Kabut Asap Kalimantan Itu Buah Tanganmu

Kabut Asap Kalimantan Itu Buah Tanganmu

868
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Kabut asap telah berlalu, pemerintah mengklaim Tahun 2015  bahwa kerugian Negara akibat kabut asap mencapai Rp 221 terliun baik di Kalimantan maupun Sumatra (Kalteng Pos 4 Februari 2016). Tapi nyatanya sampai saat ini tidak ada solusi konkret dari pemerintah maupun legislatif  secara serius dalam menangani kabut asap. Bisa diklaim bahwa kabut asap berhenti karena hujan.

Pemerintah kurang tegas terhadap korporasi nakal yang membakar untuk membuka lahan baru ini bukan rahasia umum lagi. Pembakaran lahan jangan malah membalikkan fakta seolah-olah masyarakatlah yang membakar, ini isu suatu kebodohan!

Modus dari korporasi adalah membakar lahan dahulu kemudian berharap ijin Hak Guna Usaha (HGU) di terbitkan oleh pemerintah.

Bencana kabut asap jelas buatan oknum manusia yang tidak bertanggungjawab, karena bencana itu tanpa interventensi manusia, misalnya; gempa bumi, tsunami dan meletusnya gunung berapi. Karena api itu jika tidak dibiarkan tentu akan padam. Api pasti asal mulanya sangat kecil kemungkinan berasal dari alam itu sendiri, jangan membalikkan logika.

WALHI sudah menyebutkan tahun 2015 sebagai tahun bencana ekologis di Kalimantan dan Sumatra. Hal ini disebabkan pengelolaan alam dan eksploitasi yang tidak bertanggungjawab.

Gambut yang seharusnya tidak boleh ditanami sawit, akhirnya menjadi kering dan mudah sekali terbakar. Bukan karena putung rokok saja tetapi karena sudah kering, makanya mudah terbakar. Terlebih dulu hal itu yang harus diselesaikan. Bukan menuduh atau mengalihkan isu pada kelainan cuaca elnino atau sebagainya.

Pembakaran lahan sawit jelas pelanggaran hukum (UU No.39 Tahun 2014 pasal 56 ayat 1 dan pasal 108) karena merusak ekosistem alam, membahayakan keselamatan manusia.

WALHI menyebutkan berdasarkan data  LAPAN  periode Januari–September 2015 ada 16.3334 titik api, dari data NASA FIRM 2015 ada 24.086 titik api.

Kebakaran hutan membuat warga diserang ISPA. Di Jambi ada 20.471 orang, Kalteng 15.138, Sumsel 28.000, dan Kalbar 10.010 orang.

Titik api terbesar ini adalah lahan yang dibakar oleh korporasi untuk memperluas perkebunan. Manusia yang diserang ISPA adalah korban kejahatan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Hanya mementingkan perut dan keuntungan diri sendiri.

Di awal tahun 2016, masyarakat Indonesia juga dikejutkan dengan pemberitaan media cetak maupun elektronik, atas pernyataan hakim Pengadilan Negeri Palembang, Parlas Nababan, yang memenangkan PT. Bumi Mekar Hijau dalam sidang perdata.

Beliau mengatakan, bahwa kebakaran hutan tidak merusak, baik lingkungan hidup maupun relasi sosial masyarakat dan hutan terbakar bisa ditanami tumbuh lagi; membuktikan bahwa langkah hukum belum tegas dan secara tidak langsung pembodohan kepada masyarakat.

Kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap tidak hanya dengan membagikan masker lalu masalah terselesaikan, sangat penting tindakan tegas dari pemerintah daerah maupun pusat bekerjasama menyelesaikan secara serius dan tentu diharapkan kesadaran seluruh elemen masyarakat menjaga lingkungan supaya alam juga bersahabat.

Pembakaran hutan menimbulkan dampak kerusakan lingkungan, musnahnya ekosistem dan kabut asap yang ditimbulkan menjadi moster yang merusak kehidupan. Pembakaran hutan merupakan kejahatan yang harus diperangi secara komprehensif oleh setiap pihak.

Alam telah memberikan sumber kehidupan kepada manusia, sepantasnya manusia menjaga dan melestarikannya, untuk kelangsungan kehidupan generasi mendatang, anak cucu kita kelak.

SHARE
Previous articleJangankan Keuntungan, Keadilan Pun Tak Mampu Disentuh PKL
Next articleFokus Kepada Kekuatan
Yopri Rangka
Yopri Rangka lahir di Panahan, 23 Juni 1990. Lulusan Universita Palangka Raya ini gemar berorganisasi, pernah aktif di GMKI Cab. P.Raya, GAMKI Prov. Kalteng, BEM UNPAR. Hobbi membaca, menulis, diskusi, futsal, jogging, dan mancing.