Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (?)

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (?)

1374
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

”Striving for social justice is the most valuable thing to do in life” – Albert Einstein

Ketika kita berefleksi dengan realita penegakan hukum hari ini, ada begitu banyak penindasan keadilan bagi mereka yang kurang mampu dalam keadaan ekonomi dan pengetahuan. Masih ingatkah kita betapa mengerikannya realita seorang nenek Minah berusia 55 tahun yang karena kurang pengetahuan memetik buah Kakao sebuah perkebunan didakwa penjara 1,5 bulan.

Ketidaktahuan sang nenek membawanya pada kasus hukum yang ia tidak pahami, namun ia tetap menghadiri persidangan yang mengores hati nurani. Sesungguhnya bukan hanya kasus nenek Minah yang menggoreskan luka betapa keadilan hanya dipandang sebelah mata dengan mengusung positivisme hukum dan mengabaikan hati nurani. Saya seakan turut merasakan kepahitan hukum yang tidak berkeadilan sosial.

Keadilan merupakan syarat mutlak dalam mencapai cita-cita negara dan terselenggaranya sistem pemerintahan yang demokratis. Ia menjadi daya hidup manusia yang substansial bagi kehidupan manusia, sebagaimana dituangkan dalam dasar dan ideologi negara Pancasila.

Selaras dengan pendapat Plato dalam teorinya yang menyatakan bahwa idealnya sebuah negara dengan sistem pemerintahan republik akan bersandar pada 4 (empat) sifat baik; kebajikan, keberanian, pantangan, dan keadilan.

Konsep keadilan sosial memiliki kaitan dengan dimensi keadilan lainnya, yaitu keadilan hukum, ekonomi, dan politik. Keadilan sosial menjadi simpul atas dimensi keadilan lainnya.

Keadilan sosial selalu menjadi tujuan akhir dari penerapan dimensi keadilan lainnya. Dalam berbangsa dan bernegara, ia menjadi kesimpulan atas harapan cita-cita bangsa, sebagaimana termaktub dalam sila kelima Pancasila.

Kesadaran atas tanggung jawab mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan suatu keharusan. Bagaimana mungkin para generasi penerus bangsa yang tidak memahami dengan pasti apa yang menjadi cita-cita bangsa dapat memperjuangkan atau bahkan mewujudkannya.

Ketika membaca sebuah tulisan dari Prof. Dr. Jimmly Asshiddiqie berjudul Pesan Konstitusional Keadilan Sosial, saya kembali teringat sebuah pengalaman pelatihan yang pernah saya ikuti di Kota Solo pada tahun 2014.

Pelatihan ini sebenarnya diperuntukkan bagi para pendeta dan kalangan teolog, namun saya dan tiga rekan saya cukup beruntung karena pada periode itu dibuka kesempatan bagi kalangan di luar teolog.

Tema pelatihan tersebut; Allah Kehidupan Bawalah Kami pada Keadilan dan Perdamaian. Pada awalnya saya mengira ini akan menjadi pelatihan yang membosankan karena berlangsung selama 23 hari dan peserta lainnya adalah rohaniawan.

Apa yang menjadi perkiraan awal saya justru berbanding terbalik. Pelatihan ini berhasil menyadarkan saya mengenai siapa diri saya dan apa yang menjadi tujuan hidup saya.

Suatu hari, saya teringat apa yang menjadi cita-cita saya memilih studi di fakultas hukum. Saya ingin menjadi seorang jaksa yang tegas dan berani menegakkan hukum. Saat itu saya pikir menjadi jaksa adalah satu-satunya cara menjadi penegak hukum yang mewakili negara dalam menjaga martabat hukum di Indonesia.

Namun, setelah mengikuti setiap materi yang dirangkaikan hampir sempurna, dimana satu materi dengan yang lainnya saling bertalian, yang kemudian mampu meruntuhkan dan membangun kembali tujuan hidup saya. Sungguh saat itu saya berjanji untuk mengabdikan diri dan ilmu ini bagi masyarakat yang miskin, lemah, dan tertindas.

Waktu berjalan dan terasa begitu cepat berlalu. Ada begitu banyak kesibukan yang saya kerjakan sebagai seorang sekretaris di organisasi kami yang secara tanpa sadar mengabaikan resolusi sepulang pelatihan.

Di tahun 2015, saya mengingat kembali resolusi tersebut dan kembali memasukkannya dalam daftar resolusi tahunan. Selain itu, saya mulai menginventarisir langkah-langkah yang ingin saya kerjakan untuk mempersiapkan diri.

Satu bulan pertama rasanya masih begitu menggebu-gebu, ada plan A dan ada plan B yang saya buat sebagai alternatif.

Memasuki bulan-bulan berikutnya, saya mulai mengalami berbagai tantangan. Di tengah tuntutan tanggung jawab organisasi, saya mulai diserang penyakit pikiran dari berbagai sumber, mulai dari tuntutan bekerja, tekanan keluarga, kebutuhan finansial, hingga kerja-kerja teknis yang harus diselesaikan. Akibatnya, saya mulai mengabaikan daftar langkah-langkah mencapai resolusi yang sudah saya buat.

Pada bulan Oktober 2015, saya menyelesaikan tugas dan tanggung jawab di organisasi dan terjadi pergantian kepengurusan. Di akhir bulan saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta

Saya kembali membuat daftar resolusi 2016 dan mengingat kembali resolusi di tahun-tahun lalu yang saya abaikan. Saya ingin menjadi tenaga pendidik yang berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan seluruh jiwa dan raga ini untuk melahirkan para penegak hukum masa depan yang mewujudkan kesejahteraan, kesetaraan, dan keadilan sosial.

Daftar Pustaka

  1. http://www.jimly.com/makalah/namafile/151/PESAN_KEADILAN_SOSIAL.pdf