Keluarga: Sekolah Tanpa Ijazah

Keluarga: Sekolah Tanpa Ijazah

933
0
47 Flares Twitter 0 Facebook 47 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 47 Flares ×

“A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.” ~ Don Vito Corleone, The Godfather

Sibuk dengan pekerjaan? Sibuk dengan karir? Tak sempat berkumpul dengan keluarga? Jika jawabannya ‘ya’, ucapan karakter fiktif Don Vito Corleone dalam film The Godfather akan menjadi tamparan tersendiri bagi kita semua. Meski menggunakan kata ‘man’atau lelaki, sesungguhnya berlaku untuk kita semua, tanpa bias gender.

Ucapan itu mengingatkan bahwa keluarga adalah hal terpenting yang harus selalu diingat dalam hidup. Penting karena keluarga adalah tempat kita mendapatkan pendidikan semenjak masih jabang bayi, hingga akhirnya kita dewasa. Dengan kata lain, keluarga adalah ‘pabrik’ yang nantinya menentukan siapa kita nantinya hingga ajal menjemput.

Banyak yang terkadang lupa, bahwa pendidikan yang sebenarnya kita peroleh di keluarga. Ambil contoh jika kita duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dalam sehari kita hanya menghabiskan sekitar 6 sampai 8 jam untuk mendapatkan pendidikan formal. Sisa dari 24 jam dalam sehari akan dihabiskan di keluarga.

Di sisa waktu itulah, sebenarnya kita dididik untuk disiplin, belajar membuat komitmen, belajar untuk menentukan target, belajar untuk bertanggung jawab, belajar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, belajar untuk membantu anggota keluarga lain. Intinya, apa yang kita dapatkan di sekolah formal, sebenarnya harus diterapkan di keluarga.

Sayangnya, banyak yang alpa untuk menerapkan hal ini. Sekolah, bimbingan belajar, berbagai macam kursus, dianggap sebagai jalan keluar untuk membentuk kepribadian seseorang.

Padahal, instruktur, guru, pengajar, dan apapun sebutannya, hanya memiliki tanggung jawab selama orang itu berada di kelasnya. Di luar itu, mereka tak peduli. Sedangkan, keluarga bertanggung jawab atas seseorang 24 jam sehari, 7 hari seminggu selama hidup.

Harus diakui, pendidikan dalam keluarga itu tidak ‘seksi’. Keluarga tidak memberikan ijazah, tidak memberikan sertifikat, tidak memberikan kualifikasi kompetensi, dan syarat formil lainnya yang bisa digunakan dalam dunia kerja. Namun keluarga sebenarnya memberikan hal-hal non-formil yang justru menentukan karakter bangsa ini ke depannya.

Tidak akan ada lembaga atau institusi pendidikan manapun yang memberikan sertifikat kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Keluarga, di sisi lain, adalah satu-satunya lembaga yang mampu membangun nilai-nilai ini.

Mengapa demikian? Ungkapan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, adalah pembenaran untuk hal ini. Tanpa adanya contoh dan pendidikan yang cukup dari keluarga, manusia yang dilahirkan di dalamnya hanya akan menjadi pesakitan KPK selanjutnya, yang hanya mengelak ketika diminta tanggung jawab, dan enggan untuk mengakui bahwa dia bersalah.

Absennya peran keluarga dalam aspek pendidikan bagaikan seorang anak kecil yang memegang pistol, dan tidak tahu cara menggunakannya. Berbahaya, tidak bertanggung jawab, dan akan berujung pada kondisi yang mengerikan. Sekolah formil hanya memberikan peluru beserta senjatanya, namun keluargalah yang mengajarkan kita bagaimana menggunakannya dengan baik.

Karena itu, selalu ingat kutipan Don Vito Corleone. Kalau kita mau menjadi manusia seutuhnya, sudah seharusnya kita meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga.

Tabik.

SHARE
Previous articleKeluarga adalah Sebuah Permata
Next articleKeluarga, Cinta, dan Harta
Pirhot Nababan
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, kelahiran Bandung 20 Oktober 1985. Sempat menyicipi dunia aktivisme mahasiswa dengan menjadi Ketua Bidang I GMKI Bandung, dan Kepala Departemen Infokom BEM FH Unpad. Mengambil program kekhususan hukum internasional, namun lebih memilih untuk bergelut di bidang jurnalistik sejak di bangku kuliah. Sempat merasakan kerasnya dunia jurnalistik di KOMPAS.com saat berstatus mahasiswa, dan selepas menggenggam gelar sarjana hukum langsung bergabung dengan Hukumonline.com, media online yang fokus di bidang hukum. Di awal tahun 2014 berhasil menyelesaikan studi magister konsentrasi hukum ekonomi dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sambil tetap mengisi waktu senggang dengan gitar klasik, buku, film, dan Rubik’s Cube.