Dari Mowgli sampai Kartini

Dari Mowgli sampai Kartini

887
0
0 Flares Twitter 0 Facebook 0 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 0 Flares ×

Saat kita dipaksa keluar dari apa yang sudah membuat kita nyaman, apa yang akan kita lakukan?

Hal ini yang terjadi pada Mowgli, anak kecil yang tinggal di hutan dan dibesarkan oleh sekelompok serigala. Mowgli yang berkawan dengan seekor panther bernama Bagheera sengaja diberikan ke kawanan serigala dan diasuh oleh ibu serigala bernama Rakhsa.

Tetapi, seekor harimau bernama Shere Khan sangat ingin membunuh Mowgli karena dendam terhadap ayah Mowgli, maka ia harus keluar dari kawanan serigala.

Mowgli mengalah demi kebaikan bersama. Ia pergi menjauh dan dalam perjalanannya, ia bertemu banyak teman dan petualangan baru, termasuk menemukan dirinya sendiri.

Ia memang dibesarkan oleh seekor serigala, tetapi ia manusia. Maka ia harus hidup dengan cara manusia. Manusia yang mengusahakan kehidupan harmonis di hutan. Inilah yang Mowgli pelajari dari kawan barunya, beruang madu bernama Baalu.

Keluar dari “zona nyaman” memang kadang-kadang atau seringkali membuat kita frustasi. Keluar dari comfort zone juga berarti membuka diri terhadap pengetahuan yang baru, pengalaman yang baru, teman-teman baru dan petualangan baru. Seperti yang Mowgli alami. Keluar dari ‘kenyamanan’ kawanan serigala, ia justru memperluas kapasitas hati dan kemampuannya.

Mowgli yang keluar dari zona nyaman juga menyalakan ‘cahaya’ pencerahan bagi Baalu yang melawan ketakutannya pada ketinggian, mencelikkan mata Bagheera bahwa Mowgli bisa bertahan di hutan dengan caranya sebagai manusia.

Lihatlah, betapa, satu langkah yang diambil oleh seseorang untuk keluar dari zona nyamannya membawa dampak bagi sekitar.

mowgli
Sumber Foto: www.newsunited.com

Beberapa hari yang lalu di lini masa, dari seorang kawan di Taiwan, ada foto-foto tentang pohon-pohon besar yang dipindahkan. Saya memang tak bertanya details mengapa dan hendak ditanam dimanakah mereka. Tetapi sembari menikmati kopi saya pagi itu, pencerahan itu datang. Seolah-olah pohon-pohon besar yang saya amati itu bicara, “Selama kamu masih hidup bergeraklah.”

Bukankah itu pula yang ditunjukkan oleh para pelopor bangsa ini? Mereka adalah orang-orang yang keluar dari zona nyaman dan bergerak! Seperti yang juga dilakukan oleh Kartini.

Acap ia diperbandingkan dengan para pejuang perempuan lainnya. Tetapi mengapa ia tetap diagungkan bahkan mungkin Ibu Ngasirah tak menduga jika ratusan tahun kemudian foto putrinya terpampang di mesin pencari google. Sebab ia, Kartini keluar dari zona nyaman dengan menyalakan pelita.

Ia membawa pelita lewat surat-suratnya yang kemudian termasyhur itu. Surat-surat yang mencerminkan rasa gelisah dan protes seorang perempuan yang hidup dalam masyarakat aristokrat Jawa di akhir abad ke 19. Zona nyaman yang didobrak Kartini adalah kerangkeng kolonialisme yang timpang dan menekan.

Observasi dan komentar-komentarnya dalam tulisan-tulisannya itu membawa terang bagi mata dunia Barat waktu itu, tentang apa yang terjadi di Indonesia. Walaupun cita-cita pribadinya tak sampai dan ia harus ‘jinak’ pula pada tata tertib waktu itu, umurnya tak panjang, tapi pelita itu sudah dinyalakan.

Maka kisah Kartini jadi penting bukan karena heroismenya, melainkan karena upayanya (yang mungkin dinilai gagal) untuk menyalakan pelita. Sehingga sampai kini masih banyak orang mempertanyakan zona nyaman dan bahkan keluar dari zona nyaman yang kadang kala sudah terlampau banal sehingga mematikan daya kritis, yang penting cari aman.

school-852498_640

Pendidikan dalam akar yang paling mendasarnya adalah “membawa keluar” seseorang dari kegelapan pikir menuju akal budi dan laku yang terang. Upaya membawa keluar adalah upaya keluar dari zona nyaman.

Persoalannya adalah, apakah pendidikan sudah benar-benar mendorong setiap orang untuk punya keberanian keluar dari zona nyamannya ketika di kelas-kelas yang terjadi adalah bukan mengajak siswa-siswi berpikir kritis tetapi sekedar transfer ilmu semata?

Setting yang paling sering saya jumpai di kelas-kelas adalah ‘haram’ hukumnya mendebat pernyataan guru dan buku cetak. Dan itu pula yang pernah saya alami dulu. Berkali-kali saya harus belajar dari selasar hanya karena saya berdebat dengan guru sejarah tentang peristiwa di tahun 1965. Baginya, siswi SMP cukup tahu apa yang disajikan buku cetak.

Pendidikan dalam ‘jiwanya’ adalah menyalakan kegelisahan setiap orang untuk bertanya, mencari, mengobservasi dan berdiskusi lalu melakukan aksi.

Skenario demikian juga nampaknya bukan hanya terjadi di ruang ruang kelas, tetapi di rumah juga. Berapa banyak keluarga yang menyediakan waktu berdiskusi dan bercengkrama? Menerbitkan rasa ingin tahu anak? Memfasilitasi bahkan meladeni anak-anak untuk terus berpikiran kritis?

Bagaimana pula di tempat yang lain? Berapa banyak orang yang merasa malu bertanya, malu berdiskusi ketika rohaniawan atau pemimpinnya membuka kesempatan?

Pendidikan pada akarnya adalah menyalakan keberanian setiap orang untuk berani bertanya, mengagumi, dan menyampaikan isi pikiran dan hati. Itu semua adalah tindakan keluar dari zona nyaman!

Orang yang tak mau keluar dari zona nyamannya akan seperti Shere Khan yang mati-matian menolak kemungkinan bahwa manusia seperti Mowgli tak akan melukai hutan – rumahnya.

Orang yang tak mau keluar dari zona nyaman akan terus-menerus hidup dalam kungkungan kegelapan pikir. Sehingga, alih-alih mengobservasi dengan obyektif, ia akan bersikukuh pada kebenarannya sendiri dan ‘nyinyir’ pada apa pun yang dilakukan oleh orang lain.

ball-1178747_640

Untuk membentuk generasi yang berani keluar dari zona nyaman, saya dan Anda punya pekerjaan rumah yang besar, yang sayangnya tak bisa dikerjakan oleh sekolah atau guru semata.

Semua elemen masyarakat punya peranan penting untuk membentuk generasi yang berani keluar dari zona nyaman dan bukan sekedar menyalakan pelita bagi dirinya sendiri, sebab seseorang yang menyalakan pelita bagi dirinya sendiri tak akan bisa menyembunyikannya dari orang lain.

Maka agak miris ketika hari Kartini dirayakan hanya dengan parade busana adat sebab menyalakan pelita itu membawa orang lain keluar dari zona nyaman kegelapannya menuju terang pengertian bukan sekedar soal berpakaian.

Sedih pula ketika Hari Pendidikan Nasional hanya dirayakan dengan seremonial, formalitas belaka. Sebab hakikat pendidikan adalah laku keseharian yang menjadikan diri sendiri sebagai pelaku pendidikan yang mendorong orang untuk berani keluar dari zona nyamannya. Laku keseharian yang menjadikan diri sendiri pembawa pelita menerangi sekitar.

Selamat keluar dari zona nyaman. Selamat menyalakan pelita!

SHARE
Previous articleUntold Stories of College Life
Next articleIndonesia Tidak Merata
Yohana Defrita Rufikasari
Lahir 16 Mei 1987. Suka bermain bersama anak-anak, membaca, menulis, melukis, nonton film, dan jalan-jalan. Saat ini menjadi guru Agama Kristen di TKK BPK Penabur Guntur dan SDK 5 BPK Penabur Guntur Bandung.