Sayang Dia Juga Cinta Kamu

Sayang Dia Juga Cinta Kamu

900
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Menyimak perbincangan di media sosial, akhir- akhir ini kita sering melihat istilah “standar ganda”. Mengapa sebagian orang berlaku baik hanya pada orang tertentu, dan berlaku tidak baik pada orang lain. Padahal, hal yang dilakukan sama, hanya orangnya saja yang berbeda.

Bisa kita lihat bahwa diskriminasi tidak hanya muncul dalam hal-hal yang besar. Sering tidak kita sadari bahwa hal itu terjadi di tingkatan yang sederhana.  Memberikan jawaban yang semangat pada orang tertentu dan lambat pada orang lain. Atau menolong A tapi tidak menolong B, padahal kondisi dan hal yang ingin dilakukan sama.

Lebih jauh lagi, hal yang kita lakukan sangat dipengaruhi oleh stereotip kita terhadap isu tertentu. Untuk sebagian orang, pengemis adalah orang yang patut dikasihani. Untuk orang lain, pengemis adalah orang yang tidak ingin mencari kerja, melainkan hanya ingin mendapat uang cuma-cuma dari orang lain saja.

Hal yang sama juga terjadi di tingkatan pemerintah. Sering kita lihat berita bahwa penggusuran suatu pemukiman liar dilakukan dengan tidak manusiawi. Walaupun hal yang terjadi mungkin kesalahan para penggusur, tapi jelas penggusuran tanpa dialog bukanlah solusi yang tepat.  Sebagai manusia tentu saja para penduduk memerlukan dialog sesuai dengan keadaan mereka.

Baik pemerintah maupun warga, semuanya memiliki Hak Asasi Manusia (HAM). Termasuk di dalamnnya hak untuk mendapatkan keadilan sosial, yang sempat didefinisikan oleh PBB dalam dokumen Social Justice in an Open World sebagai “substitusi dari hak asasi manusia” dan selanjutnya diperjelas menjadi “distribusi yang adil penuh belas kasih dari buah-buah pertumbuhan ekonomi”.

Lebih lanjut lagi, kita dapat mencapai keadilan sosial yang mapan ketika kita menghapus halangan-halangan yang dihadapi oleh banyak orang seperti gender, umur, ras, etnis, budaya, dan disabilitas.

Keadilan sosial merupakan sila ke 5 dari Pancasila yang menjadi salah satu pilar Indonesia. Pada kenyataannya, masih banyak ketidakadilan yang muncul dalam kehidupan sehari- hari.

Adanya ketidakadilan juga muncul dalam skala yang kecil-kecil, seperti perlakuan dan pandangan kita terhadap orang lain. Dalam dunia hukum ada asas praduga tidak bersalah, yakni asas yang diterapkan kepada setiap tersangka, bahwa yang bersangkutan dianggap tidak bersalah hingga putusan pengadilan dan proses hukum yang berlangsung menyatakan yang bersangkutan bersalah atas sesuatu tindakan.

Tidakkah hal tersebut juga berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari? Bahwa setiap orang adalah sama dan patut mendapatkan perlakuan yang sama tanpa dipengaruhi oleh asumsi dan stereotip belaka.

Keadilan juga berarti bahwa kita tidak bisa memperlakukan orang lain lebih baik dari yang lainnya karena kita mempunyai asumsi tertentu, seperti kata Victor Hugo, penulis Les Miserables yang memotret ketidakadilan sosial di Prancis abad 18, “Menjadi orang baik itu mudah, hal yang sulit adalah berlaku adil.

Stereotip dan asumsi yang salah sebenarnya harus dihindari, karena akibatnya yang kurang manusiawi. Kita jadi memandang manusia satu dengan yang lain secara berbeda, padahal setiap manusia diciptakan sama.

Memang dalam perjalanannya akan ada orang yang tidak cocok dengan kita, namun hal tersebut tidak berarti bahwa kita dapat dengan seenaknya memperlakukan mereka berbeda dengan yang lain. Apalagi jika perbedaan perilaku itu hanya didasari dengan stereotip semata.

Pengakuan akan hak dan kewajiban dasar setiap orang, terutama hak asasi manusia, akan mewujudkan keadilan sosial. Manusia tetaplah manusia dengan hak asasi sama tinggi dengan sesama dan oleh karena itu berhak mendapatkan dan memperlakukan orang lain dengan adil.

SHARE
Previous articleDaniel Alexander: Mimpi di Tanah Papua
Next articlePolisi Tangkap Pelaku Kejahatan, Tapi…
Lydia Utami
Lydia Utami Setyorini, lahir di Bandung 16 Maret 1991. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Kegiatan lainnya, belajar musik dan bahasa. Motto, “He who has not tasted bitter, knows not what sweet is.”