Begitu Mudah: Revolusi Tahun Baru

Begitu Mudah: Revolusi Tahun Baru

862
0
626 Flares Twitter 0 Facebook 626 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 626 Flares ×

Konon, ada empat kata dalam bahasa Latin yang diucapkan setiap kali ada paus baru dinobatkan di Roma (tahun 1409 dan 1963), “Sic Transit Gloria Mundi.” Empat kata dalam bahasa Latin ini berarti, “Begini mudahlah musnah gegap gempita dunia.”

Dalam upacara penobatan Paus baru selalu ditampilkan seorang biarawan tua dina yang menghadap Paus baru sambil membawa segenggam jerami. Jerami diletakkan di hadapan Paus dan dibakar sampai jadi abu.

Ketika menemukan catatan tentang hal ini saya teringat akan kembang api yang lazim dinyalakan jelang pergantian tahun. Jerami yang dibakar sampai jadi abu, kembang api yang dinyalakan sampai habis ditelan malam gelap, semuanya menunjukkan, “Begini mudahlah musnah gegap gempita dunia.” Jabatan, gelar, kekuasaan, harta, relasi, penderitaan dan sukacita semuanya bisa musnah seperti abu, dan hilang ditelan gelap malam.

Ada begitu banyak peristiwa yang terjadi di sepanjang 2015 yang lalu. Aneka peristiwa korban bencana alam, potret ketidakadilan, kecurangan, pembiaran, diskriminasi, intrik politik, dan sebagainya, adalah secuil gambar dari segala peristiwa kemanusiaan yang membuat batin ini berbisik, “Begini mudahlah musnah gegap gempita dunia.”

Di hari pertama tahun 2016 saya bertanya pada diri sendiri, hmmm…. Sadarkah bahwa saya hanya kabel kecil selembut rambut dalam gerak gerik Tuhan yang terus-menerus mencipta dan memelihara?

Tahukah kita bahwa hidup ini penuh dengan misteri yang tak mudah dipahami akal? Mengapa suatu peristiwa bisa terjadi beruntun, mengapa si A berjumpa dengan si Z bukan dengan yang lain, mengapa ia menelikung kebenaran, mengapa pula mereka mengangkangi kebebasan. Tetapi walaupun demikian, tanpa misteri, hidup menjadi hambar dan tak bermakna. Tanda tanya yang membuat saya dan Anda terus bergerak.

Seperti misteri kasih Tuhan yang menerima kembali anak bungsu yang hilang, misteri kasih kita juga dimulai dengan kesediaan untuk memasang mata, telinga, mulut dan hati terhadap wajah remuk, jeritan dan nyanyi sunyi sesama kita. Bukan sekedar heboh dan asyik dengan hidup diri sendiri…, sebab, “Begini mudahlah musnah gegap gempita dunia.”

Tahukah kita bahwa suara senyap dan tangis bisu sesama kita yang meniti jalan hidup yang sunyi adalah titik perjumpaan yang jelas antara Sang Pencipta dan manusia?

Ah, “begini mudahlah musnah gegap gempita dunia”, secepat kembang api lenyap ditelan gelap. Sesederhana jerami yang dibakar sampai jadi abu.

Apakah 364 hari selanjutnya akan diisi dengan aneka kepongahan karena gelar, kesibukan, prestasi ini dan itu saja? Relasi dengan si A atau B yang menguntungkan? Sikut sana-sini demi ego sendiri? Bungkam suara?

Atau melihat setiap detik sebagai kesempatan untuk berperan sebagai kabel kecil selembut rambut di tangan Tuhan, yang siap dipakai untuk ada, menemani peziarahan sesama yang masih merindukan keadilan, kedamaian di rumah, keluarga, dan Indonesia.

Selamat mencatat sejarah!