Regenerasi Petani dan Modernisasi Desa

Regenerasi Petani dan Modernisasi Desa

1474
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Krisis regenerasi petani merupakan problem serius masalah pedesaan saat ini. Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) melansir data pada 2013, bahwa jumlah petani Indonesia hanya sekitar 14.248.864 orang, dari jumlah itu hanya 12 persen yang berusia di bawah 35 tahun sisanya berusia di atas 35 tahun, atau dalam artian tidak lagi muda. Dominasi “kaum tua” yang melakukan aktifitas ekonomi di pedesaan melahirkan kekuatiran hilangnya tenaga produktif pedesaan.

Anak muda desa seolah enggan meneruskan budaya bertani karena realitas yang disajikan dalam dunia pertanian yang terbelakang, melarat dan penuh ketidakpastian. Rendahnya nilai tambah dan ketertinggalan teknologi menjadi faktor alasan anak-anak petani lepas dari dunia asalnya yaitu sektor pertanian.

Kegentingan seakan bertambah gawat, ketika kenyataan menunjukkan bahwa, jumlah rumah tangga petani menurun hingga 5,09 juta selama 10 tahun terakhir. Tahun 2013 jumlah rumah tangga petani Indonesia tersisa 26,14 juta rumah tangga atau turun 16 persen  per 10 tahun, yang pada tahun 2003 tercatat 31,23 juta rumah tangga tani. Data tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa petani bukan lagi profesi yang menjanjikan.

Perlu diketahui bahwa, jika rata-rata laju penurunan rumah tangga petani 1,75 persen per tahun (tetap), maka dalam jangka waktu 57 tahun ke depan jumlah rumah tangga petani sama dengan nol. Namun, jika laju penurunan jumlah rumah tangga petani meningkat tiap tahun, maka kurang dari 57 tahun lagi petani Indonesia punah.

Turunnya angka rumah tangga petani dapat diartikan sebagai hilangnya produsen pangan yang sekaligus berubah peran produsen menjadi konsumen. Hal ini patut dikuatirkan karena kemampuan rakyat dalam melakukan tata kerja produksi pertanian menjadi hilang. Perlu upaya serius untuk memutus laju hilangnya petani.

indonesia-1364637_640

Menahan generasi muda pedesaan agar tidak termobilisasi ke kota dengan jenis pekerjaan di luar sektor pertanian membutuhkan terobosan. Setidaknya keyakinan untuk tetap berbudidaya petani harus lebih dahulu dimiliki oleh orang tua petani sendiri. Kemudian, generasi tua petani dapat meyakinkan anak-anaknya mengenai kecintaan bekerja pada sektor pertanian.

Upaya khusus untuk menumbuhkan regenerasi petani searah dengan agenda Nawacita, yaitu membangun Indonesia dari desa. Keluarga berperan penting dalam upaya mentransfer dan melestarikan pengetahuan tata produksi pertanian.

Keluarga petani juga menjadi tempat nilai-nilai kemuliaan sektor pertanian didiskusikan sesama anggota keluarga. Keluarga menjadi titik pijak terpenting untuk menahan laju perpindahan tenaga kerja dan perubahan mata pencaharian dari pertanian ke non-pertanian.

Satu upaya holistik dan sungguh-sungguh untuk meregenerasi petani tak cukup hanya di titik pendidikan anak petani dalam keluarga. Tahapan penting setelah itu adalah mempersiapkan pedesaan sebagai basis teritorial berkembangnya pengetahuan, pengalaman dan praktek pendidikan dari keluarga. Anak-anak petani di desa harus dibekali pendidikan karakter dan kesadaran agraria yang cukup.

Selain itu, pengetahuan mengenai koperasi, tata produksi pertanian teknis, teknologi tepat guna dan teknologi pangan adalah pengetahuan yang mesti dipegang oleh generasi muda petani. Pengetahuan mengenai modernisasi ekonomi desa hingga rantai pasokan hasil panen harus diberikan kepada anak-anak petani sebagai bentuk penyiapan struktur ekonomi pedesaan yang progresif.

Pengembangan pedesaan yang utuh termasuk memberikan ilmu pengetahuan pada anak-anak petani akan mempengaruhi kapasitas dan berjalannya roda ekonomi di desa. Pengembangan pengetahuan, kemampuan dan kapasitas akan menggerakkan unit-unit ekonomi pedesaan yang saling berelasi dan menguatkan satu sama lain.

Wujud paduan tersebut dapat ditemukan dari integrasi antara unit-unit ekonomi lintas bidang pertanian, peternakan, perikanan hingga teknik mekanisasi dsb. Dalam hal ini, negara harus hadir dalam aspek penjaminan tersedianya pasar dari hasil berkembangnya unit-unit ekonomi pedesaan. Negara juga memiliki determinasi khusus mengenai pendistribusian teknologi yang mutakhir ke desa-desa.

Pendidikan sebagai sebuah proses akumulasi pengetahuan dan pembangunan karakter perlu diterapkan dari tingkat keluarga, masyarakat hingga pedesaan. Realitas memperlihatkan, bangsa-bangsa yang berkarakter kuat mampu ‘menaklukan’ dunia melalui berbagai bidang kehidupan, sekaligus menguatkan integritas dan jatidiri-nya.

Bangsa Jepang dan Korea Selatan menjadi contoh yang menarik: mereka mampu memadukan filosofi traditif yang mereka hidupi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jepang dan Korea Selatan menciptakan kekuatan karakter—hingga bangsa-bangsa lain rela memahami mereka dalam berbagai relasi.