Ironi di Surga Dunia

Ironi di Surga Dunia

820
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Indonesia mewarisi sebagian besar kekayaan yang ada di dunia. Luas daratannya yang mencapai 1.919.440 km² menempatkan Indonesia sebagai negara ke-15 terluas di dunia. Indonesia memiliki pulau yang jumlahnya tidak kurang dari 17.508 pulau . Tanah yang subur, air yang melimpah, flora dan fauna yang beragam, kekayaan tambang, dan alam yang mempesona tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Kekayaan yang dimiliki Indonesia sudah seharusnya membawa negeri ini keluar dari angka kemiskinan yang tinggi, dan memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi rakyatnya. Namun, pada kenyataannya Indonesia masih bergumul dengan permasalahan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 15 tahun terakhir memang semakin menguat. Namun, manfaat dari peningkatan pertumbuhan ini hanya dinikmati oleh 20% masyarakat golongan menengah ke atas. Hal tersebut menunjukkan bahwa distribusi pendapatan di Indonesia masih tidak merata sehingga menciptakan ketimpangan yang semakin besar antara golongan si kaya dan si miskin.

Berbagai permasalahan ekonomi ini, sebenarnya sudah diatasi oleh pemerintah. Salah satunya dengan menarik para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Tujuannya tentu tak lain demi membantu perekonomian  negeri ini. Potensi yang dimiliki terbukti mampu menarik  minat investor.

Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa komitmen investasi pada Januari-Februari 2016 menembus Rp 561 triliun, naik 147,14% dibanding tahun sebelumnya. Komitmen investasi yang semakin meningkat menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menjanjikan. Keberadaan para investor ini dianggap mampu memberikan angin segar untuk ekonomi Indonesia dan mampu membantu percepatan pembangunan.

Namun pada kenyataannya, banyaknya investor yang menanamkan modal di Indonesia tak pula menjamin kondisi ekonomi Indonesia pulih secara merata. Ketimpangan tersebut semakin jelas, manakala pembangunan yang diharapkan menyebar ke seluruh wilayah nyatanya hanya fokus di wilayah Indonesia bagian barat. Keadaan ini semakin memperburuk keadaan. Begitu banyak wilayah yang bahkan seperti tidak tersentuh dan merasa diabaikan. Ketimpangan pun semakin jelas.

Tak jarang daerah yang memiliki begitu banyak potensi untuk membangun negeri ini, pembangunannya terasa sangat lambat. Ketimpangan dari tahun ke tahun semakin tinggi di tanah yang disebut-sebut sebagai “surga dunia”.

Ketika terjadi goncangan di negeri ini, mereka yang tertinggallah yang rawan dihimpit dampaknya. Pendidikan mereka sangat terbatas, fasilitas yang di dapat pun tentu tak sama, sementara tuntutan tiap harinya semakin tinggi.

Kualitas kehidupan mereka masih terbilang jauh dari kata layak. Ketidakadilan yang didapati mereka diawal mengurangi bahkan menutup peluang mereka untuk selanjutnya.

Ironisnya, mereka yang merasakan tersebut adalah pemilik ‘surga’ itu. Mereka tak berkecukupan di tanah mereka yang kaya, mereka tak hidup nyaman di rumah mereka sendiri. Mereka merasakan perlakuan yang tidak adil dan seringkali karena keterbatasannya mereka bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyimpan harapan untuk dapat merasakan hal yang sama di hari depan.

Sudah seharusnya permasalahan ini menemukan solusi. Walaupun memang proses tersebut tidak bisa berlangsung cepat, setidaknya harapan mereka yang tertinggal untuk hidup layak semakin jelas dan kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin tipis. Peran pemerintah sangat diharapkan untuk mampu menuntaskan permasalahan ini.

Pemerintah diharapkan untuk lebih getol lagi mencari solusi. Pemerintah dengan berbagai kebijakannya diharapkan mampu membantu memutus rantai ketimpangan setiap tahunnya dengan mencari dan mengatasi terlebih dahulu penyebab ketimpangan.

Perbaikan fasilitas umum, memperkuat program sosial, pemerataan pendapatan melalui penyediaan lapangan kerja dan pelatihan keterampilan adalah beberapa tindakan yang diharapkan bisa mengatasi kesenjangan tersebut. Negeri ini sebenarnya tidak kekurangan kekayaan dan keindahan untuk dinikmati bersama.

Selain peran pemerintah, kita yang telah merasakan ‘surga’ pun memiliki peran yang penting untuk membantu saudara kita menikmati ‘surga’ yang sama. Yuk!

SHARE
Previous articleAnomali Ekonomi di Ibu Pertiwi
Next articleThe Psychological Goals Information
Yanthi Yosefa Tobing
Gadis kelahiran Sidikalang, 17 Januari 1994. Saat ini sedang menempuh perkuliahan di Universitas Padjadjaran Bandung, Fakultas Hukum 2012, Program Kekhususan Hukum Pidana.