Pendukung yang Luput dari Perhatian

Pendukung yang Luput dari Perhatian

853
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Ketika membaca sepenggal kalimat “Berjaya di tengah kekacauan,”¬†mungkin yang pertama kali terlintas dipikiran kita adalah kisah-kisah tokoh dunia yang mampu membalikkan keadaan yang kacau menjadi masa-masa keemasan bagi dirinya maupun usaha yang dikelolanya. Begitu banyak kisah yang sangat menginspirasi dan dijadikan pedoman hidup masa kini. Bahkan para motivator kerap kali menyebutkan kisah-kisah mereka dalam deretan training yang dijalaninya.

Ketika saya sedang berjalan-jalan mengitari mall di kota tempat saya tinggal, saya tertarik dengan toko dengan brand Hush Puppies. Saya kembali teringat dengan buku yang sedang saya baca berjudul Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Dalam buku tersebut diceritakan secara singkat beberapa kisah dari produk yang berjaya hingga mencapai tipping point-nya. Salah satunya Hush Puppies.

Bagi pecinta fashion, pasti sudah tidak asing dengan brand tersebut. Pada awalnya Hush Puppies adalah sepatu klasik berkulit suede buatan Amerika yang tidak digandrungi pecinta fashion sama sekali. Bahkan merk sepatu ini sempat akan diberhentikan proses produksinya karena sama sekali tidak menjanjikan di dunia bisnis.

Namun, di tengah kekacauan dan keputusasaan itu, muncul kabar mengejutkan. Sepatu brand Hush Puppies tiba-tiba dilirik dan digandrungi oleh begitu banyak penikmat fashion. Dalam kurun waktu 2 tahun, Hush Puppies merajai setiap mall di Amerika dan membuktikan kejayaannya.

Hampir sama halnya dengan kisah Kentucky fried chicken (KFC). Siapa yang tidak mengenal KFC? Saat ini gerai KFC berjajar rapi dibanyak kota berbagai negara. Di balik masa kejayaan KFC ini, ada seorang Kolonel Harland Sanders yang memperjuangkannya selama 2 tahun penuh ke semua sudut kota di Amerika. Adapula, Steve Jobs pendiri Apple yang memulai usahanya dari garasi yang sempit sebelum akhirnya mencapai kejayaannya hingga saat ini.

Masing-masing kisah diatas memiliki perjalanan yang tidak mudah untuk bisa berjaya hingga saat ini. Mereka yang bertahan ditengah kekacauan adalah mereka yang mempunyai perencanaan yang matang, dan berani mengambil tantangan di tengah kekacauan yang sedang dialaminya. Namun, kedua hal tersebut tidaklah cukup tanpa adanya disiplin dan kreatifitas.

Diantara pembaca mungkin mengingat kisah pedih berakhirnya perjalanan produk elektronik Nokia. Dulunya, brand Nokia yang memiliki tagline connecting people ini sempat booming dan merajai pasar gadget di seluruh dunia. Namun, seiring berjalannya waktu ternyata Nokia tidak mampu bertahan di tengah persaingan yang kian ketat. Apa penyebabnya?

Salah satu penyebabnya, nokia tidak mempersiapkan perencanaan yang matang dimasa depan. Nokia terlambat untuk menyadari cepatnya perkembangan brand yang menggunakan android. Kepercayaan diri nokia yang tetap mengandalkan softwarenya sendiri tidak berbanding lurus dengan usaha pengembangannya. Nokia seakan lupa pasar bisa begitu cepat berubah.

Kisah nokia sebenarnya sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Terlalu percaya diri dan hanya ingin mengandalkan kemampuan sendiri juga seringkali menjadi kerikil yang siap menjatuhkan kita kapanpun dan dimanapun. Kejayaan memang sepenuhnya berasal dari apa yang kita lakukan, dan bagaimana kita merencanakan hingga menghadapi berbagai tantangan. Tapi seringkali kita terlalu fokus dengan dunia kita sendiri, seakan kita melupakan faktor yang mendukung di luar diri kita.

Salah satu kehebatan Hush Puppies menjadi digandrungi bukan hanya karena desainnya yang baik tapi jauh sebelum itu ada peran beberapa remaja hipster yang berani memperkenalkan produk Hush Puppies yang tidak terkenal itu kepada masyarakat umum. Sengaja atau tidak, mereka berhasil menciptakan selera konsumen dan menjadikan Hush Puppies terkenal. Pengelola Hush Puppies menyadari hal tersebut dan mengembangkan diri sehingga bisa mengimbangi selera konsumen hingga saat ini.

Model relasi demikian sedang ramai dibicarakan, kita sering menyebutnya sebagai  influencer. Influencer hanyalah faktor pendukung. Namun, kehadiran mereka bisa mempengaruhi orang lain melalui ide-ide kreatif dan inovasinya. Influencer seakan bisa mengenali kejadian dimasa mendatang dan membuatnya menjadi lebih dulu dikenal. Saat ini begitu banyak jenis usaha menggunakan influencer untuk bisa merajai berbagai aspek.  Influencer menjadi pilihan untuk mengatasi berbagai tantangan.

Influencer hanyalah satu dari beberapa banyak faktor pendukung yang bisa dimanfaatkan untuk keberhasilan berbagai bidang, namun seringkali hal tersebut seolah luput dari perhatian. Padahal apa yang kita anggap kecil justru memberikan dampak yang besar jka kita mengindahkannya.

Belajar untuk mengembangkan diri memang baik, tapi belajar mengembangkan diri sambil menggali dan mengembangkan faktor di luar diri akan membuat kualitas diri kita semakin baik. Dan hal tersebut yang membuat banyak tokoh dunia berhasil dan berjaya di bidangnya, mereka berhasil menguasai keduanya. Mengembangkan diri dan menggali hal-hal diluar diri sebagai pendukungnya.

SHARE
Previous articleBeta dalam Harapan, Energi dan Transformasi
Next articleBerjaya di Tengah Kekacauan
Yanthi Yosefa Tobing
Gadis kelahiran Sidikalang, 17 Januari 1994. Saat ini sedang menempuh perkuliahan di Universitas Padjadjaran Bandung, Fakultas Hukum 2012, Program Kekhususan Hukum Pidana.