Beta dalam Harapan, Energi dan Transformasi

Beta dalam Harapan, Energi dan Transformasi

1055
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Pemuda dalam dinamika, dialektika dan pergerakannya sudah bukan isu baru lagi untuk diperbincangkan. Meskipun demikian perbincangan tentang tokoh muda tidak pernah menjadi usang karena dari jenjang usia/status inilah terdapat banyak sekali potensi diri yang dapat dikembangkan bagi kemajuan semesta.

Benih potensi diri telah ada sejak manusia dibentuk dari dalam kandungan, benih ini kemudian perlu disiram, dirawat dan dijaga agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Proses pertumbuhan seorang manusia tidak cukup hanya dengan diberi asupan makanan dan nutrisi tapi dibutuhkan juga sentuhan pendidikan yang berkualitas agar seorang individu dapat memperlengkapi diri menghadapi tuntutan zaman dan perubahannya.

Pendidikan tinggi sebagai keberlanjutan dari pendidikan formal adalah jenjang yang paling sexy dipertaruhkan untuk menempuh prosesnya. Karena melalui proses pendidikan tinggi selain kapasitas akademis yang dikejar ada juga gelar yang disandang sehingga seseorang kemudian mengganggap dirinya bernilai.

Perjumpaan Bung Septian Brian Ubra dengan konteks gumulan diri dan masyarakat menuntunnya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tenggara yang terpilih pada tahun 2014 yang lalu. Bung Brian secara pribadi mulai mempersiapkan diri untuk mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat diawali ketika masih kuliah dan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan kemasyaratan.

Dalam kegiatan tersebut bersama rekan–rekannya sering berinteraksi langsung dengan masyarakat dan didapati potret kehidupan yang sangat jauh dari esensi kemerdekaan dimana kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan serta tingkat kesenjangan sosial yang masih sangat tinggi, yang kaya bertambah kaya dan yang miskin semakin miskin.

Hal demikian tentu sebagai anak bangsa, hatinya mulai memberontak dan bertanya-tanya dimanakah peran negara untuk mensejahterahkan rakyatnya?

Pertanyaan tersebut terus bergelora dan hati dan pikiran sehingga terus memaksakan Bung Brian untuk terlibat dalam perjuangan–perjuangan kemahasiswaan bahkan kemasyarakatan demi mewujudkan kemerdekaan yang esensial, tak sekedar lip service, dimana semua warga negara harus sejajar dalam menikmati kemerdekaan sebagai konsekuensi dari kehidupan bernegara.

Kesadaran akan besarnya intervensi negara dalam kehidupan berbangsa telah memotivasi Bung Brian untuk terus mentransformasikan diri melalui proses belajar baik secara formal maupun non formal dengan harapan agar dapat menjadi bagian dari sistem negara untuk kelak dapat mempengaruhi kebijakan yang populis dalam rangka menjawab persoalan sebagaimana direfleksikan di atas.

ss1Pria kelahiran 23 September 1989 ini sadar bahwa kualitas diri adalah bagian terpenting yang harus senantiasa diupgrade. Belajar adalah proses seumur hidup manusia, yang tidak ditentukan hanya melalui bangku pendidikan formal.

Semasa kuliah, Bung Brian aktif dalam kegiatan–kegiatan kampus baik yang bersifat intra maupun extra kampus. Pendidikan yang dijalani di Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku masih jauh dari harapan, terbatasnya tenaga pendidik maupun sarana belajar tidak membuat Bung Brian menjadi minder melainkan semakin semangat untuk mengembangkan diri dalam tantangan tersebut.

Hidup adalah tantangan yang harus ditaklukan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai pribadi dan karakter diri.  Apalagi mempertahankan ‘nilai’ di dunia politik bukanlah hal yang mudah, hal ini sebagai konsekuensi dari dinamika politik yang terus berubah dan berkembang, apalagi praktek politik dewasa ini mulai menghilangkan etika dan moralitas dan mengahalalkan segala cara bahkan mengatasnamakan rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompok serta mengabaikan kepentingan publik.

Hal demikian tentu menjadi tantangan baginya selaku seorang politisi yang harus tetap cerdik dan siuman terhadap berbagai gejala–gejala perubahan paradigma politik sehingga tidak tergerus dalam polarisasi politik sempit yang dimainkan oleh segelintir elite politik.

Mempertahankan nilai di dunia politik tidaklah semudah membalik telapak tangan sebab pada suatu titik kita akan diperhadapkan dengan kepentingan politik yang linier dengan kepentingan publik tetapi terkadang kita diperhadapkan dengan realitas politik yang mencabik–cabik nurani dan situlah seorang politisi akan merasa dilema untuk mengambil keputusan politiknya, mengikuti nurani atau mengikuti keputusan politik.

Untuk mempertahankan nilai di dunia politik maka hal yang paling terpenting adalah tetap konsisten dengan setiap keputusan–keputusan politik yang dilakukan, jangan banyak berjanji dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat diatas segalanya dan memohon penyertaan Tuhan.

Prinsip yang selalu Bung Brian tanamkan adalah ia terlahir sebagai seorang pelayan yang tetap melayani rakyat. sehingga jabatan yang telah dipercayakan hendaknya digunakan untuk melayani rakyat. Ada pepatah yang sangat sederhana namun luar biasa, “Membumilah karena langit bukan tempat tinggal kita.”

Bung Septian Brian Ubra yang kini menjabat sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Maluku Tenggara dari Fraksi Partai Demokrat ini adalah sosok yang memiliki integritas, kepercayaan diri tinggi serta keyakinan bahwa Tuhan telah menyiapkan masa depan yang indah bagi setiap orang yang percaya dan mau berusaha dengan gigih (baca: Yeremia 29:11).

Apapun tujuan hidup kita, tidak dicapai dengan mudah tanpa melalui suatu proses. Dalam proses tersebut, bisa saja terdapat ketidaknyamanan, tantangan, bahkan problematika yang terasa berat.

Menaklukan proses itulah kunci perjuangan yang harus kita pegang. Mentransformasikan diri dari yang biasa menjadi unggul, membangun energi positif dan memiliki harapan bahwa selalu ada jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

SHARE
Previous articleMenari di Tengah Badai
Next articlePendukung yang Luput dari Perhatian
Adhika Belnard
Adhika Belnard menjadi sekretaris cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku. Perempuan dengan nama panggilan Dhika ini juga aktif dalam berbagai kegiatan gender dan toleransi beragama.