Fokus Kepada Kekuatan

Fokus Kepada Kekuatan

794
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Film Bridge of Spies mengisahkan tentang Donovan, seorang pengacara di bidang asuransi yang diberikan tanggung jawab oleh negaranya untuk menjadi pengacara mata-mata Rusia, yang kemudian membawa dia kepada kondisi genting, harus bernegosisasi dengan pihak Uni Soviet demi membawa membawa pulang 2 warga negara Amerika ( seorang mahasiswa dan  pilot AS yang tertangkap) ditukar dengan 1 orang mata-mata Rusia yang dia bela sebelumnya. Singkatnya, dia berhasil!

Donovan sadar dengan resiko dan tantangan yang harus dihadapinya, karena pengalamannya yang masih nol. Tetapi dengan bermodalkan kekuatan utamanya dan keyakinan yang dia miliki, dia berhasil melewati setiap tantangan yang harus dihadapi, dan akhirnya memberikan dampak yang nyata terhadap kehidupan orang lain bahkan negaranya. Keputusan yang dia ambil sangat beresiko tinggi dimana kehidupan keluarganya terancam dan ia mendadak menjadi “musuh bersama” rakyat Amerika.

Apa yang saya pelajari dari film ini adalah mengenali satu saja kekuatan diri kita dan berinvestasi di kekuatan tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat kita produktif dan memberikan hasil yang positif. Saya yakin seorang Donovan dipercaya untuk mengemban tanggung jawab tersebut salah satu alasannya karena kemampuannya dalam bernegosiasi yang menjadi kekuatan utama.

Dia memiliki intuisi yang kuat dan mampu meyakinkan lawan bicaranya walaupun seringkali dia juga sadar bahwa keadaan yang sebenarnya terjadi bisa jadi terbalik dengan yang dia harapkan. Tetapi, kemampuan dia dalam bernegosiasi dan menyakinkan lawannya akhirnya malah pada akhirnya kondisi yang terjadi sesuai dengan yang diharapkan.

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang yang cukup berpengaruh di tempat saya beribadah dan memiliki kepedulian di bidang kepemimpinan. Tujuan kami, tadinya, berdiskusi beberapa hal terkait people development dan teman bicara saya ini banyak berbagi tentang apa yang menjadi fokus dia ke depan melalui perusahaan yang dia miliki di bidang tersebut.

Dalam pembicaraan kami yang berlangsung lebih kurang 30 menit tersebut, ada 2 (dua) topik yang sangat menyegarkan sekaligus menggelitik dan menyadarkan saya;

Pertama, soal visi. Beliau bertanya tentang latar belakang saya yang dibarengi dengan pertanyaan apa visi saya untuk 10 tahun ke depan. Pertanyaan ini cukup membuat hati bergetar karena seringkali jawaban saya pun sering berubah, tetapi saya berusaha tetap menjawab pertanyaan tersebut, minimal untuk apa yang saya yakini pada saat itu.

Kemudian beliau berbagi kepada saya tentang kesibukannya dalam memimpin beberapa perusahaan, tetapi dia menekankan bahwa dalam menjalankan peran kepemimpinan, beliau hanya memainkan satu peranan penting saja yang menjadi kunci kekuatan penting utamanya.

Dia tidak menjadi orang yang sok pintar dalam mencampuri area yang lain. “Saya memimpin perusahaan yang bergerak di bidang investment tetapi saya tidak perlu membawa laptop,ujarnya.

Akhir dari pembicaraan malah menggiring saya untuk berpikir kembali untuk menemukan apa yang menjadi kekuatan utama saya, di tengah kegalauan saya dalam memutuskan apakah akan bertahan di tempat saya sekarang atau menemukan  dan mengusahakan hal–hal yang baru.

Sama seperti film yang saya baru saja tonton, pelajaran dari pertemuan tersebut menyadarkan saya untuk segera menemukan apa yang menjadi kekuatan utama dari diri saya segera dan menaruh waktu, tenaga dan biaya untuk menajamkan kekuatan tersebut.

Terlepas dari area/bidang pekerjaan yang menjadi fokus, kekuatan yang dipakai dalam menjalankan pekerjaan tersebut akan membuat pekerjaan dan diri saya semakin berarti sehingga produktivitas akan tercapai dan hasil dari pekerjaan tersebut bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga akan berdampak terhadap pihak yang berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Di tempat dan waktu yang berbeda, saya juga mendapatkan pesan yang sama. Kali ini ketika saya beribadah, sang pemuka agama sempat menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia belum siap dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlaku sejak awal tahun 2016 ini.

Kemudian sang pemuka agama itu juga menyakinkan sebenarnya kita tidak perlu khawatir dengan negara tetangga karena kita punya satu kekuatan penting, dan cukup hanya satu, yaitu jumlah penduduk kita yang berada pada usia produktif, dimana jumlah tersebut mencapai 60 juta(1). Gambaran lain adalah jumlah penduduk Indonesia yang memasuki usia produktif cukup mendominasi jumlah penduduk di negara ASEAN dengan perbandingan 38:100.

Sekali lagi, pesan ini membawa saya kepada satu pengertian bahwa satu saja kekuatan yang kita miliki bisa membawa kita kepada keberhasilan, tetapi sebaliknya hidup yang hanya melihat apa yang menjadi kelemahan tanpa berusaha fokus apa yang menjadi kekuatan kita, hanya akan membuat kita bergerak di depan, malah mungkin melangkah mundur.

Di awal tahun baru, saya yakin sebagian dari kita sudah membuat resolusi dan rencana kerja untuk mencapai hal-hal yang sudah ditetapkan di awal tahun. Tetapi, bisa jadi sebagian dari kita cenderung lupa untuk menginvestasikan untuk terus memperbaharui diri dengan menemukan atau menajamkan kekuatan kita yang menjadi alat penting dalam menjalankan semua aktivitas kehidupan kita.

Selamat menemukan kekuatan Anda!

Sumber:
http://www.beritasatu.com/ekonomi/248255-60-juta-penduduk-usia-produktif-jadi-modal-indonesia.html, 11 Feb 2015
http://bisnis.tempo.co/read/news/2014/03/27/090565711/penduduk-usia-produktif-indonesia-paling-unggul-di-asean, 27 Maret 2014

SHARE
Previous articleKabut Asap Kalimantan Itu Buah Tanganmu
Next articleDaniel Alexander: Mimpi di Tanah Papua
Albert Tommy
Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta. Bidang yang diminati: Marketing, Human Resources, Organization Development. Quote favorit, “Don’t work for a person. Do work for yourself and for God for the value you should fight for.” – Kornel M. Sihombing