NKRI Harga Mati, Katanya?

NKRI Harga Mati, Katanya?

1123
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Indonesia adalah negeri yang super kaya. Bukan hanya karena kaya akan sumber daya alamnya, tapi juga suku, bahasa, agama, dan adat istiadat. Gemah ripah loh jinawi! Tapi lucunya, rakyatnya justru merasa negaranya miskin. Apalagi kebanyakan justru anak mudanya. Lho kok bisa?

Sekarang hayo ngaku, siapa yang masih fasih berbahasa daerah, hafal lagu-lagu daerah, menari tarian daerah, dan bermusik dengan alat musik khas daerah? Tidak begitu banyak bukan. Anak muda lebih bangga kalau bisa memainkan piano ketimbang angklung, biola ketimbang sasando rote, drum ketimbang gamelan.

Sekarang zamannya sekolah internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Panggilan guru menjadi keren juga lho. Miss, maam, mister, missus, dan sebagainya.

Indonesia memiliki 35 provinsi, 17.504 pulau, 633 suku besar, 749 bahasa daerah sehingga menjadi negara dengan bahasa daerah terbanyak kedua di dunia, 6 agama yang diakui dan belum kepercayaan lainnya, serta masih banyak lagi fakta kekayaan negara ini.

Indonesia punya 10 kekayaan alam yang tidak dimiliki negara lain lho. Ada kekayaan emas terbaik di dunia yang berada di Papua, cadangan gas alam terbesar di dunia Blok Natuna dan Blok Cepu, batu bara, kesuburan tanah terbaik di dunia, didukung dengan hutan tropis, lautan yang luas beserta kekayaan hayati di dalamnya, tempat wisata, jumlah pulau, bahasa, dan merupakan negara maritim terbesar di dunia.Keren banget kan?

Nah, bukti bahwa tidak begitu banyak rakyat Indonesia yang belum sepenuhnya mencintai negaranya dapat dilihat dari presentase orang yang ingin belajar lebih banyak tentang Indonesia lewat museum masih sedikit, tidak sedikit orang tua yang ‘mampu’ memilih menyekolahkan di luar negeri lalu berkarya disana dibanding di negaranya sendiri karena penghargaan disini kurang, gemarnya anak sekolah dasar dan bahkan taman kanak-kanak kini digembar-gembor bahasa Inggris sehingga mereka kurang fasih berbahasa ibu (Indonesia).

Gemas rasanya ketika berjalan di mall atau keramaian suatu acara melihat anak kecil bersama kedua orang tuanya yang asli Indonesia menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan mereka. Apakah mereka hanya ingin mengajarkan bahasa Inggris atau justru malu dengan bahasa Indonesia? Jika ingin belajar, jangan sampai anak tersebut justru lebih fasih berbahasa asing ketimbang bahasa negaranya sendiri.

Peribahasa “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” sekarang seakan menjadi sekedar wacana saja. Sedihnya justru sumber lunturnya cinta budaya negeri sendiri berasal dari keluarga dan sekolah, dimana disanalah seharusnya sedari dini diajarkan.

Keengganan melestarikan budaya dan bahasa semakin nyata seiring perkembangan teknologi. Teknologi kini dapat secara mudah diakses oleh siapa saja dan kalangan apa saja. Baik tua maupun muda. Teknologi yang berkembang dan tidak terbendung ini membuat anak, remaja, bahkan orang dewasa jauh dari kehidupan sosialnya.

Budaya gotong royong dan kepedulian sosial yang menjadi ciri khas orang Indonesia bergeser menjadi budaya egosentris berupa selfie, update status, dan masih banyak lagi.

Musik Indonesia kalah dari musik luar. Produksi musik dan perfilman juga hampir merosot. Tetapi untungnya era film horor yang mengumbar keseksian pemainnya sudah berlalu, berganti film Indonesia yang semakin berkualitas baik secara teknis maupun kontennya.

Kini film dan artis Indonesia makin dikenal di seluruh dunia walaupun belum begitu banyak.Tidak bisa dipungkiri, budaya negara barat, India, dan Korea (red. Korea Selatan) kian menjamur di Indonesia. Sempat juga Indonesia terkena demam film yang berasal dari Turki. Hallyu atau Korean Wave menginvasi anak-anak muda mulai dari musik, film, bahkan gaya berpakaian dan pemakaian teknologi (misalnya untuk chat, dll). Akan tetapi tahukah Anda kalau Korea dan India tidak dalam sekejab bisa membuat dunia terpesona oleh budayanya?

Korea Selatan mulai membangkitkan kebudayaan mereka di tahun 1995. Pemerintah Korea Selatan mendirikan biro industri kebudayaan untuk mengembangkan sektor media. Puncaknya pada 1999, film Korea berjudul “Shiri” dengan anggaran yang sangat besar dirilis. Film ini sukses besar dan hasilnya melebihi pendapatan dari film Titanic. Mulai saat itulah Korea Selatan semakin bangkit dan menginvasi negara-negara lain lewat budaya mereka.

Kita bisa melihat anak muda hingga orang dewasa kini gemar menonton film Korea, bahkan ada di antara mereka yang rela berpenampilan “imut dan menggemaskan” bak perempuan Korea. Mendadak musik Koreapun makin dikenal anak muda di Indonesia. Mereka belajar cara menari ala penyanyi Korea. Tak kalah dengan Korea, India telah lebih dahulu menginvasi Indonesia dengan produksi filmnya yang lebih dikenal dengan Bollywood.

Kebangkitan dan persebaran budaya negara-negara ini tidak lepas dari peran serta pemerintah juga masyarakatnya. Korea Selatan justru mengedepankan budaya untuk menjadi nilai komoditi ekspor yang tinggi. Masyarakatnya juga bangga dan ikut mendukung persebaran budaya ini.Nah setelah kita lihat bagaimana negara lain bisa mempengaruhi dan mengembangkan budaya mereka di tengah modernisasi serta gempuran budaya negara lain, bagaimana nih dengan kita?

Stop menyalahkan pemerintah! Ayo kita lihat ke diri kita sendiri terlebih dahulu. Seberapa banggakah kita menjadi orang Indonesia yang bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Ayo para anak muda, bergerak demi kemajuan budaya bangsa kita.

Kebanggaan kita tercermin dari sikap maupun pikiran kita. Coba deh kita pertahankan adat budaya ketimuran kita yang ramah, bhineka tunggal ika, saling menghargai, dan gotong royong. Kita sudah melihat Yasa Singgih, Liliana Natsir, Tontowi Yahya, Joey Alexander, Ferry Unardi, Mesty Ariotedjo, dan masih banyak lagi. Kamu kapan?

Akhirnya artikel ini ditutup dengan salah satu syair lagu gubahan dari Lastday Production: “Walau zaman kini telah berubah, jangan sampai nilai kitapun berubah. Boleh kekinian boleh update terus, tapi jangan lupa budaya kita.”

Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=66IkugJn06M
m.tempo.co