Dedication of Life Bung Karno

Dedication of Life Bung Karno

1457
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×
“Saya adalah manusia biasa. Saya dus tidak sempurna. Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.
 
Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada tanah air, kepada bangsa. Itulah dedication of life-ku.
 
Jiwa pengabdian inilah yang menjadi filsafat hidupku dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku.
 
Tanpa djiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa. Akan tetapi dengan djiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat.” – Ir. Sukarno

Menghikmati teks-teks Sukarno adalah kebahagiaan tersendiri, terlebih generasi yang tak berkesempatan berinteraksi langsung dengan Sukarno. Dengan membaca pidato dan ikhtisar mengenai perjalanan Sukarno, sulit untuk tidak terbawa kepada arus periode-periode  revolusioner nan heroik era Sukarno. Terutama pada saat menghayati teks Dedication of Life yang saya tuliskan di muka bacaan ini. Teks tersebut jika direnungkan secara dalam membawa kita kepada satu kata kerja yang revolusioner, yaitu pengabdian.

Esensi ‘pengabdian’ dalam teks Dedication of life bukan sekali saja diutarakan oleh Bung Karno, tercatat pada tahun 1961, yaitu saat berpidato di hadapan mahasiswa Universitas Gajah Mada di Siti Hinggil, Kraton Yogyakarta. Kedua, pada pembekalan kontingen Indonesia yang akan mengikuti Asian Games IV di Jakarta pada tahun 1962 dan pada pembukaan musyawarah nasional Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI) pada 1965, Sukarno selalu menyerukan Dedication of life.

Lantas apa perlunya memaknai ulang teks Dedication of life di era kekinian? Bukankah sejarah sering ditinggalkan, dilupakan bahkan dianggap usang untuk dikenang terlebih disarikan untuk bekal pelajaran hari depan. Semoga anggapan saya salah.

Pengabdian yang pertama diutarakan oleh Sukarno adalah mengabdi kepada Tuhan. Sukarno hendak memberi pesan, bahwa manusia memiliki fungsi sebagai hamba Tuhan di dunia yang mempunyai tugas saling mengasihi antara sesama mahluk agar tercipta kedamaian dan kebahagiaan di muka bumi.

Lingkup pengabdian yang kedua adalah, mengabdi kepada tanah air. Tugas manusia terhadap tanah air dimaknai sebagai amanat pengurusan sumber kekayaan alam dan territorial agar tercipta hidup bersama yang tentram dan adil bagi seluruh rakyat. Tidak ada segelintir menguasai banyak hingga terlampau kaya raya, dan tidak ada banyak rakyat berdesak-desakan di lahan yang sempit dan miskin.

Selayaknya sebagai sebuah rumah, Indonesia perlu mengatur dan mengelola sedemikian rupa ruang hidupnya untuk digunakan seadil-adilnya, agar seluruh anggota keluarga dapat menerima manfaat secara merdeka.

Artinya, pengurusan tanah air bukanlah hal yang dimaknai secara sepintas sembarangan hingga prakteknya serampangan dan carut marut. Jangan sampai pengaturan tanah air tidak adil karena berpotensi terjadi kemiskinan, ketidakadilan dan krisis multidimensional.

Pengabdian yang ketiga adalah, mengabdi kepada bangsa. Sukarno menghendaki agar anak-anak Indonesia tidak hanya mencari nikmat sendiri-sendiri (individualistik) tetapi sumbanglah tenaga, ide, prestasi kapada bangsa Indonesia. Artinya, kemenangan anak-anak bangsa adalah demi keselamatan dan eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Pengabdian-pengabdian inilah yang harus diinsyafi oleh seluruh komponen bangsa, bukan saja pada wilayah abstraksi pemikiran, namun harus pada wilayah praktek. Kini sama sekali tak pernah diharapkan, bahwa suatu bangsa akan diadu domba sedemikian rupa. Nyaris dalam tiap sel kehidupan berbangsa dan bernegara, bibit bahkan buah pertikaian sedang tumbuh dimana-mana.

Antar kelompok diadu, antar agama dibenturkan, perbedaan ras jadi pergunjingan, antar golongan ditarungkan, ilmu pengetahuan dibungkam, buku-buku diberangus, kaya miskin makin jauh dipisahkan.

Melihat hal ini, tentu situasi nasional sedang tidak sedang baik-baik saja. Media selalu menginformasikan kesemrawutan ada di sana-sini tiada henti. Nyaris tak ada satu titik topik kesimpulan, bahwa kita bangsa besar yang satu. Gamang.

Zaman memang sedang bingung, bahkan untuk memposisikan diri bersikap, berlawan atau larut mengalir mensiasati keadaan. Bahkan pada momentum Kebangkitan Nasional, nyaris tak ada bahasan khusus mengenai apa yang bangkit, selain kemarahan dan keresahan sosial yang sungguh dirasa nyata.

Suka tak suka kini kaum muda sedang tak punya pegangan. Harapan dan impian jadi bias, tak jelas, berarak,  berganti,  tak tentu yakin arah jalan tujuan. Cita-cita luhur entah kemana. Abstraksi ideologi kian kabur tak bikin kenyang papa sengsara. Apa yang harus dilakukan? Jangan mau dipecah belah. Kita bangsa yang susah payah disatukan. Pemuda jadi harapan. Dengan roh pengabdian yang menggerakan tenaga dan ide kita orang muda.

Tepat kiranya mengingat kembali pepatah bijak Jawa, Talesing Sedyayu Tinulad Ing Wignya Lan Sembada yang berarti “Harapan yang baik hanya bisa tercapai dengan kesungguhan yang konsisten”. Di saat kita semua fokus ribut-ribut, yang bangkit tertawa girang adalah penjajahan. Penjajahan tanah-air, penjajahan finansial, penjajahan produk-produk asing, dan kita kian lupa bahwa kita sedang ada dalam perutnya penjajah. Maka pengabdian yang konsisten adalah spirit yang harus dihikmati menjadi praktek gerak hidup kita seperti pesan Sukarno dalam Dedication of Life.