Memerdekakan Alam Nusantara

Memerdekakan Alam Nusantara

648
0
587 Flares Twitter 0 Facebook 587 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 587 Flares ×
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimuBenjamin Sueb

Lebih dari 300 tahun lamanya bangsa kita dijajah dan dieksploitasi ”luar-dalam” oleh bangsa lain. Oleh para pahlawan terdahulu, kini setiap tanggal 17 Agustus, kita peringati sebagai hari kebebasan Indonesia dari penjajah. Tapi, apakah kini kita benar-benar sudah merdeka laiknya arti merdeka sesungguhnya?

Dulu, penjajah kita tampak di depan mata. Mereka menggunakan banyak atribut, senjata dan berbagai taktik perang. Tak hanya satu! Sejumlah negera pun silih berganti datang ke Indonesia seperti Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Lantas apa sebenarnya yang mereka cari di negeri kita Indonesia?

Meminjam kata-kata Benjamin Sueb, “Tanah kita tanah surga.” Bahkan, sangking suburnya diibaratkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Ini artinya Indonesia punya Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Tak hanya itu, Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia juga banyak tersedia.

Sebut saja kekayaan rempah-rempah kita habis mereka perdagangkan dan sistem yang mereka miliki kala itu, VOC. Tenaga dan nyawa ribuan warga Indonesia mereka perdayakan. Itulah kenapa SDA dan SDM menjadi suatu hal yang penting dan luar biasa bagi negara ini.

Sudah 70 tahun berlalu sejak kita merdeka. Lalu apa yang diperjuangkan para pahlawan kita dulu masih sama dengan sekarang? Mungkin saja. Tapi sekarang kasusnya lebih rumit. Dulu tetua kita menolak bergantung pada negara luar untuk membangun negara. Namun sekarang, kita menyodorkan sendiri ”kartu as” kita.

PT Freeport Indonesia yang bernaung di bawah bendera Amerika Serikat sudah mengais pundi-pundi emas di gunung tembaga Papua sejak tahun 1967. Kini, negara Indonesia, dengan segala macam hitung-hitungannya, santer diberitakan akan memperpanjang kontrak perusahaan tersebut sampai dengan tahun 2041.

Lantas, sudah merdekakah kita? Jawabannya kita yang harus memerdekakan diri. Baik masyarakat, pemerintah maupun Non Government Organization (NGO) harusnya bersinergi. Pemerintah membuat agenda kebijakan yang ‘hijau’, menerapkan azas berdikari, melindungi alam serta mengelola alam dengan kewenangan yang dimilikinya.

Sementara kita, sebagai masyarakat turut mengawasi jalannya kebijakan itu. Jangan jadi bagian dari kebobrokan. Membangun negara tak segampang berkomentar di depan layar televisi kala harga cabai naik. Mereka–yang–bergelar juga diharapkan kembali ke Indonesia untuk membangun Indonesia.

Negara kita kaya! Kita jangan terkungkung dengan stigma ”negara berkembang” yang selama ini lekat kepada negara-negara Asia di Selatan.

Sudah mengelola negara dengan tangan sendiri saja cukup? Tidak juga! Kita harus mengelola cerdas! Tak sedikit perusahaan anak negeri yang malah membebankan negara. Sebut saja bencana semburan lumpur panas di Sidoarjo. Puluhan ribu warga harus mengungsi dan kehilangan pekerjaan sejak tahun 2006 sampai dengan sekarang.

Akibatnya, atas nama kemanusiaan, pemerintah Indonesia harus mengucurkan dana talangan sebesar Rp781 Milyar dari APBN untuk menanggulangi puluhan ribu korban tersebut. Ini pentingnya kita sebagai SDM harus cerdas mengelola alam Nusantara agar kita tak kembali terjajah bangsa sendiri (baca:memerdekakan diri).

Kasus terjajah dengan negeri sendiri juga bisa kita lihat banyak daerah air resapan yang kini dipadati permukiman. Alhasil banjir tak terelakkan di beberapa kota besar di Indonesia seperti daerah Grogol di Jakarta dan daerah Gede Bage di Bandung.

Memerdekakan alam Nusantara memang bukan perkara mudah. Perlu pemerintah yang berani, masyarakat yang bisa diajak bangun bersama. Karena sejatinya bangsa kita, bangsa Indonesia harusnya menjadi raja negeri sendiri.

SHARE
Previous article7 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Kemerdekaan Lingkungan
Next articleTeknologi Berkelanjutan
LB. Ciputri Hutabarat
Penulis bernama lengkap LB. Ciputri Hutabarat ini, biasa dipanggil Citra. Ia merupakan mahasiswi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan Unpad. Ketertarikan Citra dalam dunia politik terlihat dari motto hidupnya, “Keterlibatan politik bukan hanya sebuah keharusan tapi juga wujud dari iman.”