Dunia Virtual Media Kampanye

Dunia Virtual Media Kampanye

549
0
7 Flares Twitter 0 Facebook 7 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 7 Flares ×

Saya tidak begitu ingat dengan jelas kapan waktunya antara kehidupan nyata dan virtual itu menjadi satu. Berjalan beriringan. Satu hal yang pasti, saya selalu mencoba mengaktualisasikan diri melalui dunia virtual, yang akrab kita sebut media sosial.

Saat ini saya tengah menjalani semester 9. Setiap semester, saya dan teman-teman satu kelas selalu disuguhi mata kuliah yang memperkenalkan apa itu dunia virtual serta manfaatnya.

Media sosial beragam. Namun saya lebih akrab dengan salah satunya saja, facebook! Saya membuka account disana sejak masih berseragam abu-abu.

Sejak membuka account di facebook, saya selalu mencoba mengaktualisasikan diri melaluinya. Baik apa itu yang sedang saya rasakan, bahkan yang saya alami sekalipun, akan saya tuliskan. Saya membuatnya menjadi cerita untuk membuat diri saya terlihat keren.

Namun seiring berjalannya waktu, cara saya memandang media sosial mulai berubah. Waktu, aktivitas, dan kesibukan membentuk cara berpikir saya, bahwa media tidak hanya untuk menaikan brand pribadi. Hingga mengaburkan batas kenyataan dengan fantasi.

Dunia virtual merupakan media alternatif yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan. Jika dikaji menggunakan teori jarum hipodermik atau teori peluru bahwa media (termasuk media sosial didalamnya) memiliki kekuatan yang luar biasa yang dapat menginjeksi para khalayaknya.

Layaknya peluru yang ditembakkan, tidak bisa ditarik kembali. Ditambah lagi dunia virtual saat ini merupakan media yang paling di gemari oleh semua lapisan masyarakat.

Dengan semakin tercerahkannya cara pandang, maka kini saya melihat media virtual sebagai sarana kampanye. Menjadi penting untuk mengkampanyekan isu serta masalah yang tengah terjadi dalam masyarakat serta lingkungan saat ini.

Berkampanye menggunakan media virtual jelas efektif. Isu yang telah dimodifikasi dengan baik dapat tersampaikan dengan cepat, dalam waktu yang bersamaan, dan dengan jenis khalayak yang heterogen.

Saat ini setelah saya mulai menyadari bahwa substansi dari media virtual adalah mengabarkan apa yang penting bagi banyak orang, untuk tujuan mengubah paradigma berpikir bahkan sikap sesuai dengan keinginan pengabar, maka saya mulai memamfaatkan segala akun sosial mengkampanyekan isu-isu lingkungan, permasalahan sosial, budaya, serta kekayaan alam di daerah saya.

Isu dan kerusakan lingkungan, serta hasil perjalanan menyusuri tempat-tempat wisata juga kawasan hutan yang ada di daerah saya, secara intens saya beritakan beberapa bulan ini. Hal itu membuat teman-teman saya mulai mengerti apa yang sedang terjadi pada lingkungan kita saat ini.

Belakangan, setiap kali pergi ke kampus dan bertemu dengan teman-teman,  kami mulai sering diskusi tentang lingkungan. Lama-kelamaan, mereka menyematkan julukan “aktivis lingkungan” juga “perempuan penjelajah” pada saya.

Media virtual layaknya panah saat ini. Busur  apa pun yang dipasangkan kemudian dilepaskan maka akan mengenai setiap sasarannya. Banyak lembaga saat ini beralih media demi mengkampanyekan isu yang mereka bawa masing-masing.

Media massa serta elektronik sudah mulai diletakkan pada deretan pilihan kesekian. Karena keduanya dipandang membawa kepentingannya masing-masing. Arah dan kebijakan redaksi tergantung pada kepentingan pemilik. Maka dunia virtual sebagai media alternatif menjadi pilihan utama.

Kebebasan mengemas isu dan mengkampanyekannya dapat dimiliki setiap orang atau lembaga dari segara lapisan penjuru dunia. Tidak sedikit pula kampanye yang sukses. Seperti kasus Budi Waseso.

Cara yang paling ampuh yang dilakukan untuk menghimpun keinginan masyarakat luas di Indonesia dengan membuat petisi. Saya pun ikut menandatangani petisi tersebut. Pada akhirnya petisi ramai pendukungnya, Budi Waseso pun dicopot.

Saya, salah satu dari sekian banyak orang mungkin yang mulai mengubah cara pandang tentang pemanfaatan dunia virtual. Saya mulai mengurangi curhatan tentang kegalauan hati pada akun facebook, seperti yang sering saya lakukan beberapa tahun yang lalu.