Aku Tidak Bisa Sekolah Karena Koruptor

Aku Tidak Bisa Sekolah Karena Koruptor

999
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Pertama sekali mengenal angka dan huruf, betapa senang rasanya bisa mengetahui jenis huruf dan angka serta mulai bisa membacanya. Beranjak yang lebih tinggi lagi pada saat memasuki sekolah dasar, betapa bangganya ketika bisa berhitung dan membaca dengan lancar. Sejak mengetahui membaca dan menulis, pikiran semakin dibukakan dan mulai muncul cita-cita yang ingin digapai.

Berbagai jenis cita-cita dan kehebatan muncul di benak dan ingin sekali untuk menggapainya. Semua itu muncul ketika sudah mengenal huruf dan angka, dan hal ini merupakan dasar pengetahuan yang terpenting dalam membuka pikiran seseorang.

Pengetahuan dasar akan semakin berkembang mengikuti pola pikir yang semakin ditumbuhkan dari pendidikan yang semakin banyak didapatkan. Pendidikan bisa berupa pengetahuan di sekolah, rumah, dan juga lingkungan masyarakat. Inilah dasar mulanya pengembangan pendidikan dan perjuangan dalam mencapai cita-cita.

Seperti kata pepatah mengatakan, ”Gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit. Jarak antara bumi dengan bintang yang di langit tak terhingga, begitu juga dengan cita-cita yang kita inginkan begitu besar, takkan berhasil tanpa perjuangan! Perjuangan yang dimaksud adalah pendidikan baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun moral.

Pendidikan adalah modal utama dalam segala hal yang akan kita lakukan dan kita inginkan. Pendidikan adalah harga mati perjuangan untuk meraih segala cita-cita.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 12 Tahun 2012 dijelaskan bahwa pemerintahan Indonesia mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Peradaban dan kesejahteraan merupakan cita-cita bagi setiap orang yang harus didasari oleh pendidikan.

Pendidikan adalah masa depan setiap orang, tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Banyak orang yang mengatakan bahwa pendidikan itu mahal, susah untuk didapatkan! Banyak juga berpendapat bahwa tidak semua masyarakat Indonesia bisa menikmati pendidikan yang seharusnya mereka rasakan.

Itu merupakan fakta dan bukan teori saja, jika dibandingkan dengan daerah kota masih banyak daerah-daerah di pedalaman yang sama sekali tidak mengenal apa itu pendidikan dan apa tujuan dari pedidikan. Bisa dikatakan mereka yang belum mengenal pendidikan adalah mereka yang belum merasakan kemerdekaan bangsa ini.

Biaya pendidikan yang mahal, kurangnya tenaga pengajar dan guru yang berkualitas adalah faktor yang menyebabkan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mengenal pendidikan.

Selain itu, dukungan dan upaya pemerintah dalam mengembangkan pendidikan belum sepenuhnya. Terlihat dari gedung sekolah yang banyak hancur dan tidak layak untuk dipakai serta beberapa daerah tidak mempunyai gedung sekolah untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Sangat miris jika di kota begitu banyak gedung sekolah yang tinggi dan megah tetapi di daerah lain fasilitas untuk belajar tidak memadai. Indonesia bukan hanya daerah-daerah tertentu dan pulau tertentu, tetapi seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke.

Muncul berbagai pertanyaan, bagaimana masyarakat di pedalaman bisa mengenal angka dan huruf dan mulai mengembangkan pikirannya pada sebuah cita-cita yang ingin digapai?

Bagaimana Indonesia bisa sejahtera jika masyarakatnya buta huruf? Apakah pemerintah serius untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia?

Banyak masyarakat yang pesimis terhadap pengembangan pendidikan saat ini. Program pemerintah dalam bidang pendidikan belum terjangkau sampai ke pelosok-pelosok.

Penyebab utama terhambatnya program pemerintah adalah masih tingginya tindakan korupsi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, dengan memangkas biaya pendidikan ke daerah-daerah sehingga ke daerah pedalaman tidak menikmati program yang telah direncanakan oleh pemerintah Indonesia.

Tindakan korupsi akan mengakibatkan kegagalan banyak orang tidak bisa menikmati pendidikan yang seharusnya mereka nikmati. Kemiskinan dan kemelaratan tetap mereka rasakan tanpa ada perubahan akibat dari prilaku-prilaku yang seharusnya dilenyapkan dari bumi pertiwi ini.

Minimnya tenaga pengajar dan guru yang berkualitas disebabkan karena kurangnya minat masyarakat yang telah lulus dari perguruan tinggi, alasan utama mereka adalah masih rendahnya penghargaan pemerintah kepada kaum guru. Pengembangan pendidikan bukan hanya kepada pendidikannya saja, tetapi juga kepada pelaku pengajar yang telah berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kurangnya minat para pengajar untuk mengajar di daerah terpencil juga sebagai penghambat minimnya pengajar dan guru yang berkualitas. Kita sebagai generasi penerus yang telah banyak makan garam dalam pendidikan seharusnya bersedia untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan sangat penting bagi setiap umat manusia untuk menentukan masa depannya.

Mari kita sama-sama mendukung pengembangan pendidikan dan mulailah dari diri sendiri untuk menjauhkan tindakan korupsi agar Indonesia lebih maju di tangan-tangan orang yang benar-benar berpendidikan dan orang-orang hebat.

SHARE
Previous articlePolisi Tangkap Pelaku Kejahatan, Tapi…
Next articleKeadilan yang Setengah-Setengah
Arion Euodia Saragih
Penulis yang lahir pada 16 Mei 1991 di Bahpasunsang ini, kini tinggal di Jatinangor, Sumedang. Arion, demikian ia biasa dipanggil, mahasiswa jurusan Agroteknologi Unpad. Selain menjabat sebagai komisaris di KOMPERTA GmnI cabang Sumedang, Arion juga aktif di Himpunan Mahasiswa Pertanian Unpad.