Newbie Menang Lomba Pesawat

Newbie Menang Lomba Pesawat

880
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Saya teringat pengalaman tahun 2013 yang lalu. Saat itu, saya baru saja dilantik menjadi anggota himpunan mahasiswa di jurusan saya. Ada lomba indoor aeromodelling yang akan diikuti oleh himpunan ini. Para senior menawarkan saya dan teman-teman seangkatan untuk mengambil bagian dalam lomba ini. Himpunan kami mengirimkan 5 tim, semuanya berisi anggota baru.

Dalam lomba ini, peserta menerbangkan pesawat untuk menembus rintangan di arena. Bisa dibayangkan seperti lumba-lumba sirkus yang lompat melalui cincin api, harus menembus rintangan tepat pada lubangnya, tanpa menabrak rintangan itu. Pesawat yang dipakai peserta adalah pesawat handmade (buatan tangan tim sendiri, tidak boleh beli pesawat jadi) dan dikendalikan dengan remote control.

Tim yang saya ikuti berisi orang orang yang belum punya pengalaman aeromodelling, termasuk saya. Bisa dibilang, kami semua adalah newbie. Di antara newbie tersebut, saya yang ditunjuk jadi pilotnya. Dengan modal nekat dan cari pengalaman, saya bersedia. Agak pasrah juga sebenarnya, hahaha.

Kami mencari referensi desain pesawat terbang mainan melalui internet. Tentunya, pesawat yang akan dibuat harus mudah dikendalikan di dalam ruangan, karena pilotnya newbie. Selain itu, desain pesawat tim kami relatif sederhana (tidak banyak lekukan), agar mempermudah proses pembuatannya mengingat keterbatasan alat dan kemampuan kami. Beginilah gambar pesawat yang kami jadikan referensi.

Sumber gambar: http://flitetest.com/articles/DeltaScratchBuild
Sumber gambar: http://flitetest.com/articles/DeltaScratchBuild

Kami memiliki 1,5 bulan waktu persiapan. Persiapan ini kami rencanakan untuk merancang pesawat, membeli bahan-bahan, membuat pesawat, dan uji terbang. Sayangnya, kami kurang inisiatif untuk konsultasi dengan senior yang lebih berpengalaman. Kami juga terlalu santai di awal.

Akhirnya, rangka pesawat kami selesai satu hari sebelum lomba. Sisa waktu yang ada digunakan untuk memasang sistem elektronik ke dalam rangka tersebut. Masalahnya, motor listrik dan baterai tidak bisa dimasukkan ke dalam badan pesawat. Dalam merancang badan pesawat, kami tidak memperhatikan ukuran perangkat elektronik yang ada.

Kami pun nekat menghilangkan badan pesawat yang seharusnya menjadi pelindung sistem elektronik tersebut. Motor listrik dan baterai hanya dilindungi oleh lakban. Bahkan, sayap pesawat dilubangi untuk ruang baling-baling karena motor listrik diletakkan di tengah pesawat, bukan di depan seperti rancangan awal.

Untuk kompensasi distribusi berat pesawat karena lokasi motor listrik yang diletakkan lebih ke belakang, kami menempelkan kunci pintu dengan selotip di moncong pesawat. Lebih parahnya lagi, roda tidak jadi dipasangkan karena tidak ada tempat yang cukup.

Dari gambar di atas, sudah terlihat bagaimana “berbahayanya” pesawat kami. Sekali jatuh, hampir pasti pesawat ini rusak karena tidak ada pelindung sistem elektronik dan baling-baling plastik. Pesawat ini selesai dibuat pada malam sebelum lomba. Kalau boleh dibilang, lebih tepatnya dini hari sebelum lomba. Tanpa uji terbang, karena kami sudah terlalu lelah dan tidak berani uji terbang, takutnya rusak sebelum lomba.

Dalam lomba yang kami ikuti, ada beberapa opsi perolehan nilai. Misi utama adalah terbang menembus rintangan tepat pada lubangnya (ada berbagai rintangan dengan tingkat kesulitan dan hadiah poin yang berbeda). Nilai tambah pada saat terbang bisa didapatkan melalui manuver, lepas landas maupun pendaratan sempurna. Pesawat dengan berat kurang dari 250 gram juga mendapat nilai tambah.

Kami punya senjata rahasia dari pesawat ini, yaitu berat dan kemampuan manuver. Pesawat ini sangat ringan, hanya 210 gram setelah diverifikasi oleh panitia lomba. Kami sudah mendapat bonus poin sebelum terbang, hanya karena berat pesawat. Ternyata, ada manfaat dibalik hilangnya roda dan badan pesawat kami, hahahaha.

Bagaimana dengan manuver? Dalam dokumen regulasi lomba ini, tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa menembus rintangan adalah kewajiban. Terlebih lagi, batasan kemampuan saya sebagai pilot debutan membuat saya tidak yakin bisa menembus rintangan. Bahkan, poin yang didapat dari manuver lebih besar daripada poin untuk menembus rintangan tersulit. Oleh karena itu, tim kami memprioritaskan manuver walaupun ditulis sebagai nilai tambah dalam regulasi.

Pada saat perlombaan, banyak pesawat yang tidak mampu terbang dengan baik. Tetapi, ada satu tim kompetitor (bukan dari himpunan kami) yang terbang dengan sangat mulus dan berhasil menembus salah satu rintangan. Desain pesawat mereka juga sangat rapi. Tepuk tangan penonton sangat meriah setelah tim ini menyelesaikan giliran terbangnya.

Bagaimana dengan tim kami? Ketika pesawat kami mulai terbang, saya langsung berusaha membuat manuver barrel roll (berguling 360 derajat). Selesai manuver, pesawat ini malah terbang liar hingga jatuh. Untungnya, beberapa saat sebelum menyentuh lantai, saya sempat mematikan motornya, berharap baling-baling sudah berhenti berputar ketika menyentuh lantai.

Teman-teman saya yang berperan sebagai teknisi langsung mengambil pesawat kami dan memeriksanya. Baling-baling patah, sehingga kami coba sambungkan dengan lem. Kami mencoba menerbangkan lagi – berharap bisa menembus rintangan pada sisa waktu – namun gagal.

Pada akhirnya, kami – secara mengejutkan – menjadi juara lomba ini. Bonus poin dari berat pesawat dan manuver yang kami dapatkan mengungguli tim-tim lain. Memang, aksi terbang yang kami lakukan tidak menghibur, bahkan terlihat gagal. Tetapi, kami berhasil memanfaatkan celah dalam regulasi untuk memenangkan lomba ini.

Ini adalah pembelajaran berharga bagi tim kami. Untuk berjaya, pelaku teknologi tidak cukup hanya menguasai aspek teknis saja. Pelaku teknologi juga perlu menguasai aspek sosial, termasuk regulasi yang berlaku. Kemampuan improvisasi dan pemanfaatan sumberdaya – walaupun dalam keterbatasan – juga berperan penting.