Kepahlawanan itu Soal Tindakan bukan Keluhan

Kepahlawanan itu Soal Tindakan bukan Keluhan

917
0
34 Flares Twitter 0 Facebook 34 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 34 Flares ×

Setiap usai urusan memangkas rambut, ayah selalu mengajak saya menyaksikan tayangan film kungfu di seberang Barber Shop. Ini terjadi di masa kecil saya, saat SD. Kenapa film kungfu? Mungkin karena ayah suka film bergenre seperti itu atau ingin mengajarkan sesuatu yang sulit dia ungkapkan pada saya. Tapi belakangan, ketika saya beranjak dewasa dan keranjingan dengan film kungfu–terutama film yang tokoh lakonnya diperankan oleh Jet Lee–saya mulai bisa memahami maksud ayah saya itu.

Dulu, saya memang hanya terkesima menyaksikan jurus-jurus kungfu dalam sebuah film. Namun saat ini, jurus-jurus itu hanya pemanis, dibandingkan dengan alur kisahnya. Begitu juga dengan film-film superhero versi Hollywood yang belakangan marak.

Saya mulai menikmati dan belajar memaknai puluhan film itu sambil menarik benang merah dari semua kisah hero itu. Bahwa film-film itu bertutur tentang tindakan kepahlawan. Ah, itu kan film. Bagaimana dengan realitasnya?

Kita tahu ada ratusan tokoh dunia yang diberi gelar pahlawan karena tindakan mereka mengubah dunia. Apakah mereka pada awalnya menyadari bahwa mereka melakukan tindakan kepahlawanan? Tidak! Umumnya, mereka terdorong melakukan sesuatu karena situasi yang dianggap “melampaui batas” serta mengusik sisi kemanusiaan.

Revolusi Mental dan Kita?

Belakangan, di media sosial, kita cenderung menjumpai ungkapan-ungkapan bernada pesimis, apatis, menghasut dan sarkastis terhadap sebuah gerakan perubahan yang digagas pemerintah kita. Celakanya, nada-nada miring itu diumbar oleh beberapa pejabat publik, tokoh politik, aparat hukum, para pakar, bahkan tokoh agama, yang semestinya tak memperkeruh serta membodohi publik. Para mahasiswa, kaum intelektual muda pun tak kebal terhadap virus berpikir dan bertindak instan tanpa tujuan yang jelas.

Contoh konkret, kita tahu, penyebab banjir bukan semata-mata curah hujan yang deras atau kondisi iklim semacam El-Nino dan La-Nina. Situasi itu juga sangat dipengaruhi oleh perilaku kita, memperlakukan lingkungan alam di sekitar kita; kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan masih minim. Kita ingin tak diganggu oleh banjir, tapi dengan tanpa rasa bersalah kita turut menyumbang puluhan ton sampah ke selokan, sungai, jalan, trotoar dan lahan-lahan kosong yang ada setiap hari.

Kita ingin sebuah sistem dijalankan dengan benar, tapi kita menjadi bagian dari gerombolan penyamun serta benalu yang merusak sistem itu sendiri. Kesalahan-kesalahan itu dijustifikasi menjadi pembenaran, dianggap wajar dan habit. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa persoalan-persoalan yang terjadi di negeri ini serta berdampak pada dirinya, adalah semata-mata tanggung jawab pemerintah. Intinya, kita enggan memikul tanggung jawab dalam berperilaku.

Budaya gotong-royong yang indah itu kini tercemar dan disalahgunakan untuk hal-hal yang merusak fisik dan mental berbangsa dan bernegara kita. Gagasan “Revolusi Mental” benar-benar menghadapi tembok tebal menjulang yang tak mudah diruntuhkan dalam hitungan 100 hari bahkan satu atau dua periode pemerintahan. Mungkin butuh waktu puluhan tahun, karena sudah kadung berkarat dan mendarahdagingnya mental comfort zone untuk sebuah perubahan yang lebih baik dengan cara yang benar.

Lantas, apakah kita akan turut serta menceburkan diri, mengikuti arus, memainkan nada pesimis, apatis dan sarkastis dalam hidup berbangsa dan bernegara?

Kembali ke kisah-kisah heroik dalam film–juga buku, novel, serta beragam bentuk narasi kepahlawan lainnya–yang pernah atau tengah kita saksikan. Tidakkah itu mengusik serta menggugah kesadaran kita? Bahwa mungkin di sekitar kita butuh ‘pahlawan’ perubahan. Setidaknya bagi dan dari diri kita sendiri? Betul, dari hal-hal kecil dan sederhana.

Saya jadi ingat ucapan seorang Bikhu dalam sebuah kursus filsafat di Unpar, 6 Nopember lalu, “Lebih baik kita berupaya menjawab (menjadi jawaban) persoalan yang disodorkan pada kita dengan kemampuan dan pengetahuan yang kita miliki, meski sulit serta ada beberapa kesalahan yang bisa kita perbaiki nantinya, ketimbang kita membiarkannya kosong tanpa ada upaya/tindakan untuk memberi jawaban itu.”

Tindakan (action) adalah sebuah langkah positif yang mestinya menjadi semacam budaya dalam masyarakat kita. Aksi atau tindakan yang baik itu tak mesti dimulai dalam skala besar dan spektakuler.

Saya sejalan dengan  Karen Armstrong (Compassion, Mizan, 2012), bahwa “Perbuatan baik sekecil apa pun dapat mengubah kehidupan dan kita tidak ditakdirkan untuk menjadi egois karena kita memiliki kemampuan, melalui tindakan disiplin dan berulang, untuk membangun kebiasaan baru dalam pikiran, perasaan dan perilaku.” Itulah spirit gagasan Revolusi Mental; membangun kebiasaan baru dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Karena kepahlawanan adalah tindakan, bukan keluhan.