Anggap Saja Filosofi Kekacauan

Anggap Saja Filosofi Kekacauan

916
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

Ada sebuah kondisi yang akan memicu aksi atau perbuatan. Perbuatan tersebut, baik atau buruk, benar atau salah pasti akan memberikan dampak pada kehidupan. Dampak tersebut akan menjadi sebuah pertimbangan baru dalam menentukan perbuatan ketika muncul kondisi lainnya.

Siklus ini akan terus terjadi dan berjalan dalam roda sebab-akibat yang pada akhirnya akan menuntun kita pada perubahan-perubahan yang kadang tak disadari telah terjadi.

Masih segar diingatan bagaimana guru atau orang terdekat menanyakan apa cita-cita atau tujuan hidup ketika kanak-kanak dulu. Sangat jelas, bahkan dengan lantang kita akan menjawab apa yang kita inginkan. Namun, setelah ditelisik kembali, kehidupan yang dijalani saat ini sangat berbeda dengan apa yang diimpikan dulu.

Berbagai hal terjadi dan semua yang terlewati tanpa sadar telah menempa kita menjadi sesuatu yang diluar dugaan. Seluruh proses kehidupan menjadi begitu rumit yang terkadang membuat diri berharap agar tidur siang atau mengerjakan tugas sekolah adalah masalah paling besar.

Setiap hari terbangun dengan bayang-bayang mimpi yang terlupakan dan mendapati keraguan semakin menggunung akan mimpi baru yang semakin menjauh. Jiwa petarung yang dulunya mengaum dalam diri telah tertidur dan menjelma menjadi anak kucing yang takut air. Semua usaha, kerja keras, dan airmata rasanya tak berkolaborasi memberikan hasil yang diinginkan.

Rasa frustasi yang memenuhi relung hati menguasai logika yang pada akhirnya berujung pada rasa rendah diri menganggap mimpi sangat mustahil diraih. Jika hal ini terjadi, maka tak diragukan lagi, kehidupan pasti akan terasa sangat berat, tak memuaskan, dan membosankan.

Akan ada malam-malam dimana isi dalam kepala tak bisa berhenti berbisik akan hal-hal yang harusnya dilakukan. Atau di siang hari dimana seluruh indera berkomplot membenci kesuksesan orang lain yang tampaknya lebih mudah jika berada dalam guratan nasib kita.

Tak diragukan lagi, memang akan semakin membuat frustasi yang lucunya tak menghantarkan kita kemanapun. Sampai akhirnya berada pada masa dimana rasa muak sudah terlewati dan yang tersisa hanyalah penyesalan dan keinginan untuk melarikan diri dari kesemrautan hidup.

Sama seperti sebab-akibat, hitam-putih atau baik-buruk, semua permasalah tersebut ada formula untuk meluruskannya. Untuk itu, perlu identifikasi masalah untuk mengobati sampai ke akar. Pertama, kapan terakhir kali jantungmu berpacu ketika memikirkan mimpi-mimpimu? Kedua, kapan tepatnya mimpi-mimpi tersebut terasa memudar dan akhirnya menghilang? Apa penyebabnya?

Hanya ada dua jawaban yang bisa dilontarkan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, ya atau tidak. Namun, keduanya dipicu oleh hal yang sama, yaitu kekecewaan. Entah kecewa akan diri sendiri yang tak sanggup mengubah hambatan menjadi tantangan atau terlalu sibuk menyalahkan nasib terhadap semua kesempatan yang terlewatkan. Kondisi yang membuat sebagian besar populasi manusia, menyerah dengan berbagai alasan untuk pembenaran diri sendiri.

Ada sebuah kasus. Anggap saja saat ini Anda berumur 25 tahun. Telah menyelesaikan kuliah dan sudah bekerja kurang lebih empat tahun, punya pacar, dan sudah menjadi anak kebanggaan orangtua yang membantu keuangan keluarga. Namun, tiba-tiba suatu pagi Anda terbangun dan merasa muak dengan hari-hari yang berjalan statis, tak ada kejutan.

Lalu, Anda teringat dengan diri Anda empat tahun lalu yang lebih memilih bekerja daripada bersekolah lagi. Saat-saat yang selalu Anda sesali karena memilih materi dibanding mimpi Anda.

Pernahkan Anda berpikir bahwa saat ini ada jutaan jiwa di Bumi yang berumur 25 tahun dan bahkan lebih banyak lagi yang pernah melewati 25 tahun. Dalam kondisi masing-masing, ada yang dianggap sukses, tetapi ada pula yang dianggap gagal.

Ada yang telah menikmati hidup, tetapi ada pula yang baru menemukan apa yang sebenarnya ia inginkan, ada pula yang baru memulai melakukan apa yang ia inginkan meskipun telah mengetahuinya dalam waktu yang lama.

Pemikiran bahwa mimpi adalah visi yang harus mulai dikerjakan mulai dari sekarang atau kerja keras adalah bentuk lain dari keberuntungan bukanlah pemikiran yang spesial. Hal itu juga pemikiran yang telah muncul di jutaan kepala manusia lainnya. Namun, apa sebenarnya yang membuat hasilnya berbeda? Jawabannya adalah komitmen. Hal yang sebelumnya tak dimiliki ketika hidup masih dipenuhi mimpi.

Komitmen dalam KBBI berarti perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Ketika seseorang telah berusaha, bekerja keras, dan tak terkira lagi airmata yang tertumpahkan untuk mimpi itu. Namun, ketika ia mencoba, ia gagal. Tanpa ia sadari, kata-kata teman jadi lebih masuk akal, tekanan dari keluarga jadi lebih penting, dan mimpi yang dianggapnya telah ia perjuangkan terlihat hanya menghabiskan waktu saja.

Ia lupa, bahwa ketika ia menyerahkan dirinya untuk mimpi, ia harus hidup dan mati untuk mimpi itu. Namun, ia malah menjadi tumpul. Ia lupa bagaimana menjadikan hambatan menjadi batu loncatan. Ia tak mengenal kata sabar, ia terburu-buru menagih hasil dari usahanya yang tak seberapa.

Tak lama kemudian, ia berpaling dan merasa hidup telah mengecewakannya. Namun, apakah memang sudah berkaca? Seorang anonim menyebutkan, “Jika kau ingin berhasil, belajarlah saat orang belajar dan tetaplah belajar saat orang lain sudah beristirahat.”

Bayangkan jika Ludwig Van Beethoven berhenti bermain piano saat matanya buta, mungkin siapapun tak akan pernah bisa mendengar karyanya yang luar biasa. Seandainya Malala Yousafzai berhenti bersekolah setelah ditembak oleh Taliban, mungkin tak akan ada sosok menginspirasi yang mengejarkan pentingnya pendidikan. Bayangkan kau berada dalam labirin dalam perjalananmu menuju mimpimu. Tentu tak mudah, mungkin akan tersesat berkali-kali.

Ada kemungkinan langsung menemukan jalan keluar, tetapi lebih besar kemungkinan tersesat, kelelahan, frustasi, kecewa, atau apapun sebutannya untuk kegagalan. Namun, siapapun yang terjatuh tetapi tetap bangkit, berdiri dan berjalan lurus, berputar, belok kanan-kiri berulang-ulang sampai tak bisa dihitung pasti akan menemukan jalan keluarnya.

Kalaupun sampai mati tak sampai, setidaknya hidup telah mencari sesuatu yang pasti akan membuat jantungmu akan tetap berdebar-debar, dan hidup dalam kejutan akan mimpi yang tak akan pernah menghilang.

Usaha tak mengkhianati hasil, hanya saja perlu berpikiran positif dan berkeyakinan bahwa mimpi adalah rencana jangka panjang, bukannya bunga tidur. Mungkin akan melelahkan, tetapi jika memang berharga, maka layak diperjuangkan.

SHARE
Previous articleBerjaya di Tengah Kekacauan
Next articleSurvival in Disguise
Lukya Panggabean
Lukya Panggabean lahir di Aeknatolu, 28 Januari 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan jurusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran.