Pendidikan di Indonesia: Masih Pedulikah Kita?

Pendidikan di Indonesia: Masih Pedulikah Kita?

1780
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Secara kuantitas, terdapat perkembangan jumlah fasilitas pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia dari SD hingga Perguruan Tinggi, tetapi apabila diperhatikan lebih seksama, pengembangan pendidikan masih terpusat di Pulau Jawa. Sebagai contoh, apa anda tahu dimana itu Mamit? Daboto? Tomohon? Labuan Bajo? Mungkin ada yang pernah, mungkin juga ada yang belum.

Nama-nama diatas adalah beberapa nama daerah di Indonesia, yang saya jarang sekali dengar; namun syukur, saya mendengar kabar baik di lingkungan yayasan dimana saya bekerja bahwa beberapa sekolah telah dibangun di daerah tersebut.

e1
Gambar 1 Pertumbuhan Fasilitas Sekolah Menurut Tingkat Pendidikan pada Desa-Desa di Indonesia.

Melihat kembali Indonesia secara umum, dari jumlah desa yang memiliki fasilitas sekolah menurut provinsi dan tingkat pendidikan dari 2003 hingga 2014, jumlahnya bertambah setiap tahun[i] (Gambar 1).

Secara kasat mata pengembangan fasilitas pendidikan memang memegang peranan penting dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Terlihat efek laten yang dirasakan dalam meningkatkan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan[ii] melalui pengembangan pendidikan selama ini dirasa cukup efektif melihat jumlah penduduk miskin yang berkurang secara kuantitas dari waktu ke waktu (Gambar 1).

Sehingga dari segi kuantitas, selama ini pemerintah telah menunjukkan upaya untuk meningkatkan fasilitas pendidikan di seluruh Indonesia. Ini ditunjukkan juga oleh Purnastuti and Izzaty (2016) bahwa ini didukung oleh nilai investasi yang ditingkatkan oleh pemerintah, dan juga peran pihak swasta pada industri pendidikan.

Kita melihat fasilitas pendidikan dari tahun ke tahun mulai naik dan menunjukkan secercah harapan. Tetapi, saya yakin kita juga perlu paham bahwa kuantitas semata tidak dapat sepenuhnya menjawab masalah utama pendidikan itu sendiri.

Meninjau Education Index sebagai indicator pendidikan global[iii], Indonesia masih ada di peringkat 108 dari 200 negara; masih jauh dibawah Singapura, Cina, Jepang, Brunei, dan Malaysia. Jumlah publikasi penelitian dari Indonesia pun–yang terindeks pada Scopus – masih terbilang relatif sedikit dibandingkan negara-negara tetangga, dimana posisi Indonesia masih berada di urutan 57 dari 239 negara[iv].

Paradigma pendidikan masyarakat Indonesia harus berfokus kepada kualitas, menjamin mutu para civitas yang pada akhirnya mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Studi telah menunjukkan bahwa pendidikan memegang peranan penting untuk pemerataan kesejahteraan, penghasilan, dan tentunya taraf hidup (Psacharopoulos, 1994, Gregorio and Lee, 2002, Saint-Paul and Verdier, 1993). Sehingga, cita-cita bangsa kita adalah mencapai pendidikan yang memadai dari segi kuantitas, namun juga mumpuni dari segi kualitas.

Fakta yang ada, jumlah guru di seluruh Indonesia mencapai tiga juta orang; ada daerah yang kelebihan, ada yang kekurangan[v]. Di sisi lain, Kemenristek Dikti pun masih menilai bahwa peningkatan kualitas dosen masih terus perlu ‘dipompa’ dimana secara nasional Indonesia membutuhkan 22 ribu professor, namun hingga saat ini hanya 5 ribu professor tersedia[vi]. Mutu dosen di Indonesia masih jauh dari negara lain karena produktivitasnya dalam jumlah publikasi[vii].

Pertanyaannya, masihkah ada yang peduli dengan kualitas pendidikan kita? Masih adakah orang yang dengan soft competency maupun hard competency mereka mau terjun kedalam lahan pendidikan ini yang relatif kalah pamor dibandingkan industri lainnya.

Ironisnya lagi, profesi guru dan dosen masih dianggap profesi yang ngga keren, profesi ‘buangan’ bagi mereka yang ngga laku di pasar tenaga kerja. Sebagai seorang alumni dari PTN yang menurut khalayak ramai adalah salah satu PTN bergengsi, saya sering sekali mendengar ambisi-ambisi kolega dan civitas saya untuk berkarir setinggi-tingginya, mencapai kehidupan semakmur-makmurnya, dan mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Singkatnya, berkeluarga, kaya raya dan pensiun dini. Itu kenapa buku-buku motivasi dengan iming-iming cepat kaya menjadi best seller di Gramedia.

Target menjadi pegawai di perusahaan-perusahaan multinasional atau menjadi pejabat pemerintah dengan gaji double digit telah merasuki pikiran dan mendarah daging di sebagian teman-teman saya. Sangat amat jarang, terlintas di pikiran mereka untuk mau terjun ke pendidikan, karena ‘lahan’ ini dirasa kurang dapat menyejahterakan kehidupan seorang lulusan PTN terbaik bangsa.

Beberapa dari mereka yang sekolah ke luar negeri pun–dengan uang rakyat Indonesia–memiliki niatan untuk tidak kembali ke Indonesia dengan pertimbangan, “Buat apa saya kembali ke Indonesia jika sekembalinya saya tidak dihargai?” Di beberapa konferensi internasional yang saya datangi, masih ada saja dosen-dosen bergelar S3 yang presentasi menggunakan Bahasa Indonesia meskipun konferensi tersebut menyandang judul International Conference.

Ini hanyalah random sampling dari lingkaran sekeliling saya. Begitu banyak yang membicarakan kondisi Indonesia, berkoar-koar dari A sampai Z mengenai politik bangsa dan tata negara, namun hanya didalam awang-awang semata. Dirinyalah pusat segala sesuatu, di hatinya tidak ada tempat buat Indonesia, apalagi untuk pendidikan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya merata. Dengan gelar dan almamater yang dipunyai, kesejahteraan dirinyalah yang menjadi pusat.

Omong kosong dengan hati maupun panggilan kepada misi mulia, yang tidak membawa faedah jasmani bagi saya. Dengan kompetensi yang dipunyai, lebih baik meraih kekayaan dan kesejahteraan sebanyak-banyaknya daripada berjerih lelah bagi Bangsa. Biarlah negeri ini berjuang melepaskan diri sendiri didalam kubangannya. Bukankah pemikiran ini sering kita dengar secara implisit dari kolega di sekeliling kita?

Namun di sisi lain kita patut bersyukur bahwa masih ada lilin-lilin kecil yang mau turut serta dalam pemerataan pendidikan Indonesia diantaranya Indonesia Mengajar[viii] yang berfokus pada pengembangan pendidikan di Indonesia.

Sayangnya, sang Pendiri yang sempat menjadi Menteri pendidikan Indonesia pun harus tergeser oleh ia yang mencanangkan program full day school. Tetapi gerakan ini juga perlu didukung oleh semangat generasi mudanya yang mau peduli akan bangsa Indonesia.

Adalah omong kosong apabila pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan di seluruh Indonesia, jika tenaga pengajarnya tidak memiliki kompetensi mumpuni dan akhlak yang sepenuhnya bertakwa kepada Tuhan. Pada umumnya orang melihat bahwa guru dan dosen adalah pekerjaan yang tidak cukup menyejahterakan, ngga keren, ngga menjanjikan.

Tetapi apabila dua profesi ini hilang, atau tidak bermutu, maka hancurlah karakter bangsa. Pertanyaannya sama, masih pedulikah kita pada pendidikan Indonesia? Masih maukah kita ‘turun kasta’ dari gelar perguruan tinggi ternama untuk menjadi pengajar yang notabene dipandang sebelah mata?

Realita yang kita hadapi, profesi pengajar dianggap rendah, dilihat sebelah mata, tetapi pada kenyataannya tanggung jawab yang ada pada pundaknya menentukan masa depan suatu bangsa. Menjadi guru atau dosen tidak hanya berkewajiban mengajarkan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga akal budi dan moral bagi para mereka yang ada di kelas-kelasnya. Karena bagi saya, pada hakikatnya ilmu pengetahuan tanpa spiritualitas adalah kebinasaan dan spiritualitas tanpa pengetahuan adalah kebodohan.

Masihkah ada dari generasi muda ini, di bangsa kita sendiri, yang memiliki hati dan panggilan untuk ada bagi pendidikan Indonesia? Tujuh puluh satu tahun sudah Indonesia merdeka, tetapi apabila pikiran kita masih dipenjara dengan kekuatiran akan diri semata dan bukan misi mulia bagi dunia, maka saya yakin kemerdekaan itu hanyalah sampai pada naskah semata tanpa implementasi nyata dalam realita kita di Indonesia.

Karena bagi saya, “Masa muda mereka, masa depan kita.”

Sumber:
GREGORIO, J. D. & LEE, J. W. 2002. Education and income inequality: new evidence from cross‐country data. Review of income and wealth, 48, 395-416.
PSACHAROPOULOS, G. 1994. Returns to investment in education: A global update. World Development, 22, 1325-1343.
PURNASTUTI, L. & IZZATY, R. E. 2016. Chapter 8 – Access and Equity in Higher Education in Indonesia: A Review from the Periphery. Widening Higher Education Participation. Chandos Publishing.
SAINT-PAUL, G. & VERDIER, T. 1993. Education, democracy and growth. Journal of Development Economics, 42, 399-407.

[i] https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/905

[ii] https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1494

[iii] http://hdr.undp.org/en/content/education-index

[iv]http://scimagojr.com/countryrank.php

[v]https://m.tempo.co/read/news/2015/06/14/079674895/mengkhawatirkan-kualitas-guru-indonesia-seperti-air-keruh

[vi]http://www.kopertis12.or.id/2016/06/05/kemenristek-dikti-peningkatan-kualitas-dosen-masih-terus-dipompa.html

[vii]http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/blob/F6847/Kualitas%20Guru%20dan%20Dosen%20di%20Indonesia.htm

[viii] https://indonesiamengajar.org/

SHARE
Previous articleDi Balik Tembok Gedung Bertingkat
Next articleAnomali Ekonomi di Ibu Pertiwi
Harriman Samuel Saragih
Harriman Samuel Saragih adalah Dosen ilmu Manajemen di Business School Universitas Pelita Harapan dan sedang menempuh program doktoral Sains Manajemen di School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung. Risetnya meliputi bidang marketing and business strategy khususnya dalam industri musik.