Cerita Singkat di Perantauan

Cerita Singkat di Perantauan

811
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

“Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.” – Winston Chuchill

Suatu hari, saya melihat hasil pengumuman mahasiswa yang lolos ke Institut Teknologi Del. Bahagia rasanya saat melihat nama saya tercantum sebagai pendaftar yang lolos dalam ujian seleksi tersebut.

Saya diterima di program studi S1-Teknik Informatika. Saya sampai menuliskan ungkapan sukacita karena diterima sebagai mahasiswa di kampus itu melalui media sosial. Banyak yang mengucapkan selamat, dari mereka yang sudah tahu bahkan juga yang belum pernah mendengar nama kampus baru saya itu. Beberapa hari setelah pengumuman tersebut, saya bergegas menuju  kampus  untuk melakukan pendaftaran ulang.

Tepat di bulan Agustus 2014, saya sudah mempersiapkan semua persyaratan terkait apa saja barang yang bisa dibawa dan langsung menuju kampus tersebut. Sesampainya disana, saya  disambut baik oleh seorang senior. Saya  menanyakan kepadanya, “Bang, sebenarnya untuk apa sih barang ini?” Lalu beliau menjawab, “Kan kau mau tinggal di asrama.” Saya pun terkejut sembari berkata dalam hati, “Mungkin ini awal perubahan dalam diriku.

Hari demi hari berganti, sudah saatnya, dimana saya akan masuk kuliah dan resmi menyandang status sebagai mahasiswa. Saya  tersentak sejenak mengingat apa yang telah saya lakukan sebelumnya selama tinggal di asrama. Saya melakukan sendiri, tanpa bantuan dari orang tua; mencuci pakaian, menyetrika,  dan melipat baju saya sendiri. Saya tersenyum kecil dan berkata, “Yah, kayaknya aku mulai berubah.

Masa itu, di awal semester,  saya mulai mempelajari materi apa saja yang akan saya terima pada semester pertama. Jujur saja, saya cukup tegang pada pertemuan pertama di kelas. Ketika dosen  meminta kami  memperkenalkan diri. Setelah itu, beliau melanjutkan pertanyaannya, “Kenapa kalian memilih kampus ini dan jurusan teknik informatika?” Kami  terkejut saat  seseorang dari kami  menjawab, Karena kami mau belajar pak,kebingungan pun menghinggapi kami akibat jawaban itu.

Dosen tersebut tertawa dan menunjuk orang yang berada di sebelah saya untuk menjawab pertanyaannya sebelumnya. “Karena saya disarankan oleh keluarga saya untuk berkuliah di tempat ini dan saya juga hobi bermain dengan komputer pak, jawabnya. Bagi saya jawaban tersebut adalah jawaban yang akan saya katakan apabila ditanyakan demikian.

Usai perkuliahan tersebut, kami memiliki waktu free dan saya memanfaatkan waktu untuk berdiskusi sejenak dengan senior di kampus  terkait  jurusan yang saya pilih, persoalan yang akan dihadapkan kepada saya di jurusan tersebut juga prospek ke depan setelah kelulusan.

Beliau menjelaskan kalau jurusan yang saya ambil sangat menarik, dimana saya akan diajarkan untuk menciptakan suatu perangkat lunak, dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan yang menguras otak dan memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.

Prospek ke depannya, saya diyakinkan supaya tetap tenang, karena semua senior  yang telah lulus sebelumnya mendapatkan pekerjaan. Jantung berdetak kencang, tubuh saya kian merasa panas, seolah-olah mengumandangkan semangat! Lalu saya berpamitan kemudian berkeliling di areal kampus.

Saya sangat suka dengan suasana perkuliahan, berbeda dengan sewaktu sekolah, pakaian yang digunakan tidak harus diatur-atur. Bayangkan saja, setiap Senin sampai Kamis menggunakan baju putih dengan celana biru, sementara Sabtu menggunakan pakaian batik. Setiap minggu pakaian itu yang wajib kami gunakan, rasanya bosan! Kedewasaan pun mulai muncul sejak memasuki masa perkuliahan, karena dosen tidak akan peduli apakah  saat dirinya menulis materi di papan tulis saya mencatat ataupun tidak.

Tentu, setiap orang memiliki keinginan atau yang lebih tepat disebut dengan harapan. Harapan pastinya ingin diwujudkan. Saya adalah mahasiswa yang memiliki harapan. Saya ingin hobi dan jurusan saya ini dapat membantu orang lain dalam memudahkan pekerjaan mereka.

Udara dingin kian menusuk dan hari sudah semakin gelap, yang mengisyaratkan saya untuk kembali ke asrama dan beristirahat. Salam dari tepi Danau Toba!