Di Balik Tembok Gedung Bertingkat

Di Balik Tembok Gedung Bertingkat

874
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Di suatu siang Jakarta yang panas, ada sekelompok ibu rumah tangga yang berkumpul di rumah ibu RT. Mereka berkumpul untuk mendapatkan penyuluhan mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Ketika tamu mereka datang untuk memberikan materi, sang tamu menyodorkan beberapa kertas yang akan diisi para ibu.

Betapa terkejutnya para tamu ketika ibu-ibu tersebut berkata bahwa mereka tidak bisa membaca dan menulis! “Jangankan menulis, mereka saja harus diajari untuk tanda tangan,” tutur salah seorang ibu yang untungnya bisa menulis.  Padahal, di seberang sungai di depan rumah ibu- ibu tersebut, ada hutan beton yang terdiri dari bangunan berpuluh- puluh tingkat, diisi oleh ratusan bahkan ribuan karyawan yang setiap hari berlomba mencari nafkah dari pagi hingga petang.

Pemandangan serupa terjadi di sebuah daerah di Jakarta Utara. Di balik gerbang sebuah perumahan elit ternama, tampaklah sungai yang sedang dikeruk dan rumah-rumah sederhana yang ada di tepiannya. Jalan di sebelah sungai tersebut pun tidak dapat dilalui dengan nyaman karena rusak berat.

Di kelurahan lain di Jakarta Barat, ada beberapa keluarga yang tinggal dalam 1 bangunan sangat sederhana. Mereka bahkan harus membuat giliran waktu tidur, karena tempat tinggal mereka tidak cukup menampung seluruh penghuni. Di salah satu desa di Kabupaten Bandung, sawahnya sangat luas, berhektar-hektar. Sayangnya, air yang mengaliri sawah tersebut berwarna hitam, tercemar oleh limbah puluhan pabrik yang berbaris di pinggir sungai.

Kesenjangan sosial yang ada di Indonesia, seringkali begitu jelas, perbedaannya bisa dilihat secepat membuka pintu belakang dari gedung pencakar langit menuju pelosok kampung dan gang-gang kecil yang mengisi sela-sela hutan beton.

Laporan dari Bank Dunia tahun 2015 menyatakan bahwa hanya 20% dari penduduk Indonesia yang mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dalam satu dekade terakhir. 80 % penduduk yang lain–sekitar 205 juta orang–tertinggal dan tidak mendapatkan keuntungan apapun dari pembangunan.

Dalam survei lain dari lembaga yang sama, hampir semua orang Indonesia menganggap bahwa distribusi penghasilan di Indonesia “sangat tidak seimbang” atau “tidak seimbang sama sekali” dan 61% responden menyatakan bersedia menerima pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah selama kesenjangan sosial bisa ditekan.

Banyak faktor yang menyebabkan tingginya kesenjangan sosial di Indonesia. Salah satunya adalah kesenjangan kesempatan yang diperoleh oleh setiap orang. Kesempatan adalah salah satu hal yang tidak bisa diprediksi, tapi bisa dipersiapkan. Dalam banyak kasus, tidak adanya kesempatan untuk berkembang memenjarakan seseorang dalam satu kondisi.

Sayangnya, tidak banyak juga kesempatan yang diperoleh oleh kaum yang terpinggirkan.  Pendidikan dan kesehatan merupakan dua hal yang belum bisa didapatkan secara merata oleh seluruh penduduk Indonesia, walaupun saat ini sudah ada usaha untuk mendistribusikan akses tersebut.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengikis tingginya kesenjangan sosial yang terjadi? Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan pada mereka yang tidak punya, bahkan tidak mengenal apa itu kesempatan.

Saat kita sedang menikmati akhir pekan di pusat perbelanjaan, atau sedang mengejar target pekerjaan, jangan lupakan bahwa di luar sana ada orang- orang yang belum mempunyai kesempatan untuk berkembang.

Kadangkala orang yang terpinggirkan mempunyai pandangan yang kurang baik terhadap orang yang mereka anggap lebih berada. Padahal seringkali hal itu merupakan stereotip saja. Kesempatan yang tidak mereka dapatkan, menjadi penyebab persepsi yang buruk.

Alangkah baiknya jika setiap dari kita bisa mulai berbagi, tidak selalu berarti materi, namun bisa juga pengetahuan dan harapan yang jauh lebih berharga. Saat itulah kita bisa semakin menghargai setiap kesempatan yang sudah kita dapatkan.

SHARE
Previous articleNKRI Harga Mati, Katanya?
Next articlePendidikan di Indonesia: Masih Pedulikah Kita?
Lydia Utami
Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”