GROWN UP DIGITAL: Era Generasi Para Pengubah Dunia

GROWN UP DIGITAL: Era Generasi Para Pengubah Dunia

999
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 0 Flares ×

“Ini kebenaran yang telah tercatat sepanjang sejarah: para pemimpin yang menganut paradigma lama enggan memeluk paradigma baru.” – Don Tapscott

Di era teknologi digital global saat ini, ada kecenderungan sebagian besar masyarakat kita dan dunia melihat internet sebagai “bara api” dari munculnya beragam ‘asap’ persoalan yang terjadi. Lebih jauh, internet dianggap sebagai penyebab munculnya beragam kejahatan. Setidaknya ada sepuluh hal yang menjadi alasan mengapa internet dipandang berbahaya untuk generasi baru yang disebut Don Tapscott sebagai Net Gener (Generasi Internet):

  1. Adanya anggapan sebagai generasi paling bodoh.
  2. Ketergantungan pada layar monitor dan kehilangan keterampilan sosial.
  3. Terlalu mengumbar hal-hal yang bersifat privasi..
  4. Melahirkan generasi manja dan tidak indepen.
  5. Mendorong kaum muda untuk mencuri dan menipu.
  6. Internet merangsang bullying.
  7. Mendorong kekerasan kaum muda.
  8. Etos kerja yang buruk.
  9. Narsisistis.
  10. Nilai-nilai yang diragukan, serta dianggap hanya ingin menjadi kaya dan terkenal.

Benarkah semuanya demikian? Teknologi seperti dua sisi pada sekeping uang logam, ada sisi positif dan sisi negatif.

Di Indonesia, kita bisa merasakan bahkan mungkin turut andil dalam perubahan-perubahan yang terjadi akibat adanya penggunaan teknologi, khususnya teknologi internet. Munculnya Citizen Journalism, E-Banking, E-Commerce, E-Ticketing, Petisi Online. Komunitas-komunitas dari berbagai kategori pun meramaikan dunia maya (dumay).

Mulai dari komunitas yang saling kenal di dunia nyata seperti sekolah, kampus, alumnus, hingga komunitas yang sengaja dibentuk karena kesamaan ide, gagasan, kelompok usaha/bisnis, opini, bahkan ideologi dan gerakan serta syiar/dakwah agama. Bahkan komunitas-komunitas yang terbentuk secara spontan untuk mendorong sekaligus menciptakan perubahan kebijakan, hukum, serta pergerakan demokrasi pun lebih cepat mendapatkan respon karena mereka ‘terhubung’ oleh internet.

Seperti kata Thomas L. Friedman dalam The World is Flat, bahwa dunia saat ini semakin menyusut menjadi kecil, terhubung satu dengan lainnya, nyaris tak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu. Dan kondisi ini disebut Friedman dengan istilah Globalisasi 3.0.

Kita mungkin tak menyadari akan betapa dahsyatnya pengaruh penggunaan internet dalam mengubah cara hidup manusia di berbagai ranah kehidupan. Mulai dari perilaku individu, keluarga, dunia pendidikan, pekerjaan, gaya hidup, kultur, transaksi bisnis, transparansi, birokrasi, pariwisata, pelayanan kesehatan, sistem keamanan, isu politik, hingga partisipasi masyarakat dalam memantau, mengkritik dan menentukan kebijakan para pengelola negara.

Pelayanan kesehatan yang buruk oleh sebuah rumah sakit terhadap pasien yang tidak mampu, menjadi cepat tersiar dan mengundang empati masyarakat dari berbagai tempat di Indonesia dalam membantu sang pasien, sekaligus hal ini akan menjadi kritik bagi pihak rumah sakit.

Pejabat publik, tokoh agama, nara didik, anggota DPR/DPRD yang berperilaku sembrono melakukan pelecehan seksual, selingkuh, tidur saat rapat/sidang, korupsi, kini tak mudah untuk sembunyi serta begitu cepat dilucuti dalam diskusi-diskusi di media sosial semodel Facebook dan Twitter.

Tapscott menyatakan dalam bukunya bahwa Generasi Internet (Net Gener) membawa otot demografis, kecerdasan media, daya beli model-model baru untuk kolaborasi dan cara menjadi orang tua, entrepreneurship, dan kekuatan politik ke dalam dunia.  Ada delapan norma yang membedakan Net Gener dengan generasi sebelumnya. Kedelapan norma itu adalah:

  • Kebebasan. Mereka lebih menyukai jam kerja yang luwes dan kompensasi yang didasarkan pada kinerja dan nilai pasar mereka – bukan didasarkan pada lama setor muka di kantor. Beberapa pekerjaan bahkan sudah mulai dikerjakan hanya dari rumah, menggunakan perangkat PC atau Laptop yang terhubung internet. Kita juga sudah merasakan betapa bebasnya kita mencari dan memilih produk yang akan kita beli tanpa harus beranjak dari tempat di mana kita berada. Semangat mencari kebebasan ini pun mengubah pendidikan. Mereka mempunyai akses ke sebagian besar pengetahuan dunia. Belajar harus dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja mereka mau.
  • Kustomisasi. Mereka memodifikasi produk-produk guna mencerminkan siapa mereka. Personalisasi. Dulu kita harus menyaksikan sebuah acara TV saat acara tersebut ditayangkan. Sekarang, kita bisa menyaksikannya kapan saja dan dimana saja acara TV tersebut ingin kita tonton. You Tube sudah tersedia.
  • Penyelidikan. Informasi yang berseliweran di Web tak menyulitkan kaum muda membedakan antara fakta dan fiksi.Net Gener adalah penyelidik baru. Mereka tak langsung menilai sesuatu ketika melihatnya. Strategi korporasi harus dibangun berlandaskan produk-produk yang baik, dan nilai-nilai yang baik. Kita bahkan bisa lihat informasi dan gambar berbau hoax, akan diselidiki kebenarannya, dan dengan cepat terkonfirmasi oleh para pengguna media sosial. Kita dilatih untuk tak langsung menilai sesuatu ketika melihatnya.
  • Integritas. Generasi ini sangat menjunjung integritas. Di dunia niaga, integritas sebuah perusahaan menjadi titik pembeda yang penting. Dalam dunia politik, tentu saja integritas serta rekam jejak (track record) seorang politisi, saat ini menjadi penentu penting dalam pemilihan presiden, gubernur, pejabat publik / wakil rakyat.
  • Kolaborasi. Dalam dunia bisnis, Net Gener (sebagai konsumen) justru berkolaborasi bersama-sama perusahaan-perusahaan menjadi produsen, menciptakan produk dan jasa. Dalam dunia pendidikan, kita tak lagi bisa menggunakan pola lama, model pedagogi yang hanya terfokus pada guru, satu arah dan berlaku umum. Saat ini, model yang digunakan berfokus pada siswa, tidak satu arah, bisa disesuaikan dan kolaboratif.
  • Hiburam. Pekerjaan haruslah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Beberapa perusahaan bahkan membiarkan karyawannya, untuk bisa sesekali refreshing berselancar di internet di tengah-tengah pekerjaannya untuk mendapatkan ide-ide baru dan segar.
  • Kecepatan. Email lebih cepat daripada percakapan biasa, itu sebabnya Net Gener sering lebih suka berkomunikasi dengan orang lain di pekerjaan dengan cara elektronik daripada bertemu langsung – kecuali itu pertemuan pertama kali atau menyangkut negosiasi yang penting. Setiap pesan instan harus mendapatkan jawaban instan.
  • Inovasi. Di tempat kerja, inovasi mengandung arti menolak hierarki perintah dan pengendalian tradisional dan merancang proses-proses kerja yang mendorong kolaborasi dan kreativitas.

Tentu saja dalam bukunya ini, Tapscott juga tak menafikan adanya sisi negatif dari penyalahgunaan teknologi internet, seperti bullying online, kecanduan game online, dan sebagainya. Ia memberikan semacam saran bagi para orang tua, guru, pemimpin perusahaan dan pemimpin dalam masyarakat demokrasi.

Tapscott menyatakan untuk tidak mengkambinghitamkan internet, sebuah sistem global untuk komunikasi dari berbagai pengetahuan. Ini sama saja menyalahkan perpustakaan karena banyak orang menjadi bodoh.

Di zaman ini, internet menjadi sebuah media untuk membentuk kewarganegaraan yang baik dan untuk kebangkitan kesadaran sosial. Benar apa yang dikatakan Victor Hugo, seorang penulis Prancis: “Tidak ada yang lebih dahsyat dari gagasan yang datang pada waktunya.”  Teknologi digital sudah ada di hadapan kita. Siapkah kita menyambut dan berkolaborasi dengan para Net Gener?

Judul buku: “Grown Up Digital: Yang Muda Yang Mengubah Dunia”
Penulis: Don Tapscott
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun terbit: 2008
Tebal Buku: xxii + 521 laman