Daniel Alexander: Mimpi di Tanah Papua

Daniel Alexander: Mimpi di Tanah Papua

2541
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Ada yang dipanggil untuk melayani di dalam gereja, tetapi saya tidak. Tuhan lebih menginginkan saya melayani secara universal. Masih banyak orang yang harus dijangkau melalui pelayanan kasih yang berwujud, bukan sekedar berdoa. Pelayanan yang mendunia, maksudnya yang bisa dirasakan oleh orang-orang dunia.” – Daniel Alexander

Daniel Alexander, pejuang kemanusiaan yang lahir di Babat, Jawa Timur, 22 Maret 1956 yang lalu. Kecintaanya melayani telah membawa beliau ke negara-negara maju untuk menjadi hamba Tuhan. Namun, seiring berjalannya waktu beliau terpanggil kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri di tanah Papua.

Beliau merasakan ketidakadilan di tengah-tengah masyarakat Papua manakala melihat begitu melimpahnya sumber daya alam yang ada di Papua namun kondisi masyarakatnya yang kian jauh dari kesetaraan dan pemerataan. Beliau memutuskan untuk berperan langsung memberantas kemiskinan dan keterbelakangan di Papua.

Awal tahun 1990 Beliau mengadakan survey dibeberapa tempat di Papua dan beliau mulai bergerak dari Nabire yang menjadi awal terbentuknya Yayasan Pelayanan Desa Terpadu (PESAT) Nabire pada tanggal 17 Juli 1995. Beliau menyadari bahwa senjata yang bisa memerangi kondisi masyarakat Papua adalah pendidikan dan beliau mencoba merintis hal tersebut bersama-sama dengan Yayasan PESAT Nabire.

Mengapa pendidikan?
Pendidikan mampu menyelamatkan masyarakat Papua, karena pendidikan yang baik berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik. Maka beliau beranggapan, apabila kualitas SDM meningkat diberbagai bidang maka masyarakat Papua akan mampu memanfaatkan kekayaan alam yang mereka punya untuk taraf hidup yang lebih layak. Untuk itu beliau bersama Yayasan PESAT mendirikan sekolah di tanah Papua.

Beragam penolakan sempat diterima beliau karena banyaknya orang tua yang tidak setuju dengan maksud baiknya. Namun, dengan pertolongan pihak-pihak yang mendukung, permasalahan tersebut mampu diatasi.

Semua proses yang sulit telah dilewati beliau. Cinta kasihnya untuk tanah Papua tidak pernah sia-sia. Berdirinya sekolah di Papua, kualitas pendidikan yang layak dan ribuan anak yang mau bersekolah menjadi bukti berhasilnya perjuangan beliau.

Beliau tidak pernah berhenti sampai di sana, selain merintis dunia pendidikan juga menjadi bapak untuk banyak anak-anak di tanah Papua. Beliau mencurahkan kasih dan cintanya terhadap anak-anak asuhnya.

Beliau tidak berasal dari Papua tapi memberikan hidupnya untuk Papua. Dimata banyak orang yang mengenalnya, beliau menjadi teladan dalam perjuangan, cinta kasih dan ketaatannya untuk melayani.

Di luar sana sudah ribuan orang yang merasakan tangan kasih seorang Daniel Alexander. Beberapa diantara mereka sudah menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Ada yang memilih kembali ke Papua untuk melanjutkan pelayanan bersama beliau ada juga yang melanjutkan kehidupannya di tempat lain. Bagi beliau hal tersebut bukan masalah, beliau percaya, dimana pun mereka berada, mereka akan menaburkan benih yang sama seperti apa yang pernah dilakukannya.

Menolong banyak orang sudah menjadi kewajiban manusia. Dalam perjalanan kehidupannya menolong banyak orang, beliau tidak menginginkan balasan berupa kebaikan untuk dirinya.

Beliau selalu berpesan, “Pay it forward.” Lanjutkan pertolongan yang Anda terima dengan membayarnya kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan bukan membayarnya kepada si penolong. Lakukan sampai setiap orang merasakan hal tersebut hingga suatu saat nanti semua orang akan melakukan hal yang sama.

Daniel Alexander punya mimpi untuk Papua dan untuk Indonesia. Beliau tidak pernah mengutuki ketidakadilan yang diterima oleh masyarakat Papua tapi lahir menjadi jawaban untuk membasmi ketidakadilan di tanah Papua dengan perjuangannya.

Beliau menjadi teladan untuk senantiasa melayani di tengah keterbatasan. Tidak ada perjuangan yang berakhir sia-sia, mari berjuang untuk mewujudkan keadilan seutuhnya bagi banyak orang.

SHARE
Previous articleFokus Kepada Kekuatan
Next articleSayang Dia Juga Cinta Kamu
Yanthi Yosefa Tobing
Gadis kelahiran Sidikalang, 17 Januari 1994. Saat ini sedang menempuh perkuliahan di Universitas Padjadjaran Bandung, Fakultas Hukum 2012, Program Kekhususan Hukum Pidana.