Tipe-Tipe Mahasiswa Masa Kini

Tipe-Tipe Mahasiswa Masa Kini

1533
0
358 Flares Twitter 0 Facebook 358 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 358 Flares ×

Menjadi seorang mahasiswa merupakan kebanggaan tersendiri bagi yang menyandangnya. Mahasiswa, dipandang memiliki tingkat intelektualitas tinggi, dewasa, mandiri, kritis dan bertanggung jawab. Senang belajar, mengasah otak, berpikir, memecahkan masalah tanpa masalah, ikhlas, dan melatih keterampilan yang dia miliki tanpa merasa jenuh dan bosan guna menjadi insan sejati.

Tak zamannya lagi mahasiswa yang cuma tahu 3D+1P; Datang, Duduk, Diam, Pulang. Atau sekedar kombur “mamak-mamak” dibawah pohon rindang, kantin, mall dan sejenisnya. Justru komunitas ilmiah sekarang ini membutuhkan mahasiswa yang suka belajar, baca literatur, baca jurnal, baca paper, diskusi, suka menulis, membaca buku-buku, berorganisasi dan berdiskusi.

Dunia mahasiswa yang saya tahu kala itu memberikan banyak cerita. Banyak pula tipe mahasiswa yang saya temui. Jika saya ingat, saya geli sendiri. Ada tipe mahasiswa doyan kritik. Tipe yang seperti ini jagonya hanya bisa mengkritik, sok hebat, gemar mencela, tetapi tidak ada hasil yang didapat.

Berteorinya hebat berbuatnya nol. Kalau ada masalah bukannya memecahkan masalah, tetapi mencari kambing hitam, dan menyodorkannya ke orang lain. Saya lebih menaruh simpati pada tindakan, bukan omongan.

Tipe mahasiswa asbun. Yang seperti banyak saya temui, tipe seperti ini ngomongnya nyerocos tanpa jeda. Kalau bicara angkat kepala, memberi argumen seenak perutnya tanpa referensi. Jika ditanya, ia mulai mengalihkan pembicaraan atau berkelit-kelit. Ngak-nguk-ngak begitu nada yang keluar!

Tipe mahasiswa terima jadi. Jika ditanya tipe seperti ini yang banyak saya temui. Jika disuruh diskusi alasan paling banyak; Aku lagi sakit, kucingku lagi kawin, padahal tadi pagi jalan ke mall. dan berbagai alasan yang lain.

Tipe mahasiswa copy paste edit sedikit. Tipe mahasiswa seperti ini jagonya copy paste tugas orang. Tidak ada usaha sama sekali. Agar kesannya beda, di edit sedikit, rubah huruf padahal isinya tak beda jauh. Pikirnya yang penting ada usaha.

Tipe mahasiswa jago bergaya atau bahasa kerennya fashionable. Tipe begini terlalu mengikuti zaman. Tiap hari gonta-ganti baju baru. Kegandrungan pada merek-merek mahal. Dandanan menor mengalahkan dandanan artis. Tidak cuma itu, kesenangan berbelanja.

Jika dulu René Descartes menyatakan eksistensi manusia dengan jargon Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, maka mahasiswi sekarang akan mengatakan Emo Ergo Sum, aku belanja maka aku ada. Belanja menjadi semacam eksistensi mahasiswi untuk bisa diterima dikelompoknya. Dan masih banyak lagi tipe yang lain.

Terlepas dari itu, tak bisa dipungkiri, dunia kampus adalah dunia yang menyediakan segalanya; sukacita berlimpah, kesenangan, kenikmatan mengejar ilmu pengetahuan, keberanian mengejawantahkan ide.

Namun saya melihat, mengapa banyak mahasiswa mengalami stress, depresi dan konflik emosi, kebosanan dan kejenuhan. Tak mampu menghadapi kerasnya, pedihnya kehidupan kampus. Tak mampu bersaing, mengikuti kultur akademik kampus karena sejak dulu diajarkan, dibiarkan hidup ‘enak’.

Mengapa bukannya antusiasme, optimisme, dan suka cita yang didapat?

Bila begitu sebaiknya ada solusi yang bisa ditawarkan (ini adalah nasihat yang paling sering saya dengar dari mulut orang); pecahkan masalah atau tinggalkan masalah. Ya, mahasiswa adalah orang yang paling tahu itu karena itulah dia disebut agen perubahan. Tak cuma mau merubah bangsa ke arah yang lebih baik, namun terlebih dahulu merubah dulu diri sendiri. Rubah perilaku, cara pikir, bersikap, bertutur sapa, dan mau berpikir jernih.

Tugas inilah yang  dapat menjadikan dirinya sebagai harapan bangsa, yaitu menjadi orang yang setia mencarikan solusi berbagai problem yang sedang menyelimuti mereka. Inilah yang dapat menambah nilai plus bagi dirinya sebagai mahasiswa jika harapan mereka terwujud dan menjelma menjadi kenyataan dalam kehidupan mereka, tak cuma menjadi harapan yang kandas di tengah keruhnya kehidupan.

Namun, seiring berkembangnya zaman, mahasiswa mulai tak menyadari keberadaan dirinya. Satu hal yang tidak bisa dipahami dari sisi-sisi mahasiswa adalah menyangkut persoalan konflik batin. Saya sadar, saya memang tak bisa, tak cukup mampu merasakan kedalaman kegelisahan, keremangan dalam sisi mahasiswa. Tak setiap manusia mampu melewati, menerjang, menembus kerasnya hidup. Ada pula yang tak sanggup untuk itu. Semua coretan indah tentang mahasiswa yang baru saja saya paparkan bisa hilang dalam sekejap mata.

Seperti baru-baru ini, ada mahasiswa yang lebih memilih menyerahkan hidupnya ditiang gantungan. Pupuslah harapan-harapan, hilanglah esensi mahasiswa yang telah lama atau baru melekat padanya. Mungkin, bunuh diri bagi mereka adalah jalan terbaik. Who Knows?

SHARE
Previous articlePenulis Sejati Tidak Akan ‘Melacur’
Next articleSemua Doa itu Baik
Roy Martin Wolfram Simamora
Roy Simamora lahir di Parlilitan, 24 Oktober 1990. Pionir Ikatan Penulis Muda (IPena) PKn Unimed. Suka membaca, menulis dan fotografi. Kini sedang menempuh Studi Master di National Dong Hwa University, Taiwan.