Merdeka dan Idealisme

Merdeka dan Idealisme

1406
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” – Tan Malaka

Di hari kemerdekaan ini, kita kembali diingatkan tentang semangat kemerdekaan para pejuang dan nilai idealisme yang terkandung di dalamnya. Dalam berbagai cerita dan literatur, kita mendengar dan membaca perjuangan para pemuda yang tidak mau takluk dengan kondisi zaman. Mereka berupaya lepas dari penjajahan, mereka mengikrarkan kemerdekaan yang sejati.

Merdeka yang mereka teriakkan adalah bebas, tidak bergantung, berdiri sendiri, mandiri. Para pemuda saat itu berani membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, walau selama beratus tahun telah dijajah dan bergantung kepada bangsa lain.

Merdeka juga diartikan para pemuda sebagai keberanian untuk mengelola kehidupan bangsa di dalam negara sendiri. Tidak lagi harus tunduk di bawah jajahan negara lain. Untuk hal ini, para pemuda menyadari perlunya intelektualitas. Maka mereka pun menyiapkan diri; meningkatkan ilmu dan kapasitas diri. Sehingga walau masih muda, mereka berani dan sanggup memimpin negeri.

Merdeka tanpa adanya kemandirian, akan menimbulkan kemalasan. Merdeka tanpa intelektualitas, akan mengakibatkan kebergantungan. Kemerdekaan yang sejati, hanya bisa dicapai dengan semangat kemandirian dan intelektualitas. Ini yang menjadi idealisme para pemuda dan diperjuangkan selama bertahun-tahun masa perjuangan kemerdekaan.

Kita, para pemuda di masa kini juga harus belajar dari kisah perjuangan para pejuang. Kita harus terus meneriakkan kemerdekaan, sembari melatih kemandirian. Kita harus selalu melakukan kemerdekaan, sembari tekun meningkatkan intelektualitas.

Kemandirian dan intelektualitas adalah proses. Keduanya tidak dapat dibentuk secara instan. Keduanya harus dilatih sedemikian rupa, melalui berbagai pengalaman langsung yang kita hadapi.

Saya teringat kisah beberapa tahun lalu saat masih berkuliah. Waktu itu saya menjadi penanggung jawab di sebuah organisasi. Saya dan teman-teman saat itu mengikuti proses musyawarah sebuah perkumpulan yang beranggotakan berbagai organisasi mahasiswa dan pemuda, termasuk organisasi kami.

Menjelang pemilihan ketua baru, tantangan pun datang. Ada beberapa calon yang menawarkan berbagai hal termasuk materi, agar mendapat dukungan kami. Kami pun berembuk. Di satu sisi kami butuh dana untuk keberjalanan program. Namun di sisi lain, idealisme kami menentang adanya upaya memenuhi itu dengan cara yang tidak benar.

Keputusan pun kami ambil. Idealisme adalah kemewahan terakhir yang kami miliki saat itu. Maka proses musyawarah pun dapat kami lewati tanpa melupakan kemerdekaan kami.

Pasca musyawarah, kebutuhan organisasi tetap dapat kami penuhi. Kemandirian mengingatkan kami untuk terus berjuang dengan tenaga sendiri. Intelektualitas membuat kami dapat berkreasi memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan organisasi kami.

Ternyata kemerdekaan yang sejati dapat kita capai dengan kemandirian dan intelektualitas. Berbagai pengalaman yang kita jalani dapat melatih kepekaan dan kapasitas diri kita. Dengan menjaga idealisme, kemerdekaan kita dapat mengakar kuat, berdiri teguh, dan tidak goyah, walau diterjang angin dan badai sekalipun.

Selamat merayakan kemerdekaan. Merdeka!

SHARE
Previous articleSurvival in Disguise
Next articleKondisi Bangsa Krisis Total, GMNI Cetak Ratusan Kader Khusus
Sahat Martin Philip SInurat
Penulis lahir pada tanggal 1 Maret 1989 di Pekanbaru. Lulus dari jurusan Teknik Geodesi ITB dan saat ini melayani di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sambil berwirausaha. Motto hidupnya, “Kapal itu aman di pelabuhan, tapi bukan untuk itu tujuan kapal diciptakan.”