Harta Berharga Bernama Keluarga

Harta Berharga Bernama Keluarga

830
0
84 Flares Twitter 0 Facebook 84 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 84 Flares ×
Harta yang paling berharga, adalah keluarga
Istana yang paling indah, adalah… keluarga
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga
Mutiara tiada tara, adalah… keluarga 
Selamat pagi emak
Selamat pagi abah
Mentari hari ini berseri indah
Terima kasih emak,
Terima kasih abah,
Sumpah sakti perkasa
Dari kami putera-puteri
Yang siap berbakti 

Lirik lagu di atas tentu tidak asing di telinga kita. Ya, lagu yang berjudul “Harta Berharga” ini adalah tema lagu dari serial televisi bertajuk Keluarga Cemara, yang populer di era 1990an. Arswendo Atmowiloto adalah sosok yang merajut kata-kata dalam lagu tersebut, yang kemudian diharmonikan dengan untaian nada dari Harry Tjahjono, dan diaransemen oleh Nana Master.

Film Keluarga Cemara menceritakan tentang nilai-nilai berharga yang didapatkan di dalam keluarga. Kehidupan keluarga yang sederhana tidak mengurangi nilai dan makna dari keluarga itu sendiri. Di dalam keluargalah kita belajar tentang mencintai, nilai-nilai hidup, karakter, saling peduli dan berkorban, berbakti, serta hal-hal baik lainnya.

Di dalam keluarga juga kita merasakan kehangatan dan keberterimaan. Terkadang ketika kita berada di sekolah ataupun tempat kerja, kita mendapatkan banyak masalah dan tantangan. Namun, saat kembali ke rumah, kehadiran keluarga memberikan kita kehangatan dan kelegaan, dan kita pun siap untuk kembali menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan ini.

Inilah idealnya keluarga, harta berharga yang sangat bernilai dan sulit untuk digantikan oleh harta semahal apapun.

Sayangnya, tidak semua masyarakat Indonesia merasakan indahnya hidup berkeluarga. Banyak keluarga yang berantakan karena hubungan individu di dalamnya tidak harmonis. Suami-istri cekcok  dan tidak saling percaya, orangtua dan anak tidak saling menyayangi. Orangtua disibukkan dengan pekerjaan. Anak lebih banyak bergaul di lingkungan luar dan terkadang justru belajar hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan buruk.

Kemuktahiran teknologi yang seharusnya membawa manfaat justru membawa mudarat bagi keluarga. Orang tua sibuk bertelepon dengan rekan bisnis, sedangkan anak disibukkan dengan berbagai sosial media dan permainan online. Fasilitas internet juga memudahkan anak mengakses berbagai informasi, baik yang berguna maupun yang tidak berguna.

Kehangatan yang seharusnya diberikan oleh keluarga justru didapatkan dari luar keluarga. Maka sekarang ini kita sering membaca adanya suami/istri yang selingkuh, ataupun anak yang kedapatan melakukan hubungan bebas dengan rekan-rekannya. Pendidikan moral dan karakter sejak dini yang seharusnya diberikan oleh orang tua, justru lebih dipercayakan kepada pihak sekolah. Akhirnya anak yang penuh rasa ingin tahu belajar dari tempat-tempat lain yang belum tentu mengajarkan hal yang benar.

Keluarga seharusnya menjadi tempat perlindungan di saat hidup terasa berat. Keluarga juga harus menjadi tempat belajar pertama tentang apapun bagi anak. Di dalam keluarga, anak belajar mengenal kehidupan dan memahami tentang hal yang baik dan berguna.

Keluarga yang baik akan memberikan manfaat positif bagi lingkungannya. Orang tua akan bekerja dengan baik di kantor dan anak akan berprestasi di sekolah/kampus. Keluarga yang baik akan menjadi contoh dan teladan yang positif bagi lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal menetap.

Membangun Indonesia harus dimulai dengan membangun keluarga yang baik dan ideal. Masyarakat harus kembali diingatkan bahwa keluarga memiliki peran vital membentuk moral dan karakter masyarakat, terutama anak yang menjadi generasi penerus bangsa. Binalah keluarga, maka nasib suatu bangsa pun akan terbina. Mari kembali kepada keluarga, karena itulah harta yang paling berharga bagi kita.

SHARE
Previous articleKeluarga, Masih Hangatkah?
Next articleKeluarga adalah Sebuah Permata
Sahat Martin Philip SInurat
Penulis lahir pada tanggal 1 Maret 1989 di Pekanbaru. Lulus dari jurusan Teknik Geodesi ITB dan saat ini melayani di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia sambil berwirausaha. Motto hidupnya, “Kapal itu aman di pelabuhan, tapi bukan untuk itu tujuan kapal diciptakan.”