Sudah Kemana Ahli Kita Saat Ini?

Sudah Kemana Ahli Kita Saat Ini?

753
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Agustus 2015 yang lalu saya melakukan suatu proyek survei pemetaan dari suatu lembaga pemerintahan. Saya melakukan proyek itu di Maumere dan Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mendapatkan pengalaman seperti itu adalah sesuatu yang luar biasa bagi saya. Entah mengapa Tuhan menempatkan saya disana. Ketika menginjakkan kaki di Bandar Udara Eltari, Maumere, saya langsung disambut hangat oleh angin yang sangat kencang dan sejuk. Maklum Maumere adalah daerah yang dekat dengan laut. Seumur hidup, saya belum pernah merasakan angin pantai yang sangat kencang dan sejuk seperti itu.

Setelah sampai kami ke penginapan dan  menikmati pemandangan disana. Maumere kota yang bersih serta jarang sampah dan angkutan umum. Minimnya angkutan umum disana mengharuskan kami menyewa tukang ojek untuk bepergian kemanapun.

Sebenarnya ada angkutan umum disana, tetapi angkutan itu mengangkut orang dari desa yang terpencil ke kota seperti Maumere. Tetapi ini tidak masalah bagi saya karena setidaknya ada kendaraan yang dapat digunakan selagi kami bertugas untuk melakukan survei.

Ketika pagi-pagi benar, kami harus melakukan survei. Sebenarnya sebelum kesana, saya berpikir bahwa semua kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sedikit tertinggal, ternyata tidak sama sekali! Mungkin seperti sistem perangkutan umum disana belum bagus dan karena semua orang sudah memakai motor jadi tidak perlu angkutan umum. Saya sangat menikmati indahnya pemandangan pantai disana.

Setelah survei di dekat pantai, saya mulai survei ke daerah pegunungan. Ternyata perbedaan desa di daerah pantai dan pegunungan disana sangat berbeda. Daerah pantai yang tentu saja kebanyakan nelayan ternyata mengalami perkembangan yang lebih baik. Tetapi daerah pegunungan yang ada disana sangat kesusahan apalagi masalah air.

Di daerah pegunungan di Maumere yang saya survei ternyata kekurangan air. Akibatnya kebun yang dimiliki warga sekitar tidak bisa disiram setiap hari. Kalau pun ada air, ada orang yang menyediakan karena memiliki teknologi pompa dan mereka harus membeli air tersebut kepada sang empunya pompa. Bendungan disana tidak berjalan dan sistem irigasinya juga tidak berjalan.

Sungguh miris rasanya melihat, ternyata 71 Indonesia merdeka kita bahkan masih belum bisa menyejahterakan banyak orang. Jadi apagunanya keilmuan yang dipelajari kalau bahkan untuk membantu rakyat di daerah tidak bisa. Pemerintah masih belum berhasil menciptakan teknologi yang berguna untuk masyarakat.

Ketika saya bertanya kepada mereka, mereka pun menjawab bahwa ternyata mereka sering gagal panen karena susahnya air. Akhirnya hasil panen kadang dijual dengan murah karena hasilnya tidak baik.

Masyarakat disana selain membeli air, hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan mereka. Selain untuk kebun yang mereka usahakan, air untuk kebutuhan mereka sehari-hari pun kurang. Saya melihatnya dengan hati iba sambil mengerjakan pekerjaan yang menjadi tugas saya. Saat  sampai dipenginapan, saya tertegun melihat kondisi ini.

Setelah survei di Maumere selesai, kami melanjutkan survei ke Ende. Kebetulan kami menginap di daerah dekat Danau Kelimutu. Berbeda dengan di Maumere, ternyata pengairan di daerah ini cukup baik. Tidak seperti di Maumere yang hanya mengandalkan air hujan dan membeli air pompa. Ternyata di provinsi yang sama terjadi hal  yang berbeda.

Sistem pengirigasian di Ende cukup baik, tetapi bendungan disanapun kebanyakan mati. Tetapi berbeda dengan di derah pantai yang ada di Ende. Nelayan disana lebih miris dibanding dengan nelayan yang ada di daerah Maumere. Nelayan di Maumere lebih maju dalam teknologi nelayan.

Jadi, saya pernah naik kapal untuk survei di tengah laut untuk memastikan pulau dan pak nelayan berkata, “Mas kalau entar balik ke Jakarta, bilang sama Jokowi ya, peralatan (terutama kapal bermesin) kita disini kurang akhirnya untuk menangkap ikan kita masih pakai bom biar dapat banyak. Bilang ke Jokowi, kalau nggak mau lingkungan rusak akibat kami bom karena menangkap ikan, kasih kami peralatan yang bagus biar kami juga nggak ngerusak lingkungan.”

Dari percakapan tadi, awalnya saya berpikir, “Kok si bapak ini ngancam-ngancam segala yah.” Tetapi setelah saya pikirkan lagi, ada benarnya juga. Tidak mungkin mereka membuat kekacauan seperti itu kalau kebutuhan mereka terpenuhi. Akibat miskinnya mereka, sampai mereka melakukan hal tersebut. Mereka frustasi tidak tahu harus melakukan apalagi. Sekali lagi perhatian pemerintah kurang dalam membantu nelayan.

Sekali lagi saya berkata, kemana ahli perikanan kita untuk mengedukasi nelayan dan kemana mereka sehingga mereka tidak bisa memberikan teknologi yang baik untuk nelayan sehingga nelayan tidak merusak lingkungan.

Akhirnya, September  tahun 2015 kami pulang ke Jakarta dan tim survei kembali ke rumah masing-masing. Dalam benak saya, ingatan tentang dua daerah tadi tetap terpikirkan sampai saat  menuliskan cerita ini.

Sampai kapan kita membiarkan mereka tanpa peralatan yang memadai sehingga mereka tersiksa bahkan sampai merusak lingkungan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Semoga kita bisa menjawabnya.