Catatan Pendek dari Dokumen Berjudul BDJV

Catatan Pendek dari Dokumen Berjudul BDJV

1007
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

“Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan yang lebih baik.” – Franklin D. Roosevelt

Suatu pagi di bulan Mei, saya sudah menyiapkan semua bahan untuk bertemu dengan saudara kandung salah satu bupati di Tapanuli. Sebenarnya, saya tidak terlalu antusias untuk berjumpa dengan lingkaran pejabat, siapapun itu!

Saya selalu ingat kata-kata teman dekat saya, “Kalau lu ntar dekat dengan kekuasaan, gue menjauh yah, Sar. Gue nggak bisa berada di tengah atau akrab dengan para penguasa.” Saya sangat mengerti apa maksud ucapan partner in crime saya itu.

Namun, saya bersedia berjumpa dengan adik bupati itu karena abang mentor saya bilang,“Sar, mau nggak bantuin program pengembangan pendidikan dan potensi masyarakat di kampungku? Kalau oke, nanti jumpa sama adiknya bupati.”

Pertimbangan pertama saya, karena abang mentor saya yang menawarkan. Kedua, karena ada kesempatan program pengembangan pendidikan untuk siswa/i juga masyarakat di pendalaman. Daerah yang mungkin luput dari perhatian pemerintah atau bisa jadi pura-pura nggak tahu.

Singkatnya, siang itu, saya bertemu dan bertukar cerita dengan adik bupati itu. Kami pun menyepakati rencana untuk mendirikan dua perpustakaan percontohan di dua desa disana. Dengan harapan, kalau berjalan mulus dan masyarakat juga anak sekolah di dua kampung itu mulai tergerak membaca, diskusi, menulis, dan hal-hal lainnya, mudah-mudahan penduduk di desa lainnya terpacu untuk memulai program seperti itu.

Usai pertemuan itu, saya kontak teman-teman yang baru saja kenal setahun lalu. Mereka telah lebih dari lima tahun berupaya dan sedang menjalankan perpustakaan di wilayah Samosir juga Balige. Kebetulan, Balige itu tanah kelahiran saya.

Konsep perpustakaan mereka menggunakan rumah adat Batak atau populernya disebut ‘sopo’, sebagai tempat menyimpan buku dan menyediakan ruang membaca, juga kegiatan lain bagi anak atau warga yang datang. Setelah beberapa tahun sopo tersebut berjalan, mereka kemudian mengupayakan pembuatan kapal.

Kapal tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi adik-adik di kampung, yang akses transportasi daratnya sulit. Kapal tersebut dapat mengunjungi kampung-kampung di tepian Danau Toba. Menyediakan bahan bacaan dan pendampingan. Sehingga, adik-adik, yang sebagian besar sepulang sekolah harus ke sawah bekerja, memiliki alternatif lain, membaca buku! Setiap kali kapal menepi di desanya.

library-657112_640

Saya tertegun dengan gerakan mereka. Bukan karena saya kenal, tetapi karena saya merasakannya langsung. Dengan mata kepala saya sendiri, Februari 2016 lalu, saya datang ke salah satu Sopo Belajar mereka di Pulau Samosir. Berjumpa dengan adik-adik yang rata-rata masih SMP. Bertukar cerita, dan saya terkejut dengan pola pikir mereka, yang bisa saya katakan sudah maju untuk ukuran di pelosok. Karena membaca!

Peristiwa saat saya menyaksikan langsung perkembangan siswa/i itu, mengingatkan saya pada kata-kata abang mentor saya, “Sar, kepemimpinan seseorang itu dilihat dari apa yang dirasakan oleh yang dipimpin.”

Selama dua hari disana, saya dan teman-teman yang ikut sudah sangat akrab dengan adik-adik peserta pelatihan juga beberapa relawan yang mendampingi. Saya selalu berkata begini, “Anggap aja kita udah kenal lama yah. Jangan malu-malu,” pada setiap orang baru yang saya kenal.

Saat kami hendak pulang, saya menyalami mereka. Saya memberanikan diri memberikan “salam tempel” kepada dua relawan. Sebagai tanda dukungan semangat atas kesetiaan mereka melayani dan merawat perpustakaan itu.

Saya heran, lebih tepatnya tertegun melihat langsung integritas mereka, saat mereka menerima salam tempel itu, langsung diberikan kepada bendahara perpustakaan serta melaporkannya pada ketua yayasan, di depan mata saya. Dalam hati, “Men! Dimana jumpa yang kayak gini, men! Keren, men!”

Kesimpulan singkat saya, dalam perjalanan pulang, “Masih ada orang-orang gila yang bersedia menjadi teman generasi penerus di negara ini. Aku baru saja melihatnya. Mimpi-mimpi penerus itu tak boleh terhenti!”

Tadi pagi, saya menerima email dari seorang guru di salah satu sekolah swasta terkenal di Jakarta. Ia curhat pada saya, tulisnya, “Aku adalah orang yang sangat malas membaca dan malas diskusi, sekalipun aku lulusan pendidikan bahasa….”

Sebelum pindah ke Jakarta, ia menjalani profesi sebagai guru juga di Medan, di salah satu sekolah swasta terkenal pula. Sampai ia menulis, “… Bangunannya mewah, ruangannya dingin, lantainya kinclong, toiletnya saja bikin orang betah berlama-lama.” Tetapi ia merasa terpenjara di sekolah. Berdasarkan pengalamannya, di sekolah itu tak terjadi praktek belajar-mengajar yang seharusnya. Banyak permainan! Penipuan!

Lalu ia menceritakan kenapa memutuskan ke Jakarta. Awalnya ia tak berniat jadi guru. Hanya ingin pergi jauh dari tempat asalnya, karena merasa tak berkembang. Singkatnya, ia diterima studi S2 di salah satu universitas di Jakarta sambil menjadi pengajar di sekolah.

Beberapa tahu ia di Jakarta, hatinya resah, “Masa iya, cuma kerja aja aku, bang? Masa nggak bisa berbuat yang baik buat adik-adik di luar sana atau ke masyarakat?”

Sampai hari ini, saya masih percaya pada ungkapan, “Orang-orang yang punya visi dan hati yang sama, akan dipertemukan!” Tak lama, di tengah kegelisahannya itu, beberapa pribadi mulai masuk dalam kehidupannya. Mereka berkenalan dan sejak itu mereka aktif menyelenggarakan seminar pendidikan juga kegiatan lainnya. Ke depan, mereka ingin mendirikan media online, sebagai pusat pembelajaran bagi anak-anak sekolah.

Pagi saya tadi terasa sangat istimewa! Karena menyaksikan, mengingat, sekaligus membaca kiriman email dari seorang muda yang tak sudi hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia sadar betul, masa depan Indonesia ini ada ditangan generasi masa kini. Oleh karena itu, ia rela mengobrak-abrik zona nyamannya.

Kita mau ikut? Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

SHARE
Previous articleKeadilan yang Setengah-Setengah
Next articleDedication of Life Bung Karno
Basar Daniel Jevri Tampubolon
Suka menulis dan sedang menyelesaikan penulisan buku pertamanya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai profesional muda di industri kreatif. Kutipan favoritnya, "Kekecewaan itu terbatas, namun harapan tidak terbatas." - Martin Luther King, Jr