Di Masa Sulit, Janganlah Menyerah

Di Masa Sulit, Janganlah Menyerah

1038
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“Setiap manusia memiliki mimpi. Ada yang mengejar dan mewujudkannya. Ada yang mundur dan membuangnya. Ada pula yang diam dan hanya manyimpannya sepanjang sisa hidupnya.”Okke Sepatumerah

Bermimpi adalah bagian terindah dalam kehidupan. Mimpi ibarat bahan bakar, tanpanya hidup tidak akan berjalan baik. Bisa-bisa terjadi seperti kata pepatah “hidup segan, matipun tak mau”. Tapi apalah arti mimpi tanpa upaya mewujudkannya?

Mewujudkan mimpi tak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi bila mimpi digantung setinggi langit. Namun harus kita sadari bahwa proses mewujudkan mimpi tak akan sia-sia. Kendati terkadang rasanya teramat pilu tatkala usaha tak berhasil sesuai harapan. Tapi proses selalu memberi makna, memaparkan pelajaran berharga yang menjadikan kita jauh lebih matang.

So, apa salahnya bermimpi setinggi langit, karena saat berusaha mewujudkannya paling tidak kita bisa mencapai setengah dari apa yang kita impikan. Dari pada hanya bermimpi setinggi langit-langit, sudah jelas usaha kita hanya sebatas langit-langit, dan jangan pernah mengharap lebih.

Mimpi Anak Kemaren Sore
Ngomong-ngomong soal mimpi, sewaktu kuliah—akibat banyak berdiskusi dan membaca pengalaman tokoh inspiratif—penulis sempat bermimpi suatu hari nanti akan mendedikasikan sebagian waktu untuk berkontribusi bagi kampung halaman. Ini tak lepas dari pemikiran bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi di daerah.

Tapi apa yang bisa dilakukan seorang lulusan baru perguruan tinggi untuk membangun daerahnya sendiri? Alih-alih menolong orang lain, menolong diri sendiripun terkadang belum mampu.

Pikir penulis, idealnya lulusan perguruan tinggi bisa menciptakan lapangan pekerjaan di daerah agar perpindahan warga desa secara besar-besaran ke kota tidak terus-menerus terjadi.

Kita perlu persatuan pemuda untuk beinovasi—mengaplikasikan ilmunya agar bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Dengan begini, pelan-pelan masalah demi masalah yang kerap kita dengar di media serta paparan para akademisi bisa terselesaikan. Alhasil, akademisi tidak hanya mengkritik namun turut menawarkan solusi.

Singkat cerita, setelah lulus dari perguruan tinggi, penulis berkesempatan kembali ke kampung halaman. Kendati tidak sepenuhnya yakin akan keberhasilannya, penulis berencana membangun sebuah usaha di kampung halaman.

Harapannya dana hasil usaha bisa dimanfaatkan untuk berkontribusi membangun daerah. Padahal bila diperhatikan kehidupan ekonomi di kampung halaman penulis tidak tergolong maju. Keraguanpun menghantui. Tentu usaha butuh modal dan perhitungan matang, lantas bagaimana bila justru merugi.

Usaha kecil-kecilan sempat penulis lakukan namun hasilnya tidak sesuai harapan. Ini tidak justru mematahkan semangat untuk mengabdi di daerah. Pengabdian tetap bisa dilakukan, tidak harus dalam hal besar, tidak pula harus dalam jangka waktu yang lama. Setidaknya apa yang bisa diberi, selaiknya segera diberikan, apa yang bisa dilakukan seyogyanya dilakukan.

Dalam skala yang lebih besar, andai pemerintah mewajibkan setiap lulusan perguruan tinggi mengabdi di kampung halaman masing-masing dalam jangka waktu satu tahun saja barangkali akan banyak perubahan yang terjadi di daerah.

Tadinya dengan dana hasil usaha, penulis berencana membuat rumah baca. Untuk awal bisa dilakukan dengan memanfaatkan koleksi buku yang penulis punya. Penulispun mulai menghubungi teman-teman sekampus dengan harapan bisa menyumbangkan buku-buku mereka untuk rumah baca. Beberapa sudah memberikan respon, tinggal memikirkan cara pengiriman dan mempersiapkan lokasi rumah baca.

Sembari hal ini diusahakan, penulis mulai terpikir tentang kemampuan apa yang bisa dibagikan. Dengan bakat menulis, penulis pikir tidak ada salahnya mencoba membagikannya ke sekolah-sekolah. Akhirnya materi pelatihan menulis mulai disiapkan. Mental juga turut dipersiapkan.

Suatu pagi penulis berkunjung ke satu sekolah, yakni Yayasan Perguruan Nasional. Penulis mohon izin untuk bisa berbincang dengan kepala sekolah lalu memaparkan maksud dan tujuan datang ke sekolah mereka.

Awalnya mencuat kecurigaan dan kekuatiran bahwa penulis sedang membawa misi politik. Namun dengan meyakinkan kepala sekolah dan para guru akhirnya penulis diberikan kesempatan.

Di luar dugaan, sang kepala sekolah justru menawarkan opsi kegiatan lain yang dianggap lebih dibutuhkan sekolah yakni memberikan motivasi masuk perguruan tinggi negeri.

Menurutnya, semangat belajar siswa tergolong rendah. Akses informasi masuk ke perguruan tinggi juga terbatas di kalangan para siswa. Penulis harap kegiatan ini akan jadi awal untuk bisa melakukan pelatihan menulis ke depannya.

Penulis mulai masuk kelas demi kelas. Seiring berjalannya waktu, penulis beranjak mengunjungi sekolah demi sekolah yang terletak di kecamatan berbeda yang masih berada di daerah tempat tinggal penulis, termasuk salah satunya almamater penulis di SMA Negeri 1 Sidikalang.

Pengalaman ini tak syak membuka mata bahwa masih banyak siswa yang membutuhkan pencerahan terkhusus sekolah yang berada di pelosok desa. Antusiasme para siswa semakin memantik semangat untuk bisa mengunjungi lebih banyak sekolah lagi. Bila memang bisa memberikan sedikit pencerahan tentu ini memberi kepuasan tersendiri dalam batin.

Tidak sekedar puas, banyak pelajaran yang penulis dapatkan. Kemiskinan terlihat lebih nyata setelah berkunjung ke sekolah-sekolah. Siswa yang dicap nakal ternyata punya kesulitan finansial. Banyak masalah yang tak pantas dialami siswa seusia mereka namun harus mereka lalui. Ada siswa sekolah sambil bekerja. Ada yang bolos demi bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Pernah pula suatu ketika, saat berkunjung ke rumah salah satu siswa, belakangan diketahui bahwa ibunya mengalami sakit jiwa dan dipasung di rumahnya sendiri. Kejadian ini menggambar banyak hal di dalam benak. Tak banyak kesempatan untuk menyaksikan hal seperti ini.

Penulis akhirnya menyimpulkan bahwa mewujudkan mimpi memang sulit, namun harus dilakukan. Setiap detik dalam perjalanan mewujudkannya adalah masa belajar.

Adakalanya yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan, namun hal itu tak harus mengacaukan segalanya. Tetaplah bangkit, teruslah melangkah, lakukan yang terbaik yang engkau bisa, sisanya serahkan kepada Yang Kuasa!