Berjaya di Tengah Kekacauan

Berjaya di Tengah Kekacauan

796
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Memulai sebuah usaha memang tak semanis khayalan. Perlu perhitungan matang tentunya. Penulis dan istri, punya pengalaman tersendiri dengan hal ini. Saat kami merintis usaha membuka sebuah konter di sebuah supermarket di wilayah Bandung, seorang teman ingin bergabung. Modal financial kami terbatas, jadi kami pun setuju.  Sama-sama menjalankan usaha itu.

Sebelumnya, kami melakukan survey terkait lokasi, pasar, distributor, termasuk memperhitungkan perputaran uang (cash flow), modal, keuntungan, risiko, biaya sewa tempat, serta biaya lainnya. Singkat cerita, usaha pun berjalan. Kontrak dengan pihak supermarket terkait biaya sewa tempat usaha sudah deal. Dengan perhitungan yang cukup hati-hati, kami melihat hasilnya.

Kami sempat tak percaya kalau waktu yang diperlukan untuk balik modal lebih cepat dari prediksi kami. Hanya saja di tengah perjalanan, kami melihat ada hal yang tak sehat dengan mitra usaha kami. Ini perlahan-lahan membuat apa yang kami ‘impikan’ terhambat.

Setelah kami selidiki, rupanya masalah visi. Ada destinasi-destinasi yang mesti ditempuh tak terpikirkan olehnya untuk mewujudkan visi dari usaha ini. Ada berbagai hal, termasuk gaya hidup serta karakter, yang tidak menjadi perhatiannya. Tentu saja, jika menjalankan sesuatu menyimpang dari visi awal, maka kita sama saja dengan mengundang kekacauan.

Alhasil, sebelum semuanya menjadi tak terkendali, kami pun sepakat untuk tak bermitra lagi dengan teman kami. Artinya kami “undur diri” dengan baik-baik, kami membagi apa yang memang menjadi hak kami masing-masing sesuai kesepakatan awal. Sementara teman kami ini masih ingin melanjutkan usaha tersebut.

Kami sudah memperingatkan juga, bahwa sikapnya dalam menjalankan usaha bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Apa yang kami kuatirkan itu terjadi. Usahanya itu pun berhenti. Teman kami ini harus menanggung hutang yang cukup besar karena perhitungan tak matang serta perilakunya dalam menjalankan usaha. Pelajaran yang cukup berharga untuk kami.

Di tempat tinggal kami yang baru, sekitar delapan tahun lalu, kami melihat tidak ada kios terdekat di sekitar kami. Kami pun cukup kesulitan mendapatkan bahan-bahan kebutuhan pokok makanan. Kami pun melihat ini sebagai peluang usaha. Di mulai dalam skala kecil, kami pun mencoba merintis usaha. Sambil berjalan, kami mempelajari perilaku konsumen, berupaya menyediakan sekaligus membatasi kebutuhan mereka. Pepatah bilang “pembeli adalah raja”.

Benar, setiap pembeli harus dilayani seperti layaknya seorang raja. Konsumen akan merasa puas dan tetap menjadi pelanggan setia kita, manakala apa yang dibutuhkannya tersedia. Tapi kita juga mesti membatasinya, dalam artian memberikan alternatif produk dengan nilai serta kegunaan yang sama manfaatnya, bahkan dengan kualitas lebih baik dengan harga yang bersaing.

Di kompleks kami, perlahan-lahan mulai bermunculan kios serupa seperti jamur di musim hujan, seiring dengan mulai padatnya penduduk. Tapi kami punya strategi tersendiri dalam menghadapi persaingan ini. Saat perekonomian dunia yang sedang sulit ini, selisih harga seratus rupiah pun akan dikejar oleh konsumen.

Terutama kaum ibu rumah tangga yang sehari-harinya harus mampu mengelola keuangan rumahtangganya. Jangan mengambil keuntungan terlalu banyak. Stok barang pun berputar tidak lama, karena beberapa produk bahan makanan sebaiknya cepat terjual dan dikonsumsi. Pelanggan pun senang, karena barang yang disediakan bukanstok lama.

Keuntungan yang diperoleh, diputar kembali untuk menambah modal. Komitmen pada tujuan awal membuka usaha. Jangan buru-buru tergoda untuk membeli kebutuhan sekunder dan tersier yang tidak dibutuhkan.

Fokus dan konsisten untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumen. Misalnya: membuka kios lebih pagi, karena pagi hari ibu-ibu pasti ingin membeli sesuatu untuk mempersiapkan sarapan bagi suami dan anak-anaknya yang akan berangkat kerja dan sekolah. Usaha kami berjalan cukup lama, sekitar tiga tahun.

Dari tempat jualan yang seadanya di depan halaman rumah, hingga kami bisa membangun kios untuk berjualan dan menampung stok barang. Lantas, kenapa hanya berjalan tiga tahun?

Ada beberapa pertimbangan yang membuat kami memutuskan untuk menghentikan usaha kami itu. Beberapa konsumen mulai berperilaku kurang dalam bertransaksi, meski akhirnya dibayar juga. Mungkin perilaku sebagian masyarakat kita yang satu ini perlu edukasi. Menyadari bahwa perilaku demikian akan menyusahkan mereka sendiri pada akhirnya.

Selain hal tersebut, dua minimarket ternama yang selalu bersaing ketat seperti saudara kembar pun hadir turut nimbrung. Ada sebuah minimarket lokal yang sudah berjalan baik di ruko serta beberapa kios kecil di sekitarnya, akhirnya gulung tikar, kalah bersaing dengan dua minimarket raksasa itu. Beruntung kami cepat mengantisipasi.

Alasan lainnya adalah waktu. Kios itu seperti bayi, harus ditunggui dari pagi hingga malam. Dengan berbagai pertimbangan itu, maka kami pun mulai mengintip peluang lainnya. Kami berjualan tanpa kios. Tidak ada stok barang. Konsumen bisa mendapatkan kebutuhannya dengan memesan barang secara periodik.

Kami yang menentukan waktu pembelian dan pembayaran, pun ada kesepakatan dengan konsumen. Selektif pada konsumen, untuk meminimalisir risiko. Lingkup usaha tak sebatas sembako, tapi melebar pada barang kebutuhan sekunder dan tersier. Dengan konsistensi serta komitmen kuat, usaha ini pun masih berjalan hingga sekarang.

Mencipta Selera
Benar bahwa kondisi ekonomi global sedang lesu. Tak terkecuali Indonesia pun terpapar dampaknya. Namun, kita melihat upaya keras pemerintah menggenjot sektor infrastruktur dan terlibatnya investor. Berbagai paket kebijakan ekonomi telah dinyatakan pemerintah. Hal ini memicu semangat masyarakat kita dalam kegiatan ekonomi.

Kita perlu waktu untuk memperbaiki berbagai sistem dan kebijakan yang selama ini digerogoti oleh para mafia serta politisi nakal di berbagai sektor, paradigma masyarakat sebagai konsumen mesti berubah: dari konsumen yang konsumtif, menjadi konsumen yang produktif dan kreatif.

Pasar bebas menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat kita, bukan menjadi hantu. Seperti kata Steve Jobs, “Seni besar menciptakan selera, bukan mengikuti selera.” Dengan kekayaan alam (SDA) dan banyaknya sumber daya manusia (SDM), mestinya Indonesia tak hanya memimpin tingkat pertumbuhan ekonomi di Asia, tapi juga dunia. Semoga!

Daftar Pustaka:
Masaaki Sato, “The Honda Way”, Hikmah (Mizan Media Utama), Bandung, 2008.
Walter Isaacson, “Steve Jobs”, Bentang, Yogyakarta, 2011.