Menari di Tengah Badai

Menari di Tengah Badai

961
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Pernah menghadapi masalah? Tentu semua orang akan mengacungkan tangan mereka untuk menjawab pertanyaan ini. Selama kita hidup di bumi, kita pasti akan menemui masalah, baik yang tidak dicari maupun yang sengaja dicari (upss…). Seperti roda kehidupan, posisi kita bisa saja berubah dalam hitungan menit, bahkan detik, dan perubahan yang tidak mengenakkan tersebut bisa saja membuat kita mati langkah.

Ketika pertama kali saya memutuskan mengubah haluan pekerjaan saya dari seorang pegawai IT menjadi seorang guru SD, saya tahu, pada pilihan manapun dalam hidup, saya pasti akan bertemu dengan masalah dan hal-hal yang mungkin sangat tidak mengenakkan. That’s life!

Pernah suatu kali, di tahun pertama saya menjadi seorang guru SD, saya benar-benar kewalahan. Pasalnya, proposal fieldtrip (karyawisata-red) siswa kelas 1 SD yang saya ajukan ke kepala sekolah telah ditolak lebih dari 3 kali.

Saya tidak menyangka, mencari tempat tujuan fieldtrip akan lebih sulit dibandingkan membuat proses bisnis sebuat software. Sampai akhirnya saya berhasil meluluhkan kepala sekolah saya dengan strategi alternatif, tentu saja dengan perbaikan proposal di sana-sini.

Apakah saya kemudian jera dan mangkir ketika ditunjuk sebagai koordinator fieldtrip siswa di tahun ajaran berikutnya? Tidak. Justru kegagalan-kegagalan tersebut membuat saya semakin berhati-hati dalam merencanakan fieldtrip.

Jangan Menyerah
”Gagal adalah sukses yang tertunda”, begitu kutipan sebuah kata-kata motivasi yang pernah saya dengar. Bagi saya, kegagalan yang sesungguhnya adalah saat kita memutuskan berhenti untuk mencoba. Beberapa masalah bisa saja membuat seolah-olah tidak ada pintu ’kemungkinan’ yang dapat terbuka untuk kita, tapi teruslah mencoba, bakar lebih banyak semangat, siapa tahu justru di usaha kita yang berikutnya pintu ’kemungkinan’ itu terbuka.

Perencanaan yang Matang
Di tahun ketiga saya mengajar, saya kembali ditunjuk menjadi koordinator fieldtrip siswa. Kali ini siswa yang saya tangani adalah siswa kelas 3 SD. Jelas saja, untuk membuat proposal fieldtrip kali ini sukses, saya harus merencanakannya dengan lebih baik. Saya membuat team yang dapat membantu saya, menghitung waktu perjalanan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi selama perjalanan.

Saya juga harus menyediakan waktu khusus untuk men-survey lokasi dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Kemudian saya me-review apakah program yang mereka tawarkan sudah selaras dengan tujuan fieldtrip kami. Saya merasa sudah melakukan yang terbaik saat itu.

Proposal kali ini pasti mulus”, batin saya.

Jrenggg….. Takdir berkata lain. Proposal yang sudah saya buat rapi tersebut, dengan manisnya harus gugur di tengah jalan hanya karena suatu asalan yang menurut saya tidak masuk akal. Saya dikejar deadline, lho. Tahun ajaran sudah hampir habis, sedangkan jatah fieldtrip siswa masih tinggal 1 kunjungan lagi. Dengan waktu yang terbatas tersebut, saya diminta untuk mengganti tujuan fieldtrip. Jackpot! Ingin rasanya saya mengajukan fieldtrip ke bulan saja!

Kesal dengan masalah yang datang tiba-tiba? Jangan ditanya lagi! Tidak ada manusia yang sengaja merencanakan kesulitan bagi dirinya sendiri. Jika bisa, saya mau melalui hari-hari saya semulus jalan tol. Tapi apakah saya bisa berdamai dengan masalah-masalah yang menimpa saya? Jelas bisa! Diri kitalah yang memutuskan, menjadikan masalah sebagai batu loncatan, ’vaksin’ untuk imun kepribadian kita, atau sebagai penyakit yang mematikan.

Berbekal pengalaman penolakan proposal fieldtrip di tahun sebelumnya, saya lalu memutar otak untuk mencari jalan keluar alternatif. Saya dilatih menjadi lebih kreatif lewat sebuah masalah. Begitulah Tuhan menciptakan kita dengan akal, agar kita bisa bertahan dalam keadaan sulit yang tidak terduga. Ketika kita tidak menyerah, secara otomatis otak kita akan berusaha menemukan jalan keluar yang paling memungkinkan, kreativitas pun terbentuk.

Peluang di Kantong Teman
Oh ya, tentu saja saya tidak bisa menemukan jalan keluar dengan berpangku tangan. Kadang, jalan keluar untuk masalah saya justru berasal dari ’kantong’ teman saya. Saya mencoba berdiskusi dengan teman sejawat dan atasan saya, meminta saran dari mereka mengenai permasalahan yang sedang saya hadapi. Dan benar saja, salah satu atasan saya membantu memberikan informasi tempat tujuan fieldtrip yang tepat bagi siswa-siswi saya. Thanks God! Mungkin dengan masalah yang kita hadapi, Tuhan sedang membantu kita untuk memiliki kemampuan sosialisasi yang baik.

Resiko? Siapa Takut!
Kesuksesan besar juga bisa berasal dari keberanian mengambil resiko. Menjadikan resiko teman ’dansa’ yang asyik haruslah sudah melalui perhitungan yang matang. Jika resiko tersebut terlalu berat untuk kita hadapi, jangan sekali-kali sok berani. Tapi jika kita yakin dapat mengendalikannya, maka tidak perlu takut untuk ’berdansa’ dengannya.

Move On dari Zona Nyaman
Kadang, zona nyaman malah bisa jadi masalah yang mematikan bagi siapa saja. Tidak percaya? Coba saja untuk melakukan pekerjaan kita seperti biasa tanpa mau meng-upgrade skill, cepat atau lambat, orang lain atau mesin akan menggantikan kita.

Di dunia yang bergerak dengan super cepat ini, inovasi adalah suatu keharusan. Kita bisa melihat salah satu contoh dari perusahaan raksasa seperti Nokia. Di eranya, Nokia begitu merajai pasar dunia. Pada saat itu, kita seolah tidak melihat setitik celah pun bagi perusahaan tersebut untuk menghujam ’tanah’.

Well, itu tidak berlangsung terlalu lama sampai akhirnya perusahaan saingan melakukan inovasi, berpikir out of the box dan lalu meng-knock down Nokia. Seperti bintang yang dihempaskan ke bumi, namanya redup hampir tak berbekas. Mengerikan kan?

SHARE
Previous articleAyo, Nak! Kamu Pasti Bisa!
Next articleBeta dalam Harapan, Energi dan Transformasi
Priska Apriani
Lulusan Sistem Informasi salah satu institusi swasta Bandung ini getol memburu berita-berita hangat mengenai pemerintahan dan isu-isu yang beredar di tanah air. Menyukai jurnalistik semenjak SD dan pernah menjadi wartawan lepas di salah satu surat kabar lokal di Bangka Belitung ketika duduk di bangku SMA. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengabdi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bandung