Kiat Mencari Kerja

Kiat Mencari Kerja

610
0
446 Flares Twitter 0 Facebook 446 Google+ 0 Pin It Share 0 Email -- Email to a friend 446 Flares ×

Sudah empat tahun lebih saya berkecimpung di dunia perkantoran sejak usai masa kuliah dulu. Sebagian besar dari waktu yang tak cukup singkat itu saya habiskan di sebuah perusahaan swasta yang cukup ternama di bidangnya.

Dalam pekerjaan sehari-hari, saya menemukan ada banyak kenyataan-kenyataan pahit yang harus ditemui oleh anak muda Indonesia seusai menyelesaikan kuliahnya. “Mencari kerja”, adalah hal yang cukup sulit untuk dijalani seusai masa kuliah.

Ada beberapa contoh kasus yang saya temui yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dalam upaya “mencari kerja”. Tentunya contoh yang akan saya bagi adalah kasus-kasus yang umumnya terjadi di perusahaan-perusahaan swasta yang sejenis dengan tempat saya bekerja saat ini.

Mengenal Kemampuan Diri

Hal pertama yang harus diketahui setiap orang yang ingin mencari kerja adalah “mengetahui apa yang dia tahu” untuk digunakannya sebagai modal dalam bekerja nantinya.

Biasanya, dalam mengumumkan lowongan pekerjaan, sebuah perusahaan pasti mencantumkan posisi-posisi apa saja yang tersedia untuk dilamar oleh para pencari kerja. Saat membuat lamarannya, para pencari kerja diminta untuk mencantumkan posisi yang diinginkannya.

Pada kenyataannya, ada banyak anak-anak muda pencari kerja, yang dalam surat lamarannya membuat kalimat ajaib yang sangat diplomatis.

Contoh; Sehubungan dengan adanya pengumuman lowongan pekerjaan yang ada di perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin, maka saya bermaksud mengajukan lamaran sebagai karyawan.

Pernah suatu kali, saya mencoba memanggil orang yang surat lamarannya mengandung kalimat di atas. Ketika saya menanyakan, “Posisi pekerjaan yang kamu sukai apa?” Muncullah salah satu jawaban aneh yang pernah saya dengar, “Posisi apapun yang ada, pak.”

Mengenal Keinginan Hati

Kasus kedua adalah mengenai ‘hati’. Ada banyak anak-anak muda kita yang mengajukan lamaran kerja ke perusahaan yang tidak mencerminkan keinginan hatinya.

Pernah suatu kali ada seorang anak, lulusan S1 jurusan Teknik Informatika dari sebuah Perguruan Tinggi Swasta memasukkan lamaran sebagai sales. Ketika itu saya mencoba untuk mengetahui lebih dalam akan apa yang sebenarnya menjadi cita-cita dari si pelamar kerja ini.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, saya pun mulai bertanya, “Sebenarnya apa cita-cita Anda?” Lalu ia menjawab, “Sebenarnya saya ingin jadi guru, pak.”

Memahami Kemauan Orang Terdekat

Orang terdekat yang dimaksud di sini seperti orang tua, teman-teman dekat, mungkin pacar, atau yang lainnya yang cukup bisa mempengaruhi kita dalam mengambil setiap keputusan yang ada dalam hidup kita.

Poin ini adalah poin terakhir namun yang terpenting yang ingin saya bahas. Poin ini dapat memberikan pengaruh positif ataupun negatif untuk hidup kita ke depannya.

Lanjut dari contoh yang ada di poin kedua, saya bertanya, “Lalu kenapa nggak jadi guru matematika, atau guru komputer saja? Kan orang Teknik Informatika pasti bisa matematika.”

Dia pun menjawab, “Sebenarnya pak, saya juga nggak suka matematika dan komputer, saya ambil jurusan itu karena disuruh orang tua saya pak.”

Pada umumnya, keinginan orang tua kepada anak-anaknya bertujuan untuk menjadikan anaknya menjadi orang yang baik. Namun, orang tua pasti bisa diajak berdiskusi atau bertukar pikiran sehingga kemauan orang tua dan anak bisa bertemu.

Adanya diskusi di antara orang tua dan anak akan mencegah habisnya uang kuliah yang menghasilkan ijazah Teknik Informatika dan berakhir dengan digunakan untuk melamar sebagai sales.

Ada banyak hal yang menjadi faktor pendukung setiap orang dalam hal menemukan sebuah pekerjaan. Hal-hal tersebut harus dipertimbangkan sematang mungkin sehingga nantinya kita tidak menghabiskan waktu hidup kita untuk mengerjakan hal-hal yang sangat jauh dari cita-cita kita dan hanya menghasilkan penyesalan.

Seseorang pernah berkata pada saya, “Lebih baik mengerjakan apa yang dicintai, daripada mencintai apa yang dikerjakan saat ini.”

SHARE
Previous articleSitara Tilo Act.
Next articleKisah Indonesiaku
Sebastian Marpaung
Sebastiang Marpaung, profesional muda yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan ternama di Kota Medan.