Ayo, Nak! Kamu Pasti Bisa!

Ayo, Nak! Kamu Pasti Bisa!

853
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

It is a thousand times better to have common sense without education than to have education without common sense. – Robert G. Ingersoll

Pendidikan merupakan poin penting sebagai tolak ukur tercipta taraf kehidupan yang lebih baik. Formal, informal, maupun non formal bukan suatu permasalahan karena sasarannya adalah manusia yang memiliki daya pikir dan nilai.Namun dengan keberagaman cara berpikir maka sistem belajar perlu dimodifikasi agar apa yang disampaikan dapat terserap.

Ketika seseorang memiliki kencenderungan melakukan kejahatan, menderita karena kemiskinan hingga mengambil keputusan untuk mengakhiri nyawa diri sendiri maupun orang lain, maka pendidikan akan dipersoalkan keberadaannya dan keefektifannya dalam mensejahterakan kehidupan rakyat.

Pemerintah akan menjadi “bulan-bulanan” untuk dipertanyakan oleh rakyat bagaimana mengatasi itu semua? Hal tersebut diamanatkan pada pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD 1945 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Sedangkan ayat (2) meyatakan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Pemerintah telah mencoba memaksimalkan seseorang untuk mengikuti pendidikan yang termaktub pada Pasal 48 UU No.35 Tahun 2014 mengatur bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua Anak.

Peraturan perundang-undangan ini melibatkan peran keluarga, terutama orang tua dalam pendidikan anak karena pasal 49 menyatakan negara, pemerintah, pemerintah daerah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.[1]

Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Keluarga
Orang tua juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab diantaranya mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak; menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak; dan memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.

Meski tidak ada pasal yang mengatur sanksi pidana bagi orang tua yang mengabaikan kewajiban dan tanggung jawabnya untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak dalam memperoleh pendidikan, setidaknya orang tua perlu menyadari bahwa perannya bagi anak sangatlah penting untuk menciptakan generasi penerus bangsa.

Terdapat kasus orang tua yang dihukum pengadilan karena tidak membiayai pendidikan anaknya sehingga putus sekolah yaitu dapat ditemukan dalam Putusan Pengadilan Negeri Soe No: 158/Pid.Sus/2014/PN.SOE.

Berdasarkan fakta yang terungkap di pengadilan diketahui bahwa sejak terdakwa keluar dari rumah meninggalkan istri dan anak-anaknya, terdakwa tidak pernah memberikan biaya untuk kebutuhan hidup istridan anak-anaknya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, istri harus bekerja kebun dibantu oleh anak-anaknya dan anaknya yang kedua (13 tahun) sempat putus sekolah dengan bekerja sebagai pengojek.

Terdakwa lalu diadili berdasarkan Pasal 49 huruf a UU PKDRT. Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan “menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangga”. Hakim menjatuhkan pidana kepada terdakwa tersebut di atas dengan pidana penjara selama 7 bulan.

Fakta tersebut menyatakan bahwa tidak hanya pemerintah yang bertanggung jawab tetapi juga orang tua karena pendidikan bukan berbicara tentang “bangku dan kursi” melainkan lebih dari itu. Cara berpikir, sudut pandang, tutur kata hingga sikap seseorang itu ditentukan berdasarkan cara mendidiknya. Lalu bagaimana pendidikan yang baik itu?

Semua Orang Punya Potensi
Nilai matematika kamu kenapa bisa rendah sekali?” Ibu guru bertanya.
“Saya nggak ngerti bu.” Sang murid tertunduk takut.
“Kamu mau jadi apa begini saja tidak bisa?” Guru tersebut meninggikan suaranya.
Murid tersebut terdiam dan menangis.

Cerita tersebut dapat ditemukan di sekolah-sekolah dasar, sangat sederhana perkataan guru tersebut tetapi menjadi makna tersendiri pada sang murid. Sudut pandang mengenai hal tersebut menjadikan mata pelajaran matematika adalah penentu taraf hidup padahal itu salah. Bukan berarti matematika tidak perlu, itu hal yang penting tetapi bukan menjadi yang utama menentukan potensi seseorang.

Setiap orang memiliki kemampuan berbeda-beda dan harus dioptimalkan dengan cara yang sesuai. Sama halnya jika kita menyuruh ikan untuk memanjat disandingkan dengan kera yang pintar memanjat, tidak akan menjadi sesuatu yang terdidik malah menjadi pembodohan baik secara mental maupun karakter.

Maka dari itu peran keluarga sebagai poros utama untuk mengetahui kemampuan anak dan bagaimana mengembangkannya. Masa depan generasi muda bergantung pada cinta kasih dan didikan orang tua. Paksaan menjadi yang terbaik bukan jawaban karena anak terus menikmati perkembangan dirinya melalui berbagai pengalaman dan pembelajaran yang diterimanya, biarkan tetap dilepaskan tetapi terus diarahkan.

Jika anak dibatasi akan stuck pada sesuatu hal karena di kemudian hari ia akan menemukan  sesuatu yang dianggap “mainan baru”, ia tidak akan terkontrol untuk menikmatinya. Tentu tidak bijak pula jika diberikan kebebasan tanpa batas yang berakibat pada penempatan diri yang buruk serta ego yang tinggi.

Hari-hari ini, banyak anak-anak muda yang menggunakan narkotika, pergaulan bebas, dan perbuatan kriminal. Maka dari itu mari kita ciptakan generasi muda bebas berkreasi tanpa bebas nilai.

Punya kemampuan memang baik, tapi kemampuan menemukan kemampuan dalam diri orang lain adalah tes yang sesungguhnya.– Elbert Hubbard

Daftar Pustaka:
[1] http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5752868d32f4f/regulasi-mengamanatkan-pentingnya-peran-keluarga-untuk-masa-depan-anak