Membangun Kampung Halaman

Membangun Kampung Halaman

969
0
29 Flares Twitter 0 Facebook 29 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Filament.io 29 Flares ×

Hal yang menarik jika ditanya mengenai film Toba Dreams adalah tentang membangun kampung halaman, membangun Bonapasogit. Film tersebut mengkritik kita khususnya orang-orang Batak yang lupa kewajibannya untuk membangun Bonapasogit. Kita bisa lihat karakter Ronggur yang tidak ingin mengeluarkan keringatnya demi Bonapasogit. Kita akui, masih banyak Ronggur-Ronggur lain yang tidak ingin membangun kampung halamannya. Saya sendiri tidak ingin menjadi orang Batak yang seperti itu.

Memang hal ini tidak menjadi sorotan utama dalam film Toba Dreams, namun bukan berarti bisa tidak penting. Kita harusnya sadar bahwa para leluhur kita sangat mengharapkan kita, cucu-cucunya, bekerja keras untuk melanjutkan apa yang sudah mereka mulai dan itu pasti tidak mudah.

Bukannya tidak ada orang Batak yang mau kembali membangun Bonapasogitnya, tetapi apalah daya satu helai rambut di kepala yang hanya dapat bermanfaat jika bergabung dengan helaian-helaian rambut lainnya. Seharusnya kita bisa saling berkolaborasi dan tolong-menolong membangun Bonapasogit..

Kita bisa belajar dua tipe orang dari tokoh utama Ronggur dan Sersan Tebe.

Pertama, dari sisi Ronggur yang menjalani masa kecil di kampung halamannya, Balige. Ia memulai masa kecil yang begitu indah,  dimanjakan oleh alam Balige, serta merasakan hidup rukun bersama tetangga. Tetapi ketika ia besar, ia melupakan kampung halamannya. Ia menjadi anak kota yang suka tawuran, yang hanya mau tunduk pada aturannya sendiri dan sama sekali tidak peduli pada lingkungannya.

Kita bisa menebak apa yang akan dilakukan Ronggur jika ayahnya memintanya untuk bergandengan tangan membangun Balige. Dia melakukan berbagai cara untuk menghindari hal itu. Ia tidak malu pada adiknya, Sumurung yang menurut kepada perintah sang ayah. Sumurung bahkan melakukannya dengan senang hati, berbeda dengan Ronggur yang cemberut dan bermalas-malasan ketika ayahnya merencanakan untuk membantu warga membangun kampung. Dia tidak berusaha membantu, padahal dia anak pertama yang seharusnya menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Ayah Ronggur bekerja keras membangun kampung halaman agar lebih maju dan lebih sejahtera. Para penduduk menyambut dengan baik.Dalam film tersebut terlihat jelas bagaimana warga saling membantu untuk membangun kamar mandi umum dan menata kembali kampung mereka. Mereka berhasil menciptakan suasana yang baru dimana kampung mereka terlihat lebih bersih dan nyaman.

Ayah Ronggur juga bertani, sama seperti sebagian besar warga di kampung tersebut. Ia dan warga lainnya menanam padi dengan rapi. Mereka juga mengaliri sawah mereka dengan air sehingga lahan sawah mereka dapat subur serta terlihat indah dan hijau.

Kita bisa melihat banyak hal positif yang akan terjadi jika kita sungguh-sungguh membangun kampung halaman kita. Kita dapat belajar dari Sersan Tebe, dimana ia melakukan pekerjaannya demi membangun Bonapasogit yang sudah lama tidak diperhatikan dan tidak mengharapkan imbalan dari siapapun.

Sungguh mulia orang-orang yang memiliki hati seperti Sersan Tebe. ”Nice to be important, but more important to be nice,” kalimat ini yang dapat menggambarkan hati mulia Sersan Tebe Ia melakukan semuanya dengan hati yang tulus. Tentu kita bisa memiliki karakter yang sama seperti tokoh ini dalam membangun Bonapasogit asal kita mau meneguhkan hati kita.

Kita bisa lihat perbedaan antara orang yang membangun kampung halaman dengan yang tidak membangun. Sekarang kita dapat memilih, apakah ingin menjadi orang Batak yang cuek dan tidak peduli, atau menjadi orang Batak yang sesungguhnya seperti Sersan Tebe. Saya sangat berharap kita bisa menjadi orang Batak yang selalu ingat pada Bonapasogit dan mau membangun kampung halaman kita itu.