 paten di bidang aeronautika. Bahkan, pada masa-masa perjuangan kemerdekaan saja para tokoh bangsa kita seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Johannes Leimena dan banyak tokoh lainnya selalu disebut-sebut sebagai golden generation berkat pemikirannya yang melampaui zaman.

Berita dan catatan sejarah tentang prestasi anak bangsa ini tak pelak membuat kita semakin yakin bahwa kualitas SDM Indonesia sesungguhnya tidak kalah dengan negara lain. Alangkah pandirnya tatkala kita justru tenggelam dalam kampanye hitam yang mencuci otak bahwa kita tidak akan mampu menjadikan negeri ini maju.

Namun, jangan sampai prestasi ini membuat kita terlena. Kemajuan tidak serta-merta menghilangkan masalah. Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia dua bulan lalu (17/8) kembali mengingatkan kita bahwa kemerdekaan itu hanya jembatan emas. Selanjutnya adalah tanggung jawab kita bersama.

Pembukaan UUD 1945 tegas mencatat salah satu cita-cita kemerdekaan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Pertanyaannya, sudahkah kita selesai dalam mencerdaskan kehidupan bangsa?

Tak bisa dipungkiri di kala pertumbuhan kualitas pendidikan meningkat, ketimpangan antar daerah di Indonesia masih terus mengikuti. Mari sejenak kita lihat ke sekolah-sekolah di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Betapa pengetahuan para siswa masih jauh di bawah rata-rata. Mereka seperti terombang ambing di lautan tanpa tahu arah tujuan. Siswa ketinggalan di kala ilmu pengetahuan berkembang pesat dalam hitungan detik.

Jumlah guru saja terbatas konon berharap akan lengkapnya fasilitas pendidikan. Di luar kelas, konten pembicaraan para guru kerap kali tidak mencerminkan kualitas seorang pendidik. Terkadang kita jadi bertanya-tanya apakah selama ini kita terlalu muluk-muluk berharap revolusi mental akan berhasil bila sekolahnya saja seperti ini.

Kita harus akui bahwa rusaknya pendidikan tidak lepas dari kedurhakaan kita bernegara. Jangan-jangan kita melulu minta ini dan itu tapi enggan berkontribusi. Selalu menyalahkan pemerintah. Tak pernah mengoreksi diri. Lupa bertanggung jawab akan kemerdekaan yang diwariskan bagi kita.

Quo vadis bangsa ini tergantung bagaimana kita menyeimbangkan perahu agar tidak tenggelam. Terus berharap disuapi pemerintah sama saja tak mau bergerak ke kiri saat kapal yang kita tumpangi sedang oleng ke kanan karena kencangnya ombak di lautan.

Dulu guru mengeluh karena tidak sejahtera. Tatkala kesejahteraan dijamin mengapa tetap saja tidak sebanding dengan kualitas pendidikan yang dihasilkan? Kita mengeluh kok moral siswanya jelek? Lantas kita mengajukan pendidikan budi pekerti di sekolah. Budi pekertipun diajarkan sama polanya dengan mengajarkan ilmu matematika.

Padahal sikap guru selama mengajar adalah pendidikan budi pekerti yang sesungguhnya. Kebiasaan orang tua, perilaku pemerintah serta lingkungan masyarakat itulah acuan moral para siswa.

Di sisi lain kita kerap menunjukkan hilangnya empati di antara kita. Di kala kita mengeluh karena bangku-bangku kelas yang belum diganti baru, di pelosok ada yang bersyukur karena masih bisa duduk lima orang di satu meja.

Kita mengeluh akan kurangnya perhatian pemerintah terhadap riset-riset pendidikan, sementara di pelosok kebutuhan akan guru yang mempuni saja masih sulit kita sediakan. Lalu guru yang mengeluh karena kekurangan jam pelajaran itu justru biasa terjadi di kota-kota besar.

Sekarang saatnya kita berefleksi dan saling introspeksi. Sudahkah kita memaksimalkan kemerdekaan kita untuk meningkatkan potensi dan karakter agar laik menjadi aset bangsa hingga suatu hari kelak mampu mengangkat derajat mereka yang belum merdeka?

Atau kita lebih memilih sibuk di media sosial, ikut tawuran memamerkan otot dan kekuatan kelompok, mem-bully seakan kehilangan empati akan korbannya yang acap kali sedang terpuruk kehidupannya. Sementara kita harus bersaing dengan bangsa lain yang sudah melangkah jauh meninggalkan kita.

Bukankah kita punya kesempatan untuk berbagi ilmu dengan mereka yang tidak mampu mengakses pendidikan? Bukan soal pendidikan itu mahal, namun karena waktu mereka terlalu banyak terkuras untuk mencari sesuap nasi.

Yuk, satukan gerakan membagi ilmu dengan mereka. Bersama pikirkan peluang untuk bisa keluar dari sengkarut ketidakberdayaan. Ini bukti bahwa kita sudah mengecap pendidikan yang hakikatnya bertujuan untuk memanusiakan manusia.

Bila kita melakukannya tentu akan memberi inspirasi dan sentakan bagi pemerintah bahwa kita bukanlah pengkritik tanpa solusi. Kita akan mulai semua ini dengan mempraktekkan satu per satu dari gagasan yang kita miliki.